Ajian Memadamkan Orang Marah

Bertubuh biasa, tidak tinggi, dan humoris. Namun hampir semua orang segan karena ia selalu berhasil memadamkan emosi orang yang sedang marah besar sampai yang mengamuk ….
oleh: Indrayitna

 

Neomisteri – Joko (26 tahun), demikian sapaan lelaki humoris yang dikenal sangat piawai terutama dalam hal masak memasak. Tak heran, ia menjabat sebagai kepala koki atau juru masak di kapal penangkap ikan yang berbendera Jepang itu.

Sebagaimana lazimnya semangat orang-orang Jepang dalam bekerja, boleh dikata, semua kegiatan diatur dengan demikian ketat. Oleh karena itu, tak ada kesempatan untuk beristirahat jika belum waktunya. Alhasil, yang pernah bekerja di perusahaan Jepang akan mengakui bahwa manajemen waktu terbaik hanya terdapat pada orang-orang Jepang.

Yang paling menarik adalah, mereka akan menghabiskan waktu istirahatnya dengan minum sake (minuman khas Jepang) sambil berbincang tentang apa yang tadi dikerjakan atau keberhasilan mereka dalam mengerjakan sesuatu dan langsung kembali bekerja dengan serius dan fokus jika waktu istirahat telah habis.

Waktu yang paling ditunggu-tunggu adalah ketika kapal sandar di pelabuhan. Selain bongkar muatan atau ada perbaikan ringan kapal dan peralatannya. Pasalnya, dapat memakan waktu beberapa hari.

Tanpa berlama-lama, secara bergantian, para ABK menghabiskan waktu di darat untuk bersenang-senang. Ada yang jalan-jalan keliling kota, minum sambil berjudi, namun ada pula yang menghabiskan waktu bersenang-senang dengan kekasih gelap masing-masing.

Saat itu, Joko lebih banyak menghabiskan waktunya di kamar atau memancing. Ketika beberapa temannya menanyakan kenapa ia berlaku seperti itu, Joko hanya menjawab; “Saya memang tidak senang jalan-jalan, minum atau berjudi. Maklum, lagi betulin rumah di kampung.”

Beberapa teman maklum, Joko tak pernah berani melanggar larangan Allah. Apalagi, semua ABK tahu, bahkan pernah melihat betapa Joko memiliki kemampuan linuwih terutama meluruhkan amarah orang. Seperti kejadian seminggu sebelum kapal sandar.

Akibat minum dan berjudi di atas kapal waktu jam istirahat, Ngo yang berasal dari Thailand dan Heru asal Indonesia hampir saja saling tikam. Beruntung, Joko yang ada di tempat kejadian langsung datang dan memeluk keduanya.

loading...

Ajaib… Ngo yang hampir saja mengayunkan parang dan Heru yang sudah tersudut di pojok ruangan, tak berkutik dan langsung saling meminta maaf atas kekhilafan masing-masing. Tak ada seorang pun di antara mereka yang menerangjelaskan duduk perkaranya, kecuali hanya berangkulan dengan erat dan setelah itu suasana pun kembali seperti semula. Ceria walau sambil bekerja.

Peristiwa seperti itu bukan yang pertama. Boleh dikata, sejak Joko menjadi koki, tiap ada perkelahian antar ABK baik di kapal maupun ketika kapal sandar, ia selalu berhasil memadamkan amarah mereka yang tengah berseteru.

Itulah sebabnya, mulai kapten, mualim, juru mesin dan para ABK, semua merasa segan dengan Joko ….

Lewat seorang teman, neomisteri berhasil dikenalkan pada Joko saat ia pulang ke kampung halamannya di Pekalongan. Setelah sejenak berbasa-basi, neomisteri berusaha menelisik ajian yang digunakan oleh Joko dalam memadamkan amarah orang. Mulanya Joko berkelit. Ia mengatakan semua itu hanya kebetulan dan kebesaran Allah semata.

“Harapan saya selain ilmu itu tidak punah, juga punya kemaslahatan untuk orang banyak,” kata neomisteri dengan nada putus asa.

Tampaknya Joko tergelitik dengan kata-kata neomisteri. Akhirnya, setelah terdiam beberapa saat, ia pun berkata; “Selama empat puluh satu hari, tiap tengah malam, amalan ini harus dibaca dengan khusyuk sebanyak sembilan kali sambil tahan napas di luar rumah atau di alam terbuka. Tidak di bawah sesuatu buatan manusia. Misalnya atap.”

“Kalau pepohonan?” Potong neomisteri.

“Boleh,” jawabnya.

Adapun mantra atau amalannya adalah:

Bismillahhirrahmanirrakim,
Aku sindhung sèwu kaliwungan,
Aku anèng lawangku, ing rat baniyah,
Sipat rahmaniyah miber liwung binekta ratu wisésa,
Wuluku Jabarail, Mingkail, Israpil, Ngijrail,
Améncokmabur binekta ing widadari,
Kinemulan tapihé, klambi ontakusuma,
Lailahaillallah.

“Menurut guru saya,” lanjut Joko, “karena ini ilmu warisan dari Kanjeng Sunan Kalijaga, maka, kita tidak boleh melanggar pelbagai larangan agama dan negara di mana kita tinggal,” pungkasnya.

Neomisteri pun tersenyum. Setelah dirasa cukup, neomisteri pun pamit undur diri bersamaan dengan rembang petang dan kembali menelisik pelbagai ilmu-ilmu warisan leluhur Nusantara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *