Ajian Pembungkam

Khazanah budaya spiritual Nusantara peninggalan nenek moyang ternyata tak lekang dimakan zaman, sampai sekarang, diam-diam ternyata masih banyak yang mengamalkannya ….
oleh: Priyo Utomo

 

Neomisteri – Tak ada yang dapat menepis, Jakarta, adalah merupakan miniatur Indonesia. Beragam suku serta agama berbaur menyatu di kota yang menjanjikan sejuta impian — ada yang sengaja datang untuk belajar, namun tak jarang ada pula yang datang untuk mengubah nasib.

Keberagaman suku, sudah barang tentu membuat siapa pun yang berkumpul menjadi kaya dengan pengetahuan dan pengalaman, mulai bahasa, adat istiadat, sampai dengan kuliner. Dari sekian banyak keberagaman, neomisteri mencoba menelisik budaya spiritual yang kadang menjadi cerita yang hangat jika kita sedang berkumpul di malam-malam liburan.

Baca Juga: Zikir Pelunas Utang

Malam ini, neomisteri beruntung dapat berbincang hangat dengan Abang Firdaus (37 tahun) lelaki asal Palembang yang sudah sekitar tiga tahun berkumpul bersama di salah satu sudut kampung di pinggiran Jakarta Utara. Jika diperhatikan, Abang Fir, demikian sapaan akrab lelaki yang sehari-hari bekerja sebagai mekanik mesin kapal nelayan adalah salah satu sosok yang disegani baik oleh teman atau orang yang mengenalnya.

Boleh dibilang, di lingkungan rumah dan tempatnya bekerja, hampir semuanya segan terhadap Bang Firdaus. Oleh sebab itu, jika malam-malam libur, hanya neomisteri serta Bang Hisyam (35 tahun) dan Ferry (23 tahun) yang mau menemani. Hal itu sudah berjalan selama neomisteri tinggal di sana.

Baca Juga: Berkat Mengamalkan Ayat Ini, Dagangan Selalu Laris Manis

Biasanya, kami menghabiskan waktu dengan main gaple atau berbincang pelbagai hal tentang kehidupan. Dan baru masuk ke rumah masing-masing jika lewat tengah malam.

Malam itu, Ferry bercerita ada kejadian aneh di kantornya. Empat orang Debt Collector berwajah garang yang datang untuk menarik motor milik salah seorang tenaga marketing yang kebetulan menunggak hampir empat bulan, dibuat menunduk dan hanya mengangguk-anggukan kepala bahkan meminta maaf pada Pak Johan. Security senior yang bertugas di kantornya.

Bang Hisyam langsung saja berkomentar dengan dialek Betawi yang kental; “Biasanye ntu orang pake elmu pembungkeman”.

Baca Juga: Terungkap, Amalan Rahasia Pemilik Rumah yang Tetap Kokoh Diterjang Erupsi Semeru

Ia pun menceritakan bahwa ilmu pembungkaman banyak dikuasai oleh mereka yang bertugas sebagai tenaga pemasaran. Tujuannya agar calon pembeli enggan bertanya macam-macam dan langsung membeli barang yang ditawarkan.

“Ih … ternyata, ilmu-ilmu batin kayak begitu juga diperlukan di abad modern seperti sekarang ini”, ujar Ferry sambil menggeleng-gelengkan kepala seolah tak yakin dengan apa yang baru saja didengarnya.

Neomisteri hanya diam sambil berdoa semoga pembicaraan ini jadi hangat sehingga dapat dijadikan sebagai bahan tulisan. Sesaat suasana pun hening, Bang Fir mengambil rokok dan langsung menyulutnya ….

Ajian Pembungkam

“Di kampung Abang masih banyak yang memakai atau mengamalkan Ilmu Pembungkaman, biasanya, ilmu tersebut digabung dengan Ilmu Penunduk”, katanya menjelaskan, “ada yang diucapkan dengan bahasa daerah, tapi, banyak juga yang menggunakan ayat-ayat Al Qur’an”, imbuhnya serius.

“Wah lanjut Bang … biar tambah seru”, ujar neomisteri menimpali.

Baca Juga: Amalan Hidup Tenang dan Penderas Rezeki

Bang Fir hanya tersenyum. Kembali lelaki gondrong itu membenarkan letak rambutnya dan menghisap rokoknya dalam-dalam lalu berkata; “Abang pernah mendengar dari Almarhum Paman tentang ilmu pembungkam dari Suku Ogan yang menggunakan bahasa Melayu. Pengamalnya harus menjalankan puasa dengan berpantang menyantap segala sesuatu yang berjiwa selama dua puluh satu hari”.

“Selanjutnya, tiap tengah malam, si pengamal harus membaca mantranya di luar rumah yang tidak tertutup suatu apapun sebanyak sembilan kali sambil tahan napas”, imbuhnya, “nah kemudian, ketika berhadapan dengan lawan, cukup dibaca tiga kali sambil tahan napas dan menjejakkan kaki kanan ke tanah juga sebanyak tiga kali”, katanya menambahkan.

Adapun mantranya adalah sebagai berikut;

“Kun fayakun,
Gajah belinggang didadeku,
Tedung beketip dilidahku,
Macan senggeram dimukeku,
La ilaha ilalah Muhammad Rosulullah”.

“Ada juga yang pakai ayat Al Qur’an”, ungkapnya lagi, “ayat diamalkan tiap usai mendirikan salat fardu sebanyak dua puluh tiga kali. Ketika berhadapan dengan lawan cukup baca tujuh kali dengan tahan napas sambil menepuk bahu orang tersebut”, pungkasnya.

Adapun ayatnya adalah:

“Iyyaaka na’budu wa iyyaaka nasta’iin”

“Nah … cukup sampai di sini ya. Kalau ketemu besok giliran Bang Ferry, biar kita tahu dan mengenal budaya spiritual di Indonesia”, kata Bang Firdaus sambil berdiri, “janji ya …”, tambahnya sambil berjalan dan kami pun kembali ke rumah masing-masing.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Mengenal Lebih Dekat Ajian Brajamusti

Neomisteri - Ajian Brajamusti merupakan salah satu ajian kanuragan yang biasa digunakan para leluhur terdahulu untuk melumpuhkan lawan ketika berperang. Brajamusti dianggap ajian pamungkas...

Pengasihan Tepuk Bantal

Belakangan, ketika tidur, Nining selalu bermimpi bertemu dengan Toro di suatu tempat makan di mal untuk menikmati hidangan kesukaan masing-masing dan menghabiskan waktu .... oleh:...

Ajian Kalalanangan

Amalan Seribu Dinar

Artikel Terpopuler