Bakmi Godog Mas Heri

Selain penampilan yang rapi, racikan khusus Mas Heri membuat ia sebagai salah satu pedagang Bakmi Godog keliling yang banyak ditunggu oleh para langganannya ….
oleh: Anan Daruhono

 

Neomisteri – Semarang 1980. Kala itu, kota yang satu ini tergolong belum ramai seperti sekarang. Boleh dikata, kegiatan masyarakat Semarang hanya terpusat di Simpang Lima dan Kampus UNDIP yang terletak di Jalan Imam Barjo. Sehingga dapat kita bayangkan, jika malam, suasana di sekitar daerah Kampus UNDIP sangat lengang.

Walau dikelilingi dengan rumah tinggal, namun, ruas-ruas jalan tertentu yang digunakan sebagai rumah kos, suasananya terasa hidup. Betapa tidak, di sana-sini terdengar suara orang mengobrol diselingi dengan tawa. Tak hanya itu, ada juga beberapa orang yang duduk serius dengan memangku buku — atau bermain gitar sambil bernyanyi untuk sekadar melepaskan penat setelah seharian bekerja atau belajar.

Baca juga: Tumbal Pesugihan

Sementara, sesekali, kesunyian jalan dipecahkan suara mangkuk yang dipukul dengan sendok oleh pedagang sekoteng atau pukulan sendok pada wajan. Nah … ini yang banyak ditunggu-tunggu oleh para mahasiswa dan pekerja muda yang kos di daerah itu.

Dari berbagai rumah sontak terdengar suara keras dalam bahasa Jawa yang kental; “Mas Heri … Her …ke sini cepat!”

“Oke … sabar ya”, jawaban Mas Heri yang langsung berhenti di suatu tempat dan meracik bakmi godog andalannya.

Ya …sambil berbincang dan bercanda dengan para pelanggannya, Mas Heri dengan lincah meracik masakannya dan mengatarkannya kepada mereka yang memesan — suasana langsung berubah akrab. Tak ada lagi pembeda antara Mas Heri yang hanya mengaku lulusan SMA dengan mereka yang mahasiswa atau para pekerja muda. Mereka bagaikan suatu keluarga yang harmonis.

Jika beruntung, seluruh dagangan Mas Heri bisa habis hanya di ruas jalan itu ….

Oleh sebab itu, jangan heran jika di kampung halamannya yang terletak di bilangan Ungaran, Mas Hari memiliki beberapa bidang sawah yang digarap oleh keluarganya. Boleh dikata, hidup dan kehidupan Mas Heri dan keluarga kecilnya dapat dibilang mapan.

Waktu terus berlalu, hingga suatu ketika, tanpa ada kejelasan sudah seminggu ini Mas Heri tak tampak menjajakan Bakmi Godognya. Semua pelanggannya menanti dan terpaksa harus berpaling kepada Mas Anto yang juga merupakan pedaganga Bakmi Godog. Mereka tahu dari Mas Anto yang kebetulan satu kampung dengan Mas Heri jika ia telah meninggal dunia akibat tabrak lari ketika sedang menyeberangi jalan.

Mendengar kabar itu, Wahyudi adalah salah satu orang yang paling terpukul. Betapa tidak, selama ini, Mas Heri dianggap adalah orang yang paling tahu akan keadaannya. Maklum, sebagai mahasiswa dan perantau kadang ia terpaksa utang dan baru membayar jika sudah mendapatkan kiriman dari kampung halamannya. Rasanya, ia masih punya utang sekitar tujuh porsi. Paginya, kebetulan hari Minggu, ia pun berangkat menuju ke rumah Mas Heri untuk melunasi utangnya.

Baca juga: Penunggu Kamar Belakang

Istri Almarhum menyambutnya dengan sedih, bahkan dengan terbata-bata mengatakan bahwa keluarga sudah mengikhlaskan bahkan siap membayar jika Almarhum mempunyai utang kepada siapa pun ….

Sekembalinya dari sana, hati Wahyudi benar-benar lega karena utangnya telah terbayar ….

Waktu terus berlalu, malam itu, hujan gerimis tak berhenti sejak sore. Suasana begitu sepi, maklum, kebanyakan yang kos pulang ke daerah masing-masing untuk menikmati liburan panjang sehabis Ujian Akhir Semester. Berbeda dengan Wahyudi dan Sumarno, karena sedang menyusun skripsi, maka, keduanya lebih memilih untuk tidak kembali ke kampung halamannya.

Ilustrasi asap

Waktu menunjukkan tepat tengah malam seiring dengan terdengarnya petugas ronda memukul tiang listrik tepat dua belas kali.

Baca juga: Pengalaman Mistis di Toilet Rest Area Tol

Berbeda dengan biasanya, kali ini, Wahyudi begitu ingin menikmati Bakmi Godog. Ketika ia menyakan keinginannya, Marno hanya tertawa sambil berkata; “Lho … Mas Heri kan sudah meninggal. Ati-ati kangen dengan yang sudah meninggal, apalagi, malam Jumat Kliwon seperti sekarang ini”.

“Aku sudah dulu, ngantuk … mau tidur”, lanjutnya sambil berjalan ke arah kamarnya.

Antara tidur dan tidak, mendadak telinga Wahyudi mendengar suara yang selama ini amat dikenalnya; “Ting … ting …!”

Tanpa banyak pikir, Wahyudi langsung menghambur ke luar sambil berteriak; “Her … Mas Heri … Bakmi Godog istimewa satuuuu!”

“Oke …”, demikian terdengar sahutan.

Tak lama kemudian, pesanannya pun datang. Wahyudi langsung membawa Bakmi Godog ke meja makan. Seperti biasanya, setelah mencium bau Bakmi Godog beberapa kali, ia pun meletakkan piring dan berjalan untuk mengambil air minum di kulkas yang terletak di sudut ruang makan. Pada saat itu, mendadak kepalanya serasa berputar dan Wahyudi pun jatuh tak sadarkan diri ….

Mendengar ada sesuatu yang jatuh, Marno yang baru sesaat terlena langsung terbangun dan keluar dari kamarnya.

“Yud … Wahyudi … tolong …!” Teriaknya ketika melihat tubuh Wahyudi terbaring di lantai.

Teriakan Marno di tengah malam sudah berang tentu membuat seisi ampung terbangun dan menghambur ke rumah yang selama ini dipakai kos oleh Wahyudi. Semua berusaha menyadarkannya.

Ketika tersadar, Wahyudi menanyakan apa yang telah terjadi pada dirinya. Marno hanya dapat bercerita bahwa ia mendengar ada benda jatuh, lalu keluar kamar, dan melihat tubuh Wahyudi terbaring di lantai.

Baca juga: Bercumbu dengan Penunggu Patung Keramat

Wahyudi hanya termangu. Ia hanya bisa menunjuk mangkuk kotor yang teronggok di atas meja makan dan berkata lirih; “Tadi aku pesen Bakmi Godog Mas Heri”.

Marno pun menggeleng-gelengkan kepala sambil mengelus dadanya dan berkata; “Makanya, malam Jumat Kliwon jangan banyak melamun!?”

Sampai cerita ini dipaparkan pada neomisteri, Wahyudi bersikukuh ia membeli dan dibuatkan Bakmi Godog oleh Mas Heri yang sudah meninggal, namun, Marno tetap bersikeras bahwa itu semua hanyalah halusinasi. Adapun mangkok yang ada di meja adalah bekas Wahyudi makan Indomie pada sore tadi.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Tulah Azimat Celeng Belek

Siapa yang tak kenal, selain dermawan dan kaya, Mi Entis bahkan merupakan keluarga pejuang yang pada zamannya konon sangat dicari bahkan kepalanya mempunyai nilai...

Perampok Paling Sial Sedunia

"Saat melakukan perampokan, salah satu perampok yang ceroboh secara tidak sengaja duduk di telepon genggamnya dan menekan nomor 999. Kami menerima telepon yang merinci...

Artikel Terpopuler