Alasan Medis di Balik Keanehan Pendaki yang Tewas di Gunung Lawu

Inilah Paradoxical Undressing. Korban bakal melepas pakaiannya dan bertingkah aneh, khas pasien delirium. Itulah kenapa kebanyakan korban meninggal karena hipotermia, ditemukan dalam keadaan setengah telanjang.

 

Neomisteri – Masih ingat pendaki Gunung Lawu yang beberapa hari lalu ditemukan meninggal di area Gegerboyo? Ayo kita ambil hikmah dari peristiwa ini dan belajar “Kenapa hipotermia parah bisa memicu Paradoxical Undressing?”

Dia kedinginan hebat, tapi kok justru merasa kepanasan sampai buka baju ya? Bukankah makin berbahaya? Itulah paradoksnya.

Definisinya jelas, semua orang pasti tau apa itu hipotermia. Tapi, tidak banyak yang paham mengenai klasifikasi hipotermia.

Baca: Merinding, Kisah Aneh Tewasnya Pendaki di Gunung Lawu

Pengetahuan mengenai klasifikasi tersebut penting untuk diketahui, karena pertolongannya bakal berbeda.

WHO mengklasifikasikan derajat hipotermia menjadi tiga: Hipotermia ringan (36,5-36,0 °C), Hipotermia sedang (35,9-32 °C), Hipotermia berat (<32 °C)

Pertolongan pertama hipotermia untuk masing-masing derajat akan dibahas pada pembahasan terpisah. Kita akan fokus pada paradoksnya saja kali ini.

Tubuh kita dibekali oleh peralatan canggih yang kompleks, yaitu hipotalamus. Begitu suhu inti tubuh mengalami penurunan, hipotalamus sebagai pusat pengontrol keseimbangan suhu bakal aktif.

“Lah ada apa ini kok tiba-tiba suhu tubuh turun drastis?” Ia pun memerintahkan otot untuk bergetar.

“Kenapa bang?” tanya otot rangka bingung disuruh gerak oleh Hipotalamus.

“Pokoknya lu gerak aja cepet biar metabolisme sel-mu ke-boost!”

Dari sini orang yang kedinginan bakal menggigil.

Peningkatan kerja otot akan menghasilkan energi dalam bentuk panas. Ini cara tubuh menyeimbangkan panas pada tahap awal.

Baca: Metode Kirlian, Klenik yang Dibungkus Sains

Akan tetapi, kalau cara ini masih belum bisa menyeimbangkan suhu tubuh. Hipotalamus (HP) masih punya cara lain.

“Komandan, bisa enggak bantu saya tarik darah jauh-jauh dari kulit?” pinta HP ke sistem saraf otonom yang ngatur fungsi kardiovaskular.

Otak langsung menyetujui, karena panas bakal cepet hilangnya kalau darah deket-deket sama kulit. Masih ingat fungsi darah sebagai pengedar panas tubuh kan?

Akhirnya, darah banyak ditarik dari kulit. Penderita mulai tampak pucat dan tangannya mulai teraba sangat dingin.

Selanjutnya, darah akan difokuskan untuk mengaliri organ-organ vital saja, seperti otak, jantung, paru, ginjal, dsb.

Sementara darah banyak ditarik mundur dari kulit, perifer, dan ekstremitas (tangan dan tungkai), otot mulai kehilangan tenaga untuk terus menggigil dan bergetar. Itu karena suplai oksigen dan energi yang dibutuhkan mulai menurun drastis.

Pada tahap berat, otot akan berhenti menggigil.

Jika penurunan suhu terus terjadi, tubuh akan kehilangan kemampuannya untuk menyeimbangkan suhu tubuh. Suplai energi yang penderita miliki perlahan menipis. Organ-organ vital mulai lelah. Otak harus membuat keputusan sulit.

Baca: Ini yang Akan Terjadi jika Anda Puasa Bicara Selama Setahun

“Kita harus memilih satu hingga dua organ vital dari seluruh organ vital yang ada utk diprioritaskan kebutuhan energinya,” kata otak secara diplomatis.

Hipotalamus memahami itu sambil mendesah cemas. Toh mereka sudah enggak punya pilihan lagi.

Otak dan jantunglah yang dipilih, sementara organ lain mulai mengalami kegagalan fungsi.

Berbagai cara dilakukan oleh mereka berdua sampai seluruh otot rangka menyerah untuk bertahan. Penderita tak lagi menggigil.

Pada tingkat lanjut, otak kehilangan fungsinya. Halusinasi terjadi.

Kini sebagian fungsi otak tidak dapat diajak berkoordinasi. Tinggallah hipotalamus “seorang diri” yang berjuang. “Aku tidak punya pilihan lain.”

Senjata pamungkas pun dikeluarkan. Bersamaan dengan sisa-sisa tenaga yang dimiliki otak, mereka memaksa seluruh pembuluh darah untuk melebarkan diri.

Proses ini dikenal sebagai Vasodilatasi, yang sebenarnya kontradiktif dengan tindakan mereka pada awal-awal hipotermia.

Vasodilatasi menjadikan diameter pembuluh darah melebar sehingga volume darah meningkat. Darah dialirkan kembali ke seluruh tubuh, termasuk esktremitas. More blood, more heat.

Alasan inilah yang membuat penderita hipotermia berat mengalami sensasi yang disebut sebagai “Hot Flush” atau semburan panas. Sebuah sensasi paradoks yang menjadikan korban merasa kepanasan, padahal lagi hipotermia berat.

Sudah otak enggak sinkron, kerja tubuh menurun, halusinasi, kepanasan pula. Serangkaian manifestasi kompleks yang dialami oleh korban tersebut memicu perilaku aneh yang di luar akal sehat.

Inilah Paradoxical Undressing. Korban bakal melepas pakaiannya dan bertingkah aneh, khas pasien delirium.

Alih-alih sensasi panas berkurang, hipotalamus justru menjadi terkaget-kaget. “Lah anjir kenapa malah buka baju???” gitu kata hipotalamus

Kalau sudah berada pada tahap ini, peluang survive/bertahan hidup bagi korban akan sangat kecil. Itulah kenapa kebanyakan korban meninggal karena hipotermia, ditemukan dalam keadaan setengah telanjang.

 

 

——————————————————————–

sumber: @afrkml

 

Baca juga:
Hara Hachi Bu, Rahasia Panjang Umur Penduduk Okinawa yang Mirip Ajaran Nabi
Ini Alasan Ilmiah di Balik Aroma Air Hujan yang Menyegarkan
Tragedi Karoshi di Jepang

2 comments

  1. wah mantap…baru tau saya ini, penjelasan mengenai hipotermia menjawab pertanyaan saya mengapa banyak pendaki yang buka baju saat jenazahnya di temukan….ilmu baru buat saya yang awam masalah pendakian gunung dan hanya sekedar ikut2an….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *