Home Blog

Darah Ayam Perawan

0

Siapa pun yang bersitatap dengan lelaki kerempeng dan berambut gondrong itu, utamanya kaum wanita, pasti akan langsung bertekuk lutut dan menyerahkan segala apa yang dipintanya ….
oleh: Suryadi

 

Neomisteri – Kampret, demikian sapaan akrab lelaki kerempeng, berambut gondrong yang tiap harinya berkumpul dengan para sopir angkutan lain di bagian belakang salah satu terminal di Jakarta. Jika tidak berjudi sambil minum kopi, maka, seperti biasa, mereka menenggak minuman keras, Anggur Orang Tua atau Anggur Merah bahkan sesekali Mansion House yang dicampur dengan Coca Cola atau Sprite.

Ya … kegiatan itu merupakan rutinitas bagi para sopir yang kebetulan tidak narik (bahasa sopir angkot jika sedang bertugas), atau, sengaja datang ke tempat itu untuk sekadar mencari rezeki dari para temannya yang kebetulan menang berjudi.

Baca juga: Terungkap, Amalan Rahasia Pemilik Rumah yang Tetap Kokoh Diterjang Erupsi Semeru

Perasaan senasib sepenangggungan membuat mereka jadi macam keluarga. Saling tolong dan terbuka — hampir dalam segala hal. Kenyataan itu tampak dengan jelas ketika mengurus salah seorang di antara mereka yang mati mendadak setelah dikerok dan dipijit oleh Mbak Susi. Tanpa disuruh, ada yang membawanya ke rumah sakit, menghubungi keluarga bahkan menghubungi ambulans untuk membawa jenazah tersebut ke kampung halamannya.

Semalam, sebelum ia menghembuskan napas terakhirnya, Kampret, bersama beberapa orang sahabatnya tampak menggelar pesta minuman keras di rumah kontrakannya. Itu sesuai dengan janjinya ketika ia hendak memasang TOGEL; “Rasanya, ini hari keberuntungan gua. Kalo tembus, kita minum dan siangnya harus gua pulang mudik mao nyepuh badan (melakukan pengisian diri-red)”, katanya dengan nada angkuh.

“Woles Bro, gua cuman bisa ngedoain dan berharap doang”, sahut Kang Odoy sekenanya.

Yang lain pun hanya tertawa. Ternyata, dewi fortuna sedang berpihak kepadanya. Hari itu, Kampret mengantongi uang hampir 25 juta rupiah — 15 juta disimpan untuk dibawa pulang ke kampung halamannya, sedang 6 juta dibagi-bagi kepada para sahabat yang biasa minum dan berjudi dengannya dan yang 4 juta dipakai untuk membeli minuman keras, rokok dan lain-lain.

Di antara teman-teman sopir angkot, Kampret tergolong lelaki yang mudah mendapatkan uang. Betapa tidak, ia menguasai ilmu pekasih tingkat tinggi yang diisikan ke badannya oleh seorang paranormal yang mulanya seorang gigolo kondang di Jakarta. Setiap 1.000 hari sekali, Kampret harus kembali ke kampung halamannya untuk menyepuh ilmunya dengan membawa ayam yang masih perawan dan disapukan ke sekujur tubuhnya.

Baca juga: Zikir Pelunas Utang

Kang Odoy, Charles bahkan Martin mulanya tak pernah percaya. Tapi, mereka dibuat tak habis pikir ketika Kampret berhasil menggandeng Mama Erna, pemilik toko kelontong terbesar yang ada di dekat terminal tempat biasanya mereka mangkal bahkan membawa ke rumah kontrakannya. Tiga jam kemudian, keduanya tampak keluar dari rumah dengan wajah yang sumringah.

Sejak itu, tiap Kampret tidak punya uang, Mama Erna pasti segera datang untuk memberi. Anehnya, walau tahu, namun suami Mama Erna tidak bisa berbuat apa-apa. Ia seolah merelakan istrinya selingkuh dengan Kampret. Ternyata tak hanya Mama Erna, banyak wanita lain yang terkena jerat asmara Kampret — ada yang gadis, janda, namun kebanyakan istri orang yang berpunya.

Ilustrasi asap

Kang Odoy, Charles dan Martin acap mengingatkan agar Kampret tidak berbuat seperti itu karena merusak rumah tangga orang. Namun, Kampret hanya tertawa, ia bahkan menjawab; “Uang halal hasil narik kirim ke kampung buat makan anak bini, kalo buat hepi, ya duit setan lah”.

Malam terus merangkak, Kampret cs terus saja menanggak minuman keras. Beberapa temannya tampak sudah menghindar dan pulang ke rumah masing-masing — menjelang pagi, mendadak, Mbak Susi yang biasa memijat para sopir datang. Ternyata, Kampret telah mengirim pesan lewat WA agar ia segera datang untuk memijat dan mengerok karena tubuhnya terasa tidak enak.

Baca juga: Pelet Kirim Mimpi Basah

Seperti biasa, Kampret langsung saja mencium Mbak Susi dan tangannya bergerilya kemana-mana. Mbak Susi hanya diam dan sesekali menepis tangan usil Kampret, sementara, tangannya terus saja bergerak secara teratur di bagian belakang tubuh lelaki kerempeng itu. Warna merah kehitaman tampak jelas di punggung Kampret. Sesekali ia mengeluh kesakitan, sementara beberapa temannya masih asyik menenggak minuman keras yang hanya tersisa dua botol lagi.

“Hah … Mas Kampret … Mas Kampret”, teriak Mbak Susi sambil mengguncang-guncangkan tubuh lelaki itu.

Tak ada reaksi, pelan namun pasti, tubuh lelaki itu menjadi kaku dan dingin. Kang Odoy langsung menelepon Polisi. Tak lama kemudian, Polisi pun datang. Mereka menggali keterangan dari Mbak Susi, Kang Odoy, Charles, Martin dan beberapa anak muda yang ikut pesta minuman keras bersama dengan Kampret.

Begitu usai mendapatkan keterangan yang dibutuhkan, keanahen pun terjadi. Walau belum sampai dua jam, namun, jasad Kampret menguarkan bau busuk yang teramat menyengat. Hampir semua yang ada muntah secara bersamaan. Polisi memutuskan untuk membawa jasad Kampret ke Rumah Sakit terdekat, sementara Martin yang berhasil menghubungi keluarga mendiang di kampungnya meminta agar mereka untuk mempersiapkan segala sesuatu yang berkaitan dengan pemakaman.

Singkat kata, akhirnya, Kampret pun dimakamkan di kampung halamannya. Berbeda dengan yang lain, ia dimakamkan dengan menggunakan peti, maklum, walau sudah menggunakan peti, namun bau busuk yang menyengat masih dapat tercium dan terasakan oleh siapa pun yang turut mengantarkannya ke pemakaman. Sang istri dan kedua anaknya tampak tertunduk malu. Mereka tak pernah menyangka, suami dan ayah yang mereka anggap sangat baik dan bertanggungjawab ternyata berkebalikan dengan kenyataannya, bahkan, mati dalam keadaan mabuk.

Baca juga: Ajian Penolak Teluh

Bau busuk dari makam Kampret ternyata mengundang perhatian banyak orang, maklum, kian harian menyengat dan menyebar hampir ke seantero kampung. Agar keluarga yang ditinggalkan terhindar dari fitnah, maka, atas saran sesepuh desa, dipotonglah seekor ayam perawan dan darahnya ditampung di mangkuk dan diletakkan di samping makam. Setelah itu, bau busuk pun hilang dengan sendirinya.

Dikejar-kejar Glundung Pringis

Keusilannya membuat hantu yang biasa mengganggu orang lewat di dekat makam keramat itu menjadi murka dan mengejarnya sampai ke rumah ….
oleh: Harimurti

 

Neomisteri – Di kampung itu, siapa yang tak kenal dengan Harto. Selain jail dan jika berlari secepat angin hingga tak mjungkin terkejar oleh siapa pun, ia juga merupakan cucu kesayangan Mbah Kromo — sosok yang dituakan dan menurut banyak masyarakat memiliki ilmu kanuragan yang sangat mumpuni. Boleh dikata, Mbah Kromo adalah salah satu pewaris ilmu serta kekayaan leluhurnya yang menurut tutur adalah sosok yang mula pertama membuka lahan di daerah itu untuk pertama kalinya.

Baca juga: Keangkeran Pabrik Karet Mijen

Boleh dikata, Harto lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang berada dan terpandang di kampungnya. Oleh sebab itu, tak heran, walau jail, boleh dikata satu desa pasti segan dan menghormatinya — bahkan semua penduduk memaklumi keusilannya — maklum, walau usil, Harto tergolong sosok yang ringan tangan dan siapa membantu siapa pun tanpa pandang bulu.

Ia bahkan tak segan-segan menolong Mbok Iro yang kala itu keberatan menggendong kayu bakar. Padahal, kebanyakan orang malas menolong wanita yang satu ini karena kegemarannya bergunjing dan sering memberikan janji muluk.

Itulah Harto ….

Marno, sahabat neomisteri menceritakan dengan sangat rinci kelakuan sehari-hari sahabatnya ketika ia duduk di kelas enam SD. Sadar akan kemampuanya berlari cepat serta tahu tepat jika rumah joglo yang dihuni dipasangi pagar gaib yang tak mungkin tembus oleh berbagai kekuatan hitam bahkan makhluk tak kasat mata, malam itu, lepas mengaji di surau, Harto sengaja lewat di dekat pohon kelapa yang terkenal angker di sudut persawahan.

Alih-alih malam, menjelang rembang petang, atau sekitar pukul empat sore saja tak ada seorang pun yang berani melewati pohon kelapa yang didekatnya terdapat sebuah makam tua tak dikenal yang selalu mengganggu siapa pun yang lewat di dekatnya. Biasanya mereka akan melihat ada buah kelapa tergeletak dan ketika memungutnya buah tersebut sontak berubah menjadi kepala manusia dengan wajah yang teramat menakutkan. Masyarakat biasa menyebutnya dengan nama “glundung pringis”.

Baca juga: Hantu Rumah Mertua

Menurut Mbah Kromo pada suatu kesempatan upacara bersih desa yang biasa dilakukan pada bulan Sela atau Syawal; “Saya sampai di tempat ini, makam itu sudah ada. Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, maka, rawat dan peliharalah dengan baik untuk menunjukkan bahwa kita semua adalah orang-orang yang menghormati para pendahulunya”.

Malam itu, dengan langkah pasti, Harto sengaja lewat di dekat pohon kelapa angker itu. Namun, ia tak menemukan apapun di sana. Esoknya, Harto kembali mengulang lewat di tempat itu. Kali ini cuping hidungnya hanya mencium bau busuk yang teramat sangat. Tapi, ia tak melihat ada benda lain di sekitar tempat itu.

Ilustrasi asap

Seolah penasaran, esoknya, Harto kembali melewati tempat itu. Kali ini, ia dihadang oleh glundung pringis yang selama ini sering mengganggu penduduk desa. Ya … beberapa langkah di depannya, tampak kelapa yang perlahan namun pasti berubah menjadi wajah yang tengah menyeringai — sejenak Harto kemekmek — setelah itu ia pun lari pulang secepat-cepatnya.

Kejar-kejaran pun terjadi. Harto pun berhasil sampai di pagar rumahnya yang dibatasi dengan tetumbuhan dan langsung menerobos masuk menuju ke pendopo ke arah sang kakek yang sedang duduk di kursi goyang sambil menikmati kopi panas. Tapi apa yang terjadi, glundung pringis itu tak berani mengejar Harto sampai ke dalam.

Baca juga: Misteri Tol Jombang Lokasi Kecelakaan Maut Vanessa Angel

Ia tidak mampu menerobos pagar gaib yang sengaja dipasang oleh Mbah Kromo — oleh sebab itu, sang glundung pringis hanya bisa menyeringai dengan wajah yang semakin menakutkan seolah mengingatkan Harto agar tidak lagi mengganggunya.

Melihat itu, Mbah Kromo pun berkata dengan tenang namun tegas dalam bahasa Jawa yang kental; “Maafkan cucuku, ia usil karena masih anak-anak. Sekarang, pulanglah, dan jangan ganggu orang-orang lagi”.

“Kasihan mereka yang punya sawah di situ”, lanjut Mbah Kromo, “silakan perlihatkan dirimu kepada orang-orang yang akan berbuat jahat di desa ini”, imbuhnya.

Terlihat asap hitam yang kian lama kian tipis karena tersapu angin malam, dan glundung pringis itupun hilang seolah ditelan bumi.

Baca juga: Hantu Ranjang

Yang paling aneh, sejak itu,. Tak pernah ada lagi cerita glundung pringis yang membuat warga desa lari lintang pukang jika melewati pohon kelapa yang ada di sudut sawah. Apakah karena mendapatkan teguran keras dari Mbah Kromo atau karena malu tak mampu mengejar Harto yang larinya secepat angin.

Biarkan waktu yang menjawabnya ….

Pengasihan Tepuk Bantal

0

Belakangan, ketika tidur, Nining selalu bermimpi bertemu dengan Toro di suatu tempat makan di mal untuk menikmati hidangan kesukaan masing-masing dan menghabiskan waktu ….
oleh: Hamdan

 

Neomisteri – Menurut catatan, mantra atau amalan pengasihan tepuk bantal adalah merupakan warisan nenek moyang dan merupakan salah satu jenis ilmu pekasih yang tergolong tak lekang dimakan zaman. Maksud hati menuliskan ilmu pekasih yang satu ini tak lain untuk menambah wawasan pembaca sekaligus melestarikan ilmu-ilmu warisan leluhur.

Betapa tidak, selain praktis, si pengamal juga tidak memerlukan puasa sama sekali. Kata kuncinya adalah yakin!

Lewat konsentrasi dan keyakinan penuh dan hanya dilakukan ketika hendak tidur, tak pelak, pada saat yang sama si target akan selalu terbayang bahkan mimpi bertemu dengan si pengamalnya.

Kenyataan tersebut diakui dengan jujur oleh sahabat neomisteri, Toro (26 tahun). Ia yang kebetulan menjabat sebagai supervisor langsung jatuh cinta pada pandangan pertama. Dimatanya, Nining (24 tahun) yang telah dua tahun menjadi istrinya adalah sosok yang begitu sempurna. Wajah, tubuh dan kulit serta tutur katanya seolah mampu memukau Toro.

Baca juga: Ajian Pembungkam

Hatinya sontak gelisah. Tapi apa daya, ia tak berani mengutarakan isi hatinya karena menurut beberapa teman Nining tergolong sosok yang pendiam, apalagi, ia juga tergolong pegawai baru di kantor itu. Baru sekitar tujuh bulan. Teman satu ruangan hanya tahu, Nining berasal dari Magelang, melanjutkan kuliah di Semarang dan sekarang tinggal di bilangan Pondok Bambu, Jakarta Timur.

Tiap makan siang di salah satu warung makan tradisional yang ada di dekat kantor, diam-diam, Toro sering mencuri-curi pandang. Bahkan tak jarang, tanpa sadar, keduanya saling tatap. Pada kesempatan ini, seperti biasa, Toro langsung saja melemparkan senyum terbaiknya.

Biasanya, malamnya, Toro tak langsung bisa tidur. Angannya menerawang jauh membayangkan ia tengah berdua dengan Nining. Sudah hampir sebulan, tidur tak nyenyak dan makan tak enak dirasakan oleh Toro yang sedang kasmaran.

Melihat itu, Nurdin, salah seorang sahabatnya hanya bisa tersenyum kecut sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Karena tak sampai hati, pada suatu hari, Nurdin pun nekat bertanya; “Keliatannya, kok makin kurus. Ada masalah?”

Ilustrasi sedih

Toro terkesiap. Ia tak menyangka, perubahan dirinya diketahui oleh Nurdin. Dengan malu-malu, Toro menceritakan apa yang selama ini dipendamnya. Mendengar itu, Nurdin pun menyarankan; “Kenapa enggak tembak langsung?”

“Enggak mungkin Bro. Kita cuman sekedar kenal karena sekantor. Terus … kalo ditolak?” Jawab Toro balik bertanya.

Keduanya langsung terjebnak dalam angannya masing-masing. Hingga akhirnya, Nurdin pun berkata; “Pelet”.

“Hah … pelet, ke dukun? Ogah Bro. Pastinya modal gede buat beli ini, beli itu …”, sahut Toro, “bukan enggak modal, tapi, belon tentu berhasil”, lanjutnya sambil memberikan contoh bahwa salah seorang temannya yang sempat menghabiskan uang lumayan banyak tapi yang dimaksud tidaklah tercapai.

Nurdin hanya tersenyum sambil menghisap rokoknya dan meminta Toro untuk menulis.

Bismillahirrahmanirrahim
Tepuk bantal panggil semangat,
Semangat datang dalam mimpi,
Aku tidak menepuk bantal,
Aku menepuk jasad dan roh (sebut nama yang dituju),
Satu badan dua nyawa,
Satu jasad dua nyawa,
Rindu kasih dan sayang,
Guncangkan jasad dan roh (sebut nama yang dituju),
Aku melipat tangan,
Aku melipat hati (sebut nama yang dituju) terbuka kepadaku,
Sri pengasihku sri dali putij berkat diiringi sang semar,
Berkat doa Lailahaillallah Muhammadarrasulullah.

“Caranya, tiap mau tidur, duduk sila dan pangku bantal sambil membayangkan tubuh target. Setelah fokus, baca mantra tiga kali dengan tahan napas … begitu usai, tiup bantal dengan halus sambil menepuk sebanyak tujuh kali. Usahakan, tepukan dimulai begitu mantra diucapkan dan tepukan berakhir seiring dengan berakhirnya pembacaan mantra”, papar Nurdin panjang lebar.

“Tapi ingat, lu harus bersedia menikahi walau apapun kekurangannya. Prinsipnya jangan buat main-main”, kata Nurdin mewanti-wanti.

Toro dengan sumringah menjabat tangan Nurdin dan berjanji untuk menepati janjinya. Dan tiga bulan kemudian, ketika makan siang, Toro dan Nining duduk satu bangku dengan Nurdin — lima bulan setelah itu, undangan pernikahan keduanya pun beredar. Hampir semua teman serta pimpinan di kantor kaget, pasalnya, perkenalan keduanya begitu singkat.

Tapi, itulah jodoh ….

Baca Juga:

Nenek Bungkuk Penunggu Rumpun Bambu

Adam tak pernah menyangka jika nenek bungkuk yang selalu diberi dua porsi bubur tiap ia akan berangkat berdagang adalah penunggu gaib rumpun bambu di tikungan jalan yang ia lalui ….
oleh: Asep Sunjaya

 

Neomisteri – Tak ada yang istimewa dari lelaki yang setiap hari mendorong gerobak bubur ayam dan mangkal di bawah pohon Mahoni yang tumbuh sebagai peneduh di pinggiran jalan yang lumayan ramai itu. Mulanya, ia bekerja di bengkel motor. Karena sepi dan merasa tak enak memakan gaji buta, maka, ia meminta izin kepada Bos-nya untuk mengundurkan diri. Berbekal tabungan dan uang pesangon serta kerohiman dari Bos-nya, Adam yang sadar akan kepiawaian sang istri dalam memasak memutuskan untuk berjualan bubur ayam.

Baca juga: Teluh Air Mandi Jenazah

Minggu pagi, usai mendirikan Salat Subuh, Adam dengan penuh semangat mendorong gerobak bubur dari rumah kontrakannya — menyusuri jalan setapak dan setelah melewati rumpun bambu yang ada di tikungan sampailah ia ke ruas jalan yang lumayan ramai. Adam sengaja memilih tempat di antara dua batang Pohon Mahoni yang tumbuh subur sehingga membuat suasananya terasa teduh.

Sejak pukul 06.00 banyak orang yang lalu-lalang berolahraga. Harum bubur yang tercium ketika Adam membuka tutup panci membuat mereka yang lalu-lalang terhenti sejenak, kemudian datang dan duduk sambil memesan.

“Bubur dua, satenya usus dua dan hati ampelanya juga dua”, demikian kata orang yang selanjutnya menjadi pelanggan setia Bubur Ayam Kang Adam.

Lepas Asar, Adam pulang dengan tubuh lunglai karena kelelahan. Namun hatinya gembira, betapa tidak, semua dagangannya terjual habis. Begitulah yang dilakoni Adam setiap hari ….

Baca juga: Kisah Seram di Toilet Sekolah

Kegembiraan sekaligus kegelisahan kini mendera perasaan Adam. Gembira karena sang istri mengandung, sementara, tabungan dari hasil berdagang dirasa belum cukup. Tapi sebagai lelaki yang bertanggungjawab, Adam pantang berkeluh-kesah atau menunjukkan muka murung di hadapan istrinya. Tiap berangkat, ia hanya berpesan; “Hati-hati, jangan terlalu capai dan jaga kondisi. Doakan A’a biar bubur kita cepat habis”.

Kali ini berbeda dengan hari biasanya. Adam harus mendorong gerobak buburnya di tengah rinai hujan. Udara dingin dan jalan pun licin. Entah dari mana, tiba-tiba, di depannya berdiri seorang nenek bungkuk. Ia berkata sambil mengangsurkan rantang tua; “Jang tolong minta buburnya. Nenek dan cucu sudah dua hari tidak makan”.

Tanpa banyak tanya dan sempat berpikir, Adam langsung melayani dan memberikannya kepada sang nenek.

“Ini Nek …”, kata Adam sambil berbisik dalam hati, “semoga jadi penglaris”.

Baca juga: Kisah Gaib Supir Ambulans

Dan benar, hari itu, Adam boleh dikata tidak sempat beristirahat sama sekali. Bersamaan dengan azan zuhur, ia sudah pulang ke rumahnya. Ketika sang istri bertanya kenapa pulang cepat, Adam dengan riang menjawab; “Yah … banyak pelanggan lama datang. Mereka bawa teman. Jadi … ya cepat habis deh”.

Ilustrasi asap

Boleh dikata, sejak hari itu, Adam selalu memberikan serantang bubur dan lima tusuk sate serta sebungkus kerupuk untuk sang nenek yang selalu mencegatnya tepat di bawah rumpun bambu yang biasa ia lewati.

Entah berapa lama Adam melakukan hal itu. Hasil tabungan Adam pun kian banyak. Ia bahkan telah membeli rumah kontrakannya yang terdiri dari 3 pintu. Dua pintu dibangun untuk rumah tinggal, sementara, sisanya dipakai untuk memasak dan istirahat beberapa karyawannya. Ya … Adam telah sukses dan tak lagi mendorong gerobak bubur, ia telah punya tempat di pertokoan.

Baca juga: Bercumbu dengan Hantu Noni Belanda

Bisik-bisik pun mulai terdengar. “Adam biasa masang sajen di bawah pohon bambu”, demikian kata Karta, tetangga yang selama ini memang memperhatikan gerak-gerik Adam.

“Buktinya?” Kata yang lain.

“Ini … lihat”, kata Karta sambil menarik berapa lainnya menuju ke bawah pohon bambu.

Semuanya hampir terpekik. Betapa tidak, di bawah pohon bambu tampak sebuah kaleng kehitaman bekas terbakar yang dipenuhi dengan bubur ayam yang sudah membusuk. Ketika kepala mereka sedang dipenuhi dengan tanda tanya, lewat Ustadz Ujang. Setelah sejenak menanyakan keperluan kenapa mereka beramai-ramai ke pohon bambu, Karta pun menjawab dengan penuh semangat. Ia meyakini, Adam punya pesugihan ….

Mendengar itu, Ustadz Ujang pun tersenyum kemudian menyahut; “Rasanya tidak. Dulu, waktu zaman penjajahan, di sekitar tempat ini tentara Belanda menembaki orang kampung karena mereka tidak mau memberitahu di mana para pejuang bersembunyi”.

Baca juga: Derita Pengabdi Pesugihan

“Menurut kakek, mereka dibantai di sekitar tempat ini”, kata Ustadz Ujang, “tempat yang lapang sehingga tak mungkin ada yang melarikan diri. Padahal, tempat ini sejak dulu memang terkenal angker. Jadi bukan tidak mungkin penunggu gaib tempat ini sengaja menolong Kang Adam dengan caranya, karena yang kita tahu, Kang Adam adalah orang yang ulet, baik, dan alim. Sehingga bangsa makhluk halus pun sayang kepadanya”, paparnya panjang lebar.

“Jadi jelas … Kang Adam tidak punya pesugihan. Ia berhasil karena ketekunan dan doanya kepada Allah”, pungkas Ustdaz Ujang.

Mendengar itu, semuanya langsung mengangguk tanda setuju. Dan Karta sontak meminta maaf kepada semuanya di hadapan Ustadz Ujang.

Kunyit, Herbal Pembersih Paru-paru

Menjaga sekaligus mengobati paru-paru akibat sehari-hari terkena polusi kendaraan bermotor dan asap rokok yang membuat sistem pernapasan menjadi terganggu adalah merupakan salah satu pilihan yang paling tepat ….
0leh: Puji Rahayu

 

Neomisteri – Tidak dapat dipungkiri, polusi kendaraan di pelbagai kota besar lumayan menurun karena adanya WFH akibat pandemi COVID-19 yang berkepanjangan. Walau begitu, karena selama ini tiap orang yang hidup di kota besar dipaksa untuk menghirup udara yang tidak sehat, akibatnya, sistem pernapasan pun jadi terganggu.

Baca juga: Resep Khusus Prostat

Dengan kata lain, kesehatan sekaligus pengobatan paru-paru benar-benar menjadi dambaan tiap orang. Tak perlu takut dan cemas, nenek moyang lewat Kitab Usada mewariskan catatan penting seputar pembersihan dan pengobatan paru-paru.

Dan berikut adalah nukilan resep yang harus disiapkan, dibuat dan diminum agar kita semua dapat merasakan manfaatnya:

Herbal Pembersih Paru-paru
Herbal Pembersih Paru-paru

Resep I
Bahan: 1 ibu jari tangan jahe; 3 butir bawang putih tunggal; 1 ibu jari kunyit dan 1 liter air.
Cara membuat: Cuci, kupas lalu parut kemudian rebus dengan api kecil hingga mendidih. Saring dan bagi dua, minum pagi dan malam masing- masing 0.5 gelas.

Resep II
Bahan: 1 sdt bubuk kunyit dan 1 gelas susu sapi.
Cara membuat: Panaskan susu dengan api kecil kemudian campurkan kunyit dan aduk sampai merata. Saring dan minu hangat-hangat kuku sebelum tidur.

Resep III
Bahan: 1 sdt bubuk kunyit; 1 sdt bubuk lada hitam; 1 btg kayu manis; 1 sdm madu; dan
0.5 gelas air.
Cara membuat: Rebus air dan setelah mendidih masukan bubuk kunyit, lada hitam, dan kayu manis aduk sampai rata. Setelah hangat, saring, tambahkan madu dan minum selagi hangat sebelum tidur.

 

Selamat mencoba seiring doa dan harapan Anda kembali sehat seperti semula.

Misteri Gloomy Sunday, Lagu Pemicu 100 Aksi Bunuh Diri

0

Penyair László Jávor menulis lirik sendiri untuk lagu tersebut, berjudul Szomorú vasárnap (Minggu Sedih), di mana sang protagonis ingin bunuh diri setelah kematian kekasihnya.

 

Neomisteri – “Gloomy Sunday” (Minggu yang Suram), juga dikenal sebagai “Lagu Bunuh Diri Hongaria” merupakan lagu populer yang digubah oleh pianis dan komposer asal Hongaria Rezs Seress dan diterbitkan pada tahun 1933.

Lirik aslinya berjudul “Vége a világnak” (Dunia akan berakhir) dan tentang keputusasaan yang disebabkan oleh perang, diakhiri dengan doa yang tenang tentang dosa-dosa orang.

Baca juga: Pindai Otak Tangkap Pikiran Terakhir Seseorang saat Sekarat

Penyair László Jávor menulis lirik sendiri untuk lagu tersebut, berjudul Szomorú vasárnap (Minggu Sedih), di mana sang protagonis ingin bunuh diri setelah kematian kekasihnya.

Lirik yang terakhir akhirnya menjadi lebih populer, sementara yang pertama pada dasarnya dilupakan. Lagu ini pertama kali direkam dalam bahasa Hongaria oleh Pál Kalmár pada tahun 1935.

“Gloomy Sunday” pertama kali direkam dalam bahasa Inggris oleh Hal Kemp pada tahun 1936, dengan lirik oleh Sam M. Lewis, dan direkam pada tahun yang sama oleh Paul Robeson, dengan lirik oleh Desmond Carter.

Baca juga: Tragedi Junko Furuta

Lagu ini menjadi terkenal di sebagian besar dunia berbahasa Inggris setelah rilis versi oleh Billie Holiday pada tahun 1941. Lirik Lewis merujuk pada bunuh diri, dan label rekaman menggambarkannya sebagai “Lagu Bunuh Diri Hongaria”.

Misteri Gloomy Sunday, Lagu Pemicu 100 Aksi Bunuh Diri
Misteri Gloomy Sunday, Lagu Pemicu 100 Aksi Bunuh Diri

Ada legenda urban berulang yang mengklaim bahwa banyak orang telah bunuh diri saat mendengarkan lagu ini, terutama orang Hongaria.

Ada beberapa legenda urban mengenai lagu tersebut selama bertahun-tahun, sebagian besar melibatkannya karena diduga terkait dengan berbagai jumlah kasus bunuh diri, dan sejumlah radio bereaksi dengan melarang lagu tersebut diputar.

Baca juga: Glasgow Smile, Metode Penyiksaan Sadis Inspirasi Wajah Seram Joker

Laporan pers pada tahun 1930-an mengaitkan setidaknya 100 kasus bunuh diri, baik di Hungaria dan Amerika Serikat, dengan “Gloomy Sunday”, tetapi sebagian besar kematian yang diduga terkait dengan itu sulit untuk diverifikasi.

Legenda urban tampaknya, sebagian besar, hanyalah hiasan dari tingginya jumlah bunuh diri Hungaria yang terjadi pada dekade ketika lagu itu disusun karena faktor lain seperti kelaparan dan kemiskinan. Tidak ada penelitian yang menarik hubungan yang jelas antara lagu dan bunuh diri.

Pada 11 Januari 1968, sekitar 35 tahun setelah menulis lagu, komposernya bunuh diri. BBC melarang versi lagu Billie Holiday untuk disiarkan, karena merusak moral masa perang, tetapi mengizinkan penampilan versi instrumental. Namun, larangan BBC dicabut pada tahun 2002.

Berikut ini lirik lengkap lagu Gloomy Sunday

Gloomy is Sunday,
My hours are slumberless
Dearest the shadows
I live with are numberless
Little white flowers
Will never awaken you
Not where the black coach of
Sorrow has taken you
Angels have no thought
Of ever returning you,
Would they be angry
If I thought of joining you?

Gloomy Sunday

Gloomy is Sunday,
With shadows I spend it all
My heart and I
Have decided to end it all
Soon there’ll be candles
And prayers that are sad I know
Let them not weep
Let them know that I’m glad to go
Death is no dream
For in death I’m caressing you
With the last breath of my soul
I’ll be blessing you

Gloomy Sunday

Sumber | Wikipedia

3 Ilmu Karuhun

0

Tak dapat dipungkiri, sebelum berangkat ke kota besar untuk mengubah nasib atau mengejar cita-cita, lazimnya, para perantau selalu dibekali dengan “sesuatu” sebagai upaya untuk pagar diri ….
oleh: Merva Aulia

 

Neomisteri – Ketiga mantra karuhun ini neomisteri dapatkan dari Kang Herman (37 tahun) demikian sapaan akrabnya pada suatu malam. Lelaki dua anak yang berasal dari Serang, Banten, telah hampir sepuluh tahun merantau di Banjarmasin — bahkan, mendapatkan jodoh di tanah perantauannya — agaknya, ia lebih memilih untuk terus tinggal di Banjarmasin, mengingat almarhum ayah mertuanya juga menitipkan sebidang kebun karet yang harus dirawat. Maklum, Kak Uni (Seruni-red) adalah anak semata wayang.

Baca juga: Mantra Kulhu Geni

Dalam keseharian, Kang Herman bekerja di salah satu bengkel motor yang lumayan besar. Penghasilannya lebih dari cukup, namun begitu, Kang Herman dan Kak Uni tidak sombong. Boleh dikata, mereka adalah keluarga yang ramah, santun, dan suka menolong orang.

Kelebihan Kang Herman baru terungkap ketika ia menolong seorang gadis yanag hendak dirampas motornya. Waktu itu, setelah si gadis diminta untuk menepi, Kang Herman langsung saja dikelilingi empat lelaki yang begitu beringas karena niatnya terhalangi. Lelaki yang berdiri di depan Kang Herman langsung jatuh akibat terkena pukulan telak di rahangnya, bersamaan dengan itu, si gadis yang hendak dirampas motonya menjerit ketakutan ketika melihat parang panjang terayun menebas leher Kang Herman dari belakang.

Apa yang terjadi?

Alih-alih putus, Kang Herman bahkan dapat menyerang balik termasuk lelaki yang memegang pisau di sebelahnya. Kembali dua lawan terjengkang. Bersamaan dengan itu, ada beberapa orang yang lewat dan langsung turun tangan membantu Kang Herman meringkus keempat penjahat tersebut dan menyerahkannya ke Polisi.

Sejak itu, kelebihan Kang Herman menjadi buah bibir orang-orang yang mengenalnya.

Baca juga: Zikir Pelunas Utang

Karena tak tahan didesak terus menerus, akhirnya, Kang Herman pun bersedia memberitahu amalannya. “Ingat, kita tetap tidak boleh sombong apalagi takabur. Ilmu ini semata-mata untuk jaga diri kalau sudah sangat terdesak dan tak lagi dapat dihindari, jadi, bukan untuk cari musuh”, pesannya.

“Selain itu, puasanya juga berat. Wajib mutih (hanya makan nasi putih dan minum air putih) selama tujuh belas hari dan tujuh belas malam. Tiap lepas Salat Fardu, amalkan sebanyak tiga puluh tiga kali. Selanjutnya, cukup baca satu kali setiap hendak keluar rumah”, paparnya.

“Puasa yang saya sebutkan tadi hanya untuk satu ilmu saja”, imbuhnya lagi.

Ilustrasi amalan
Ilustrasi amalan

“Dari Mama Haji saya hanya diberi tiga amalan yang kegunaannya berbeda antara satu dengan yang lain. Satu untuk kekuatan, untuk menghilang dan kebal senjata tajam”, tambahnya.

Adapun mantranya adalah sebagai berikut:

Mantra (kekuatan)
Sakukudung besi wulung,
Sa kongkoyang beusi bodas,
Cis ngicis beusi parasani,
Ya isun prabu tujamalela.

Mantra Halimunan
Isun ngewatek atiku jeneng siluman,
aku ane ing sejerone,
gedung wes kunci neng malaikat jibril,
engkang nutupi malaikat Mikail,
engkang ngaling ngalingi malaikat Isrofil,
engkang ngemuli malaikat Izroil,
engkang alingaken Allah,
kang jumeneng nabi Muhammad,
engkang amayungi yahu qudrat irodat Allah,
La ilaha illallah Muhammadarrasulullah.

Mantra Kebal
Asyhadu innahu syahadat isun,
Innahu baginda Ali,
bebalung wesi otot kulit kawat,
ye isun macane neng Allah,
sunggama mata sunggana mati,
sungga getih lebuh hancur,
jadi getih musne ilang tanpe kerane,
ditampaku malaikat Jibril, malaikat Mikail, malaikat Isrofil, malaikat Izroil,
Ples …, Plas …, Ples…..

“Hanya itu yang dapat saya beritahukan, semoga dapat menambah wawasan tentang ilmu-ilmu karuhun bagi para pembaca setia neomisteri”, pungkasnya sambil berjalan pulang.

Neomisteri pun mengangguk sambil tersenyum dan melambaikan tangan. Terima kasih Kang Herman ….

Kisah Heroik Seorang Ibu Hadapi Macan Tutul Demi Selamatkan Anaknya

Dengan penuh keberanian, Kiran mengejar macan tutul tersebut. Selanjutnya, tanpa takut akan nyawanya, Kiran bergumul dengan macan tutul itu demi menyelamatkan anaknya. Dia kemudian berhasil memeluk anaknya dan melarikan diri.

 

Neomisteri – Aksi heroik dilakukan seorang ibu di India. Dia nekat melawan macan tutul dengan tangan kosong demi menyelamatkan anaknya. Dia bahkan dengan keberanian dan tanpa lelah mengejar macan tutul kabur sambil menculik anaknya.

Ibu tersebut bernama Kiran Baiga, berasal dari Desa Barijharia, Tamsar Range, Madhya Pradesh, India. Peristiwa tersebut terjadi pada 29 November 2011. Bermula saat dia sedang duduk bersama tiga anaknya mengelilingi api unggun di depan rumahnya.

Baca juga: Pengalaman Spiritual di Balik Kisah Sukses Pemilik PO Haryanto

Saat itu, tiba-tiba seekor macan tutul muncul dari belakang dan menarik salah satu putranya yang berusia 8 tahun, Rahul. Kemudian macan tutul tersebut berlari masuk ke dalam hutan sambil menggigit Rahul yang tidak berdaya.

Meskipun putranya tiba-tiba diculik macan tutul, Kiran tidak kehilangan akal. Dia mengurung anak-anaknya yang lain di dalam gubuknya dan selanjutnya bergegas menuju hutan ke arah di mana macan tutul itu menculik putranya.

Dengan penuh keberanian, Kiran mengejar macan tutul tersebut. Dia mengejar macan tutul itu sejauh sekitar satu kilometer. Macan tutul itu berlindung di semak-semak dan kemudian mencengkram anak itu dengan cakarnya.

Kiran juga tidak mengalah. Dia terus berusaha menakut-nakuti macan tutul dengan tongkat. Selanjutnya, tanpa takut akan kehilangan nyawanya, Kiran bergumul dengan macan tutul itu demi menyelamatkan anaknya. Dia kemudian berhasil memeluk anaknya dan melarikan diri.

Kisah Heroik Seorang Ibu Hadapi Macan Tutul Demi Selamatkan Anaknya
Kisah Heroik Seorang Ibu Hadapi Macan Tutul Demi Selamatkan Anaknya

Tidak lama setelahnya, macan tutul tersebut mengejarnya dan kemudian menyerangnya untuk kedua kali. Namun, nyawa Kiran berhasil diselamatkan setelah warga desa tiba di tempat itu. Kerumunan warga membuat macan tutul ketakutan dan kabur ke tengah hutan.

Selanjutnya, Kiran dibawa ke rumah sakit terdekat di desa. Luka-lukanya dirawat di Pusat Kesehatan Masyarakat Kusmi. Usai dua kali bergumul dengan macan tutul yang diduga kelaparan, Kiran diketahui memiliki luka di tubuhnya. Begitu pula dengan putranya.

Kiran sendiri mengungkapkan kejadian tersebut bukan pertama kalinya terjadi di desa tersebut. “Kami tinggal di zona penyangga dari Penangkaran Harimau Sanjay, dan insiden seperti ini sering terjadi setiap hari,” kata Kiran.

“Kami kerap bertemu dengan macan tutul dan beruang. Kami haru melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa kami. Setelah insiden ini, ketakutan kami semakin besar,” katanya.

Baca juga: Imbas Pandemi COVID-19, Minat Terhadap Hal Gaib Meningkat

Serangan dari sejumlah hewan buas yang sering terjadi di wilayah tersebut memang menciptakan kepanikan terhadap penduduk asli yang tinggal di sana. Namun aksi heroik Kiran pun sangat membekas bagi ingatan warga desa tersebut.

Sumber | India Today

Keangkeran Rumah Tempat Penyiksaan Mata-mata Belanda

Liburan semester kali ini benar-benar luar biasa, betapa tidak, aku yang selama ini mengabaikan takhayul benar-benar membuktikan suasana yang mencekam sekaligus melihat penampakan tubuh tanpa kepala ….
oleh: Putra Lesmana

 

Neomisteri Di antara teman-teman di kampus, Ari (20 tahun) adalah salah satu sahabat yang sangat sulit untuk dilepaskan dari hidup dan kehidupanku. Maklum, sejak menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kampus Perjuangan yang terkenal dengan “Yellow Jacket”, Ari demikian setia selalu menemaniku.

Ia yang mengaku berasal dari salah satu keluarga petani di bilangan Ujung Kulon, Banten, selain ramah, juga dikenal taat beragama dan jago membaca Al Quran. Beruntung aku punya sahabat seperti Ari yang tak bosan-bosan selalu mengingatkan agar jangan sekali-kali meninggalkan salat dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sejak itulah, aku yang mulanya gemar minuman keras, langsung malu dan segan — perlahan namun pasti bahkan mulai menghindarinya.

Baca juga: Siluman Patung Kera

Liburan semester pertama, aku mengajak Ari ke kota asalku, Wonosobo. Ayah, ibu dan seluruh keluargaku menyambut dengan gembira. Mereka senang, aku yang selama ini susah meninggalkan kebiasaan menenggak minuman keras bisa berhenti dalam waktu singkat — lebih tepatnya berubah 180 derajat. Jadilah Ari bak tamu agung. Itulah yang membuat ia berjanji akan membawaku pada liburan akhir semester di kampung halamannya yang terletak di bilangan Ujung Kulon, Banten.

“Tapi di daerah gua, tepatnya, rumah yang gua tinggalin tergolong angker. Maklum, cerita orang-orang tua, dulu, rumah itu kandang kambing dan pernah dipakai nyiksa tiga mata-mata Belanda yang ketangkap”, katanya seolah meminta pendapatku.

Aku hanya tersenyum kecut sambil berkata; “Jujur … menurut gua, itu semua takhayul. Sebab, dimensi kehidupan kita beda sama mereka”.

“Yang itu gua sepakat”, sahut Ari, “tapi …”.

“Tapi apa?” Potongku cepat.

“Di sana, bukan aku berharap, pasti beda. Kalau kata orang-orang tua, tuah tanah Ujung Kulon bikin makhluk tak kasat mata jadi mudah berinteraksi dengan manusia. Mulai dari penampakan bahkan ada yang sempat berdialog dan menceritakan apa yang menyebabkan mereka sampai begitu”, papar Ari panjang lebar.

“Seru juga”, kataku, “semoga liburan di sana jadi kenangan indah dan tak terlupakan”, tambahku lagi.

Ilustrasi hantu tangga
Ilustrasi hantu tangga

Liburan akhir semester pun tiba. Tanpa berlama-lama, aku dan Ari bersiap-siap untuk mudik ke Ujung Kulon — setelah terguncang-guncang sekitar enam jam di atas Bus Arimbi ditambah dengan sekitar 50 menit di atas motor, menjelang Ashar, kami pun sampai di rumah Ari. Bapak dan emak serta Ninin sang bungsu menyambut kami dengan riang.

Baca juga: Diganggu Hantu Menyeramkan di Basement

Kami pun langsung terlibat dalam pembicaraan yang hangat, ketika menjelang waktu Magrib, sang Bapak mengingatkan agar aku dan Ari bersiap-siap untuk mendirikan salat di surau. Seperti kebiasaannya, kami baru kembali ke rumah lepas Isya. Di tengah perjalanan pulang, tepatnya, di pohon Pulai dekat dengan kandang kambing, aku mulai merasa seolah sedang diawasi. Berulang kali aku melirik bahkan sampai menoleh, tapi, tak juga tampak sosok yang tengah mengawasiku.

Sesampainya di rumah, hidangan pun telah tersaji. Nasi panas, sayur lodeh, dengan lauk telur mata sapi, tempe, tahu, ikan asin ditambah sambal dan juga lalapan. Sang Bapak dengan ramah mempersilakan kami pun makan bersama sambil sesekali berbincang tentang suasana kuliah.

Di tengah-tengah itu, tiba-tiba Ninin berkata dalam bahasa Sunda yang kental; “Ayo … jangan ganggu Ki, ini sahabatnya Aa baru datang dari Jakarta”.

Sang ayah hanya berdehem, sementara sang ibu pun menimpali; “Jangan maujud, kasihan Nak Toto, nanti dia takut terus enggak mau main ke sini lagi”.

Ari menterjemahkan apa yang dikatakan oleh adik dan emaknya. Aku pun mengangguk, ternyata, apa yang dikatakan Ari tentang makhluk halus yang maujud dan dapat berdialog dengan manusia benar adanya. Perasaan takut pun sontak bergayut di relung hati ….

Usai makan, sang Bapak pun bercerita; dahulu, zaman perang, gerilyawan berhasil menangkap tiga mata-mata Belanda. Karena berbelit-belit, akhirnya, ketiganya dieksekusi tanpa ampun di bawah pohon Pulai. Tapi, jasad ketiganya tidak ada yang utuh. Ada yang tanpa kepala, ada yang tanpa kaki, dan ada juga yang tanpa kepala dan perut terburai.

“Oh …”, kataku tanpa sadar.

“Maklum, sebagai pengkhianat, mereka juga memiliki bekal ilmu kanuragan yang tidak main-main. Oleh sebab itu, para gerilyawan pun mengambil keputusan untuk memisahkan jasad mereka. Jadilah, sampai sekarang ketiga pengkhianat itu masih terus mencari jasadnya yang hilang. Kalau kita, maksud Bapak keluarga kami, mereka tidak berani ganggu. Hanya sekadar menampakkan diri saja, tidak lebih ….” paparnya menerangkan.

“Alhamdulillah, biasanya, para makhluk halus bahkan sampai binatang buas segan dengan keluarga kami karena Uyut adalah sesepuh di daerah sini. Selain ilmu kanuragan, beliau juga menguasai ilmu agama yang mumpuni … selain itu, beliau lah orang yang pertama mukim di desa ini”, timpal Ari.

“Itulah sebabnya, kenapa aku segan mengajak teman-teman atau siapa pun untuk bermain apalagi sampai menginap. Maklum, kadang mereka suka usil maujud”, tambah Ari menerangjelaskan kenapa ia begitu keras menolakku untuk datang dan menginap di desanya.

Aku pun mengangguk. Ketika hendak tidur, seperti biasa, aku pun membaca doa-doa agar terhindar dari segala gangguan ….

Wajah Glowing

Tampil cantik secara alami yang menjadi impian banyak wanita, ternyata, tidak perlu merogoh kocek dalam-dalam ….
oleh: K. Rahayu

 

Neomisteri – Bagi kaum Hawa, memiliki kulit yang tidak berminyak, pori-pori kecil, cerah, segar, dan sehat adalah merupakan dambaannya. Hal itu sangat wajar, mengingat kodratnya, kaum Hawa selalu ingin tampil prima dan cantik apalagi di hadapan suaminya. Oleh karena itu, berbagai upaya pun dilakukan bahkan sampai harus merogoh kocek yang cukup dalam.

Baca juga: 3 Ramuan Peluruh Batu Ginjal

Sejatinya, jika mau tekun dan sabar, nenek moyang telah mewariskan beberapa catatan penting yang bertalian dengan upaya perawatan wajah, dan bahannya tumbuh subur di sekitar kita dan tergolong relatif murah. Berikut adalah beberapa catatan resep yang bertalian dengan perawatan wajah yang neomisteri dapatkan dari beberapa sumber terpilih:

Resep I
Bahan: 1-2 batang lidah buaya besar.
Cara membuat: kupas dan potong kecil-kecil, kemudian blender sampai halus. Tuangkan, dan oleskan secara merata ke seluruh wajah dan leher. Diamkan sampai mengering, kemudian bilas dengan air dingin. Lakukan 2 hari sekali.

Ilustrasi ramuan herbal

Resep II
Bahan: 1/4 buah Alpukat, 3 sdt yoghurt dan 1 sdt madu.
Cara membuat: campur semua bahan sampai halus. Oleskan secara merata pada wajah dan leher, diamkan sampai mengering. Basuh dengan air hangat dan lakukan 3 hari sekali.

Resep III
Bahan: 1/2 butir pepaya matang dan 1 sdt madu.
Cara membuat: kupas, haluskan dan tambahkan madu. Aduk sampai merata, oleskan pada wajah dan leher, biarkan sampai mengering dan basuh dengan air dingin. Lakukan 2 kali dalam seminggu.

Baca juga: Sarapan Sederhana yang Bisa Bikin Kenyang Sampai Petang

Resep IV
Bahan: 2 buah mentimun ukuran sedang.
Cara membuat: cuci bersih kemudian parut. Oleskan pada wajah dan leher, biarkan sampai kering dan basuh dengan air dingin. Lakukan 2 kali dalam seminggu.

Selamat mencoba seiring harapan agar Anda berhasil memiliki wajah glowing sebagaimana yang diimpikan.