Konspirasi Penyadapan di Pemindai Sidik Jari iPhone 5S?

Suka artikel ini, bagikan:

Neomisteri – Apple telah memperkenalkan iPhone 5S sebagai produk unggulan baru untuk menguasai pasar smartphone. Hadir dengan desain khas yang kini dilengkapi warna emas, Apple melengkapi iPhone 5S dengan sejumlah fitur canggih baru. Salah satu fitur canggih itu adalah pemindai sidik jari.

Apple menamakan pemindai sidik jarinya “Touch ID”. Dilansir dari Engadget, sensor sidik jari dengan ketebalan 170 micron itu mampu memindai dengan resolusi 550 piksel per inci hingga ke lapisan kulit. Sensor disematkan di tombol Home, sehingga pengguna diizinkan masuk setelah ‘dikenal’ secara biometris. Selain untuk fungsi keamanan, Touch ID juga sekaligus berfungsi sebagai identifikasi saat ingin melakukan pengunduhan di App Store atau iTunes Store.

Tapi tentu saja pemindai sidik jari ini tak hanya disambut dengan decak kagum akan kecanggihannya. Ada pula kekhawatiran kalau Apple berusaha melakukan “pengumpulan sidik jari” yang bisa saja dimanfaatkan oleh pihak intelijen Amerika Serikat. Kekhawatiran ini memang muncul setelah terungkapnya aksi penyadapan yang dilakukan oleh National Security Agency (NSA), dan dibocorkan oleh Edward Snowden, eks pegawai NSA yang juga pernah menjadi asisten teknis di Badan Intelijen Amerika Serikat (CIA).

Dalam bocoran yang awalnya diungkap ke dua media terkemuka The Guardian dan Washington Post, Snowden menyebut adanya upaya penyadapan dalam program bernama PRISMA. Dalam program itu NSA bisa mengakses sembilan server milik perusahaan teknologi terkenal. Apple menjadi salah satu perusahaan yang disebut terlibat. Selain Apple juga ada nama Google, Microsoft, Facebook, Skype, dan Yahoo.

Dengan akses yang dimiliki, maka NSA bisa mendapatkan informasi berupa audio, video, foto, email, dokumen, dan dafar komunikasi di ponsel. Tak hanya itu, The Guardian bahkan memberitakan NSA memiliki alat penyadapan bernama XKeyscore. Alat ini adalah interface terpusat untuk mengakses email, percakapan di Facebook, history penelusuran web pada browser, dan banyak aktivitas digital lain.

Pengguna Xkeyscore juga bisa melakukan pencarian untuk menemukan orang tertentu dengan kode pencarian seperti alamat email, nama, nomor ponsel, tipe browser, bahasa yang digunakan, alamat IP atau kata kunci spesifik lain. NSA membantah adanya penyimpangan penggunaan. NSA bahkan mengklaim berhasil menangkap 300 teroris dari penyadapan ini.

Touch ID Jadi Alat Identifikasi?

NSA bisa saja beralasan melakukan penyadapan demi keamanan dalam negeri AS. Tapi penyadapan ini merupakan pelanggaran privasi yang maha-dahsyat.

Dalam bahasa sederhana, NSA bisa mengetahui aktivitas yang kita lakukan di smartphone, entah itu berbasis Android buatan Google, iOS buatan Apple, atau Windows Phone 8 buatan Microsoft. NSA bisa ikutan membaca email kita di akun Gmail, Hotmail, Live, atau Yahoo. NSA bisa tahu siapa yang terakhir menelpon atau mengirim SMS, atau sebaliknya.

Lalu bagaimana dengan Touch ID? Apple banyak dituduh melakukan pengumpulan data sidik jari pengguna dengan teknologi ini. Tapi tentu ada dugaan lain: Sensor ini akan digunakan sebagai identifikasi. Seperti apa?

Selama ini keberadaan seseorang memang bisa dilacak berkat adanya GPS di perangkat, apalagi setelah akses lokasi diaktifkan pengguna. Tentu akan mudah untuk mencari keberadaan Fulan bin Polan misalnya. Tapi butuh alat untuk memastikan bahwa memang Fulan bin Polan ada di tempat itu. Nah, tentu sidik jari bisa menjadi alat identifikasi yang valid.

Jadi saat Fulan melekatkan sidik jarinya ke Touch ID, sensor ini tak hanya mengaktifkan sistem operasi di perangkat. Bisa jadi Fulan malah memberikan informasi valid mengenai lokasi dia berada. Valid berkat sidik jari yang ikut dilekatkan, yang tentu saja tak bisa ‘dipinjam’ orang lain.

Bantahan Apple

Tapi Apple membantah menggunakan Touch ID untuk tujuan selain memperkaya pengalaman pengguna (user experience). Dilansir dari The Guardian, Apple membantah sejumlah rumor mengenai pemanfaatan Touch ID.

Pertama, Apple mengaku tak sedang mengumpulkan data base sidik jari pengguna. Pengguna tak perlu mendaftarkan sidik jari jika tidak berkenan. Touch ID juga hanya menyimpan kriptografi yang merupakan representasi matematis untuk fungsi hash yang ada di pola sidik jari. Jadi saat ini mustahil mengembalikan cryptographic hash untuk menghasilkan faksimil (cetakan) dari sidik jari asli.

Kedua, Apple mengaku data yang dihasilkan Touch ID tersimpan secara aman dan dienkripsi di Chip A7 yang dibenamkan di dalam ponsel. Tentu sulit untuk mendapatkan data kecuali menyita perangkatnya secara fisik.

Beberapa waktu lalu, kelompok hacker Jerman bernama Chaos Computing Club memang sukses menjebol sistem keamanan Touch ID dengan ‘mengangkat’ sidik jari dari permukaan kaca, lalu ‘digandakan’ dengan resolusi tinggi untuk menipu sistem biometris di iPhone 5S. Tapi yang dilakukan CCC hanya mampu memanfaatkan sidik jari yang tersisa untuk masuk ke sistem. CCC masih mendapatkan sidik jari secara sempurna untuk kepentingan lain.

Ketiga, NSA sudah memiliki data sidik jari warga negara AS saat bikin Surat Izin Mengemudi atau warga negara asing yang melewati sistem imigrasi AS.

Tapi semua bantahan Apple hanya terkait pengumpulan data sidik jari. Untuk pemanfaatan data, Apple hanya mengatakan “sidik jari itu tersimpan di perangkat” dan tak diberikan ke NSA atau instansi lain yang dilakukan secara ilegal dan melanggar Undang-undang di AS. Tentu bantahan ini lebih aman ketimbang menanggapi rumor yang bisa menghancurkan penjualan iPhone 5S di pasaran.

Apple tentu tak perlu khawatir. Sebab vendor lain juga sudah merancang memperkenalkan smartphone baru lengkap dengan pemindai sidik jari. Salah satunya adalah HTC di smartphone HTC One Max. Jika semua perangkat sudah dilengkapi sidik jari, tentu bukan hanya iPhone 5S yang dituduh sebagai perangkat untuk mengumpulkan data sidik jari penggunanya.

Bisa jadi teknologi ini malah digunakan semua perangkat. Ini berarti semua pengguna smartphone tak hanya mudah dilacak keberadaannya, tapi juga validitas keberadaannya. Tentu ini seperti yang ditulis George Orwell di novel 1984. Di novel itu, Orwell berkisah tentang penyadapan terhadap semua warga di negeri Oceania yang dilakukan Big Brother sebagai otoritas berwenang.

Ironis. Sebab Apple pernah menghadirkan iklan bertajuk 1984 untuk mempromosikan komputer Macintosh. Di iklan besutan Ridley Scott itu, terlihat seorang atlet perempuan yang menghancurkan layar yang menjadi representasi Big Brother.  Jika Apple memang terlibat penyadapan, tentu ini berbeda dengan visi Apple yang ingin menghadirkan Personal Computer sebagai bentuk personalisasi teknologi dan bukan sekedar mesin, apalagi digunakan untuk penyadapan. Tentu sangat disayangkan jika Apple malah menciptakan “Big Brother” masa kini.

Artikel Menarik Lainnya

Parade Peramal di Piala Dunia Neomisteri - Dunia ramal meramal selalu digemari sepanjang sejarah manusia. Sebab ramalan berupaya mengungkap sesuatu peristiwa yang belum terjadi. Ba...
Peruntungan 3 Capres di Pilpres Tahun Kuda Kayu 20... Neomisteri - Berdasarkan penanggalan Tionghoa, mulai tanggal 31 Januari 2014 kita memasuki Tahun Baru China Imlek ke 2565. Berdasarkan kalender Tiongh...
VIDEO: Tersesat di Dunia Arwah Neomisteri - Insidious dianggap menjadi film horor terbaik di tahun 2011. Film yang dirilis pada 1 April 2011 ini ditulis oleh Leigh Whannell dan disu...
6 Kutukan Batu Permata Paling Terkenal di Dunia Neomisteri - Sejak lama, berbagai jenis batu permata menjadi koleksi dan perhiasan bagi banyak orang. Itu tidak terlepas dari aneka ragam keindahan ya...
Ini Alasan Aroma Air Hujan yang Menyegarkan Neomisteri - "Walau bikin banyak genangan air, ane suka bau tanah saat dibasahi air hujan. Menyegarkan," celoteh Chaerul mengomentari hujan yang dalam...

One comment

  1. kecanggihan mesin yang diciptakan manusia hanyalah bekerja berdasarkan perintah2 yang telah dibuat oleh manusia yang kemudian ditanamkan pada sebuah mesin, dan kecanggihannya hanya itu2 saja, beda dengan manusia ketika dirinya merasa bahaya maka menjauh dari bahaya..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *