Abang Ojek Online Dijahili Hantu Wanita saat Tengah Malam

“Mbak, ini titiknya sudah benar yah? kok enggak ada rumah, mbak? Atau salah tadi input titiknya?” tanya mas Tegar. Enggak ada jawaban dari belakang mas Tegar. “Mbak… Mbak… Mbak…,” mas Tegar memanggilnya lagi sambil menengok ke belakang. “Astaghfirullahal’azim,” seru mas Tegar!!!

 

Neomisteri – Ini cerita dari mas ojol (ojek online) yang berdomisili di Yogyakarta bagian Sleman. Sebut saja mas Tegar (nama samaran). Saya ceritakan secara singkat aja yah biar enggak kepanjangan. Jadi dulu sebelum puasa, ini kejadian di alami oleh mas Tegar.

Kebetulan mas Tegar posisinya lagi di daerah Setu**n. Biasa, karena kecapekan dia istirahat sejenak di angkringan bersama teman-teman seprofesi. Sekitar pukul 23.00 WIB, mas Tegar pesan kopi kepada bapak-bapak yang jualan di angkringan tersebut.

Saling bercengkrama dengan teman-temanya menanyakan hasil orderan hari ini. Kebetulan mas Tegar kurang sedikit lagi dapet Berlian yang istilahnya Tutup Poin.

Bla… Bla… Bla… Ngalor ngidul cerita ini-itu.
Tak terasa 30 menit berlalu. Mas Tegar menghidupkan aplikasi Ojek Online yang tadinya “OFF” menjadi “ON” kembali. Selang beberapa menit, HP mas Tegar berbunyi.

“Titit… Titit… Titit… ”

Ternyata… Orderan masuk di aplikasi mas Tegar.
Dilihatnya nama yang order tersebut. “MB Nur” … Iya, nama tersebut keluar dari mulut mas Tegar.

Titik jemput tidak terlalu jauh dari mas tegar istirahat.

“Pak, pinten niki kopi kalian gorengan setunggal (pak, berapa ini kopi sama gorengan satu)?” Tanya mas Tegar kepada Bapak penjual angkringan.

“Papat setengah mas (empat ribu lima ratus, mas),” jawab bapak tersebut.

“Jam yahene entuk orderan nendi mas (Jam segini dapat orderan di mana mas)?” tanya teman mas Tegar.

“Oh… Iki jemput neng mburi kono ngeterke neng mejing lor gamping (Oh… Ini jemput di belakang situ nganter ke desa Mejing lor Gamping)!!” jawab mas Tegar.

“Weh… Kok adoh men, tarife piro mas kui? Lanang po wedok (Weh… kok jauh banget, tarif berapa mas? Cowok apa cewek)?” tanya teman mas Tegar lagi.

“Pitulikur ewu mas, iki wedok jenenge mbak Nur (27 ribu mas, ini cewek namanya mbak Nur),” jawab mas Tegar.

“Yowes mas aku tak disikan ya? Monggo monggo mas (Ya udah mas saya duluan ya, mari mari mas),” sapa mas Tegar kepada semua orang yang di angkringan.

Mas Tegar langsung melaju ke titik penjemputan yang kebetulan tidak jauh dengan posisi mas Tegar saat itu.

Sesampainya di titik penjemputan, mas Tegar melihat ada perempuan yang sudah memakai helm sendiri dengan kepala menunduk. Disamperin sama mas Tegar.

“Malam mbak? Mbak Nur yah?” tanya mas Tegar.

“Iya mas,” jawab mbaknya tersebut.

“Ini mas saya bayar sekalian 30 ribu,”

“Oh iya mbak ini kembaliannya,” jawab mas Tegar.

“Ambil aja mas,” kata mbak Nur.

“Waduh… Makasih mbak. Mari mbak,” ajak mas Tegar.

Mbak Nur pun langsung bonceng.

Mas tegar berinisiatif lewat ring road agar cepat sampai ke lokasi pengantaran.

Di tengah jalan, mas Tegar membuka obrolan. “Mbak pulang kerja atau dari main? Kok sendirian tadi nunggunya?” tanya mas Tegar.

“Iya mas dari main,” Jawab mbak Nur.

Enggak ada rasa curiga dari benak mas Tegar karena memang sudah kebiasaannya. Agar tidak menganggu penumpang, mas Tegar tidak membuka obrolan lagi.

Setelah sudah akan sampai ke titik pengantaran, mas Tegar menanyakan titiknya sudah benar apa tidak.

“Mbak, ini titiknya sudah benar yah? kok enggak ada rumah mbak? Atau salah tadi input titiknya?” tanya mas Tegar.

Enggak ada jawaban dari belakang mas Tegar!!!

“Mbak… Mbak… Mbak…,” mas Tegar memanggilnya lagi. sambil menengok ke belakang.

“Astaghfirullahal’azim,” seru mas Tegar.

Kemudian mas Tegar berhenti, memastikan lagi dan bertanya kepada dirinya sendiri.

“Perasaan tadi saya belum berhenti buat nurunin mbaknya. Tapi kok mbaknya enggak ada,” gumamnya sambil nyubit tangan sendiri. “Aduuhh… Aku ora ngimpi iki. Mbake nendi iki mau! Astaghfirullahalazim,” gumamnya lagi.

Seketika itu, mas Tegar berhenti pas di titik pengantaran. “Allahu Akbar.” Ternyata di sebelah mas Tegar terlihat sebuah pemakaman.

Sontak mas Tegar kaget. Belum sempat mematikan aplikasinya, mas Tegar buru-buru meninggalkan tempat tersebut dan berharap tidak ada kejadian aneh lagi.

Setelah sudah sampai di tempat ramai, mas Tegar menelpon temannya. “Mas, lagi nendi (Mas, lagi di mana)?” tanya mas tegar.

“Iki lagi neng CK Jombl*r mas, pie (Ini baru di CK Jomblo*r, kenapa)?” jawab sang teman.

“Oke aku OTW ndono (Oke aku OTW ke sana)!!” sahut mas Tegar.

Setelah sampai di CK, mas Tegar dengan gemetar bercerita kepada temanya.

“Aku mau bar ngeterke wong wedok neng mejing seko seturan. Tapi pas tekan titik pengantaran, uwonge kui raono! Wes ra eneng meng mburiku (Aku tadi habis nganter cewek ke Mejing dari Seturan. Tapi setelah sampai di titik pengantaran, orangnya sudah enggak ada, udah enggak ada di belakangku),” kata mas Tegar.

“Ra mungkin, halu paling koe mas (Enggaak mungkin, halusinasi paling kamu, mas),” kata temannya sedikit tidak percaya.

“Ra mungkin pie, iki aku nyoto aku ra ngimpi! Iki lho orderan durung tak rampungke, wes keweden sik ra gagas orderan tak rampungke, duite yo iseh iki lho (Enggak mungkin gimana, ini beneran aku enggak ngimpi!! Ini lho orderan belum tak selesaikan, udah keburu takut enggak mikir orderan selesai. Uangnya juga masih ada, ini lho),” kata mas Tegar.

“Yowes yowes… Mas tenang sik, iki ngombe sik ben ra tenang (Yaudah yaudah… Mas tenang dulu, ini minum dulu biar tenang),” saut temannya.

“Yoweslah aku tak balik wae, aku terno tekan Tempel yo mas, ijeh wedi aku (Yaudah aku pulang aja, aku dianter sampe Tempel ya mas, masih takut aku)!!” pinta mas Tegar.

“Yo mas tak terke, sesuk meneh le mbotgawe (Iya mas aku anter, besok lagi kerjanya),” jawab temannya.

Dan sampai sekarang uang itu sama mas Tegar masih disimpan. Katanya buat bukti kalo memang dia pernah di jailin makhluk tak kasat mata. Dan berubah jadi bunga layu.

Itu sepenggal cerita dari bang ojol yang akhir-akhir ini banyak gangguan dari makhluk lain.

Sebenarnya, mas Tegar dijailin enggak hanya ini aja, masih ada cerita lagi. Tapi beliau tidak mau cerita, katanya gak mau mengingat-ingat lagi….

 

—————–
sumber: @tyasnitinegoro

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *