Aman Dimot, Singa Kebal Peluru dari Aceh

Lebih baik mati berkalang tanah daripada hidup menanggung malu. Demikian kata pepatah yang diterjemahkan menjadi semangat pantang menyerah oleh para pejuang yang rela berkorban demi merebut dan mempertahankan kemerdekaan Republik Indonesia ….
Oleh: Arya Dewangga

 

Neomisteri – Gagalnya perjanjian Renville berujung pada Agresi Militer Belanda kedua.

Waktu itu, seluruh daerah bersiap siaga untuk menghadapi serangan yang bakal dilancarkan oleh pihak Belanda yang tetap bersikeras untuk berkuasa di Indonesia. Tak terkecuali Aceh ….

Sejarah mencatat dengan tinta emas, betapa, dari Aceh muncul nama-nama besar pahlawan nasional; di antaranya adalah Cut Nyak Dien, Malahayati, Panglima Polim, dan banyak lagi yang lainnya. Sementara, pada rentang 1940-an, dari dataran tinggi Gayo, muncul sosok yang memiliki keberanian serta kemampuan luar biasa dalam perang gerilya melawan penjajah Belanda.

Ia adalah Aman Dimot, lahir pada 1920 di wilayah Tenamak, Linge Isaq, Provinsi Aceh. Sebagaimana lazimnya masyarakat Aceh, sejak kecil, Aman Dimot dididik dan dibesarkan dalam lingkungan keluarga muslim yang taat. Sehingga, ia pun tumbuh menjadi lelaki yang kuat, sabar dan mandiri karena terbiasa menghadapi sekaligus mengatasi pelbagai masalah yang ada di sekelilingnya.

Semangat Aman Dimot sontak tersulut ketika mendengar Belanda akan menyerang tanah kelahirannya. Menurutnya, sebagaimana pesan para guru; membela negara adalah merupakan jihad fisabilillah. Suatu kematian yang sangat diharapkan oleh para mujahid agar mendapatkan surga-Nya. Oleh sebab itu, untuk membela tanah kelahirannya, ia bergabung dengan Laskar Mujahidin yang dipimpin oleh Tengku Ilyas Lebe.

Berbeda dengan yang lain, Laskar Mujahidin pimpinan Tengku Ilyas Lebe selalu melakukan penyerangan terhadap konvoi pasukan Belanda. Hal tersebut dibuktikan pada 30 Juli 1949, di sekitar Tanah Karo, Sumatera Utara, Pasukan Bagura dan Mujahidin asal Aceh Tengah berjumlah sekitar 45 orang mengintai dan menunggu konvoi yang terdiri dari tank dan 25 truk Belanda.

Dengan berbekal kelewang dan senapan, pasukan Barisan Gurilla Rakyat (Bagura) yang dipimpin Ilyas Leubeyang salah satunya adalah Pang (sang pemberani) Aman Dimot bersama gerilyawan setempat menyerang tank dan truk tersebut dengan membabi buta sehingga membuat pasukan marsose kalang kabut. Dalam penyerangan ini, ia memperlihatkan keberaniannya yang luar biasa.

Seiring waktu yang berjalan ditambah akibat dari keterbatasan jumlah dan logistik Laskar Mujahidin, maka, kelelahan pun mulai dirasakan. Sementara itu, pihak Belanda terus melakukan tekanan.

loading...

Tak ada pilihan lain kecuali harus mundur. Tengku Ilyas Lebe memberikan isyarat agar pasukannya segera mundur ke hutan untuk bertahan. Tapi apa daya, Pang Aman Dimot dengan didampingi dua sahabatnya; yakni Pang Ali Rema dan Pang Edem bersikeras untuk terus melakukan perlawanan.

Ketika pasukan Tengku Ilyas Lebe mulai mundur, pihak Belanda pun mulai memeriksa para korban yang bergelimpangan dan bersimbah darah. Saat itu, Pang Aman Dimot, Pang Ali Rema dan Pang Edem berpura-pura mati di antara tumpukan mayat.

Ketiganya benar-benar menunggu waktu yang tepat untuk melakukan serangan balik pada para serdadu Belanda yang mulai lengah itu. Pada saat yang tepat, ketiganya dengan membabi buta dengan beringas. Karena tak menduga bakal menerima serangan, akibatnya, pasukan Belanda pun banyak yang menjadi korban.

Sayang seribu kali sayang, Pang Ali Rema dan Pang Edem gugur sebagai kusuma bangsa. Mengetahui peristiwa itu, Pang Aman Dimot mengamuk sejadi-jadinya dan mengejar pasukan Belanda dengan pedang terhunus dan berlumuran darah.

Sekali ini pihak Belanda kebingungan. Betapa tidak, walau ditetak dan ditebas oleh pedang bahkan berulang kali ditembak, namun, Pang Aman Dimot tetap berdiri tegak dan kulitnya tidak terlukai barang sedikit pun. Ya, ternyata selain keberanian bak singa, Pang Aman Dimot juga kebal terhadap benda apapun.

Namun, akibat kelelahan, akhirnya Pang Aman Dimot berhasil ditangkap oleh pihak Belanda. Kembali mereka mencoba menetak, menebas dan menembak tubuh Pang Aman Dimot, tapi apa daya, usaha mereka tidak membuahkan hasil sama sekali. Alih-alih terluka, tubuh Singa Aceh itu tak tergores barang sedikitpun. Karena frustasi karena tak mampu membunuh lawannya yang paliung berbahaya itu, akhirnya, pasukan Belanda memasukkan granat ke mulutnya.

Tak cukup sampai di situ, tanpa rasa kemanusiaan barang sedikit pun, mereka, bahkan menggilas tubuh Pang Aman Dimot dengan tank. Pada 30 Juli 1949, Pang Aman Dimot, Sang Singa Aceh, gugur sebagai kusuma bangsa di Rajamerahe, Sukaramai, Karo, Sumatra Utara.

Jasadnya langsung dimakamkan di tempat itu….

Beberapa tahun kemudian, kuburannya digali dan kerangkanya dipindahkan ke Tiga Binanga. Selanjutnya dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kabanjahe, Sumatra Utara.

Sebagaimana para kusuma bangsa yang lainnya, sejatinya, Pang Aman Dimot meninggalkan pesan yang teramat mendalam kepada kita sang generasi penerus. Mereka pendahulu telah berjuang untuk kemerdekaan, kini, kita dituntut untuk mengisi kemerdekaan lewat pendidikan, serta pelbagai karya yang membangun agar Keadilan Sosial Bagi Seluruh Bangsa Indonesia dapat segera terwujud dalam waktu yang tidak lama lagi. Semoga.

 

 

 

———–
Disarikan dari berbagai sumber terpilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *