Bercumbu dengan Hantu Noni Belanda

Sebagai lelaki berwajah lumayan serta tubuh atletis dan pekerjaan yang mapan, sudah barang tentu, Karta lebih banyak menghabiskan sebagian besar waktu dan uangnya di tengah-tengah kerumunan wanita cantik ….
oleh: Erlang Saputra

 

Neomisteri – Jakarta di rentang 1973. Malam itu, Atta menelusuri jalan-jalan Jakarta dengan mobil kesayangannya. Agaknya, hujan gerimis yang turun sejak sore telah membuat Jakarta, terutama tempat-tempat nongkrong anak-anak muda terasa begitu sepi.

Di kalangan teman-temannya, selain royal, Atta juga dikenal sebagai playboy. Entah berapa banyak korban yang sampai sekarang masih mengharapkan balasan cinta atau kehangatan belaiannya. Biasanya, Atta selalu berhasil mengelak dengan mengatakan dirinya belum siap untuk berumahtangga. Alih-alih menjauh, para wanita yang pernah berhubungan intim dengannya tetap saja mengerumuni dan bersedia untuk kembali melakukannya walau tanpa ikatan.

Namun, sekali ini Atta memang sedang butuh teman buat sekadar berbagi. Maklum, selain di kantor ia mendapatkan teguran keras karena ada dua kliennya yang mengundurkan diri dan berpindah ke ekspedisi lain, Eva, kekasihnya menuntut ketegasan. Apakah hubungan mereka hanya sekadar teman, atau mau serius dan dilanjutkan ke jenjang pernikahan.

“Ah … Eva ternyata banyak menuntut,” demikian gerutunya sambil memarkir kendaraannya di salah satu tempat hiburan yang ada di bilangan Jakarta Barat.

Ketika turun, salah seorang penjaga menyapanya dengan hangat dan mengerlingkan mata kanan dengan penuh arti; “Bos … ada Maya tuh.”

“Ah …,” hanya itu yang meluncur dari mulut Atta dan bergegas memasuki Night Club.

Di dalam, dengan ditemani Maya, Atta melepaskan segala kekesalan hatinya dengan menenggak minuman keras sambil mendekap dan melakukan french kiss yang panas dengan Maya. Tak cukup sampai di situ, bahkan, tangan Atta dengan nakal membelai bagian-bagian sensitif tubuh Maya hingga membuatnya menggelinjang dengan napas yang memburu.

Ketika napsu asmara purba kian merajai Maya, setelah menyelesaikan pembayaran di kasir, Atta dengan tanpa perasaan berdosa meninggalkannya dengan begitu saja. Maya yang sudah mabuk pun mengutuk panjang pendek. “Dasar bajingan, gua udah tinggi eh … dia seenaknya aja kabur.”

Semua yang mendengar hanya tertawa atau tersenyum kecut. Tapi apa mau dikata, rata-rata, mereka tahu kelakuan Atta yang demikian mudah mendapatkan sekaligus mencampakkan para perempuan yang tergila-gila kepadanya.

Akhirnya, kesemua pun larut dalam keasyikannya masing-masing.

Sementara itu, Atta pun berniat untuk pulang di rumahnya di bilangan Senayan. Ketika memasuki Jalan Gunung Sahari, ia melihat ada tubuh semampai berkulit putih dengan rambut sebahu berbalut jaket biru tengah berdiri di tepian jalan sedang menunggu taksi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, demikian pikir Atta sambil meminggirkan mobil dan membuka kaca jendela.

“Mau kemana Non? Kalau tidak keberatan silakan ikut. Saya mau ke Senayan,” kata Atta sambil tetap berada di belakang kemudi mobilnya.

“Tanah Abang,” jawab wanita itu sambil tersenyum.

“Naik …,” kata Atta.

Wanita itu langsung membuka pintu mobil dan duduk sambil mengangsurkan tangan; “Merry” katanya, “maaf saya jadi merepotkan. Tadi habis nengok teman yang sakit, terus mau pulang naik taksi,” lanjutnya menerangkan.

“Lain kali hati-hati Non. Kalau malam suka banyak yang iseng,” kata Atta mengingatkan.

Kini keduanya terlibat dalam pembicaraan yang hangat. Atta yang berkali-kali melancarkan rayuannya, akhirnya bersorak kegirangan. Merry juga menyambutnya dengan senang hati, dengan mangatakan, “Mampir ya. Kebetulan Papa dan Mama sedang jalan-jalan ke Bandung. Biasa, cari hiburan.”

“Wah … nanti apa kata orang,” pancing Atta.

“Tenang, pagar rumah tinggi. Selama ini tetangga juga enggak pernah usil,” balas Merry sambil tersenyum penuh arti.

Tak lama kemudian, keduanya sudah duduk di taman kecil yang terletak di sebelah kiri rumah Merry yang banyak ditumbuhi pepohonan bunga yang menguarkan wewangian. Suasana malam yang bertambah dingin membuat keduanya lupa diri dan larut dalam balutan napsu. Bibir keduanya saling menyapu tempat-tepat yang dianggap paling sensitif secara bergantian, sementara, tubuhnya keduanya juga tak berbalut barang selembar benang pun.

Kali ini, Atta benar-benar ingin melepaskan semua beban yang menghimpit dada dan pikirannya lewat permainan seks yang panas bahkan terkesan ganas. Atta merasakan sensasi yang berbeda. Tak seperti biasanya, kali ini ia melakukannya di taman. Bukan di kamar hotel atau tempat indekos kekasihnya. Walau Atta sudah berusaha sekuat tenaga untuk menundukkan Merry, namun, perempuan yang baru saja dikenalnya itu mampu mengimbangi segala permainan seks yang dilakukan oleh Atta.

Atta pun jadi penasaran dan diam-diam mengagumi Merry. Alhasil, empat kali sudah Atta dan Merry memuntahkan lahar panas secara bersamaan, hingga akhirnya, keduanya kelelahan dan tanpa sadar tertidur di bangku taman. Seiring dengan turunnya embun pagi, Atta pun tersadar. Ia amat terkejut, betapa tidak, selain tubuhnya tak mengenakan pakaian barang sehelai pun, di depannya tampak makam tua bertuliskan;

Merry
Geb 31-8-1909
Overl 25-1-1930

 

“Ah … ternyata,” hanya itu yang dapat Atta ucapkan dalam hati.

Dengan langkah gontai ia kembali ke mobilnya dan pulang ke rumahnya. Sejak itu, Atta lebih banyak diam. Ia begitu terpukul dengan kejadian yang dialaminya. Dan beberapa saat kemudian, keluarganya terpaksa membawanya untuk dirawat di salah satu Rumah Sakit Jiwa.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *