Dahsyatnya Azimat Naga

Kekecewaan pada sang kekasih yang meninggalkan setelah menikmati manisnya madu cinta, Nuri pun meninggalkan kampung halaman tanpa izin dari orang tua dan berkubang dalam kehidupan yang demikian hina ….
Oleh: Surya Puja Nagara

 

Neomisteri – Sekali ini, neomisteri tergolong beruntung. Betapa tidak, sambil menyesap kopi dan mencicipi kue, Tante Nuri ditemani dengan dua anak angkatnya, Riri dan Yusuf (sahabat neomisteri waktu kuliah-pen) serta seorang ustadz yang selama ini menjadi guru mengaji Riri dan Yusuf untuk menceritakan kekelaman kehidupan yang pernah dijalaninya di tengah-tengah ingarnya Jakarta.

2001. Akibat hubungan yang terlalu bebas dan jauh dari pengawasan orang tua, pada suatu hari, Nuri pun melepaskan kehormatannya demi cinta tulusnya pada Ardi, putra salah seorang pejabat, yang dikenalnya sejak duduk di bangku SMA. Berbilang waktu, keduanya tenggelam dalam keadaan yang sejatinya be um layak untuk dilakukan.

Hingga pada suatu hari, Nuri melihat Ardi sedang bergandengan mesra dengan sorang perempuan di sebuah mal. Nuri pun menegur Ardi; “Hai ….”

Ardi langsung panik dan berusaha menghindar. Nuri yang enggan membuat keributan langsung kembali ke tempat kos-nya. Tak lama kemudian, datang Anto, sahabatnya yang memberikan secarik kertas; “Ini dari Ardi.”

Nuri pun membaca tulisan yang berbunyi; “Jangan cari aku dan mencoba membongkar rahasia kita kepada siapa pun, atau, video akan kusebar.”

Nuri tak kuasa berkata apa-apa kecuali hanya menangis, menangis dan terus menangis sambil menyesali diri. Esoknya, setelah menjual gelang dan kalungnya, Nuri pun berangkat ke Jakarta tanpa tujuan yang jelas. Dalam perjalanan, di kereta, kebetulan ia duduk bersebelahan dengan wanita paruh baya yang mengaku sebagai penyalur tenaga kerja. Gayung pun bersambut. Nuri bersedia ikut bekerja lewat wanita paruh baya yang mengaku bernama Sri.

Setibanya di Jakarta, Nuri dibawa oleh Sri untuk singgah dan sekaligus indekos dengan menempati kamar ukuran 2 x 2 yang terletak di samping rumah utama. Di sana ada beberapa kamar yang isinya semua wanita muda. Ketika berkenalan dan Nuri menanyakan pekerjaan masing-masing, Yanti, salah seorang di antara mereka menjawab pendek; “Kita harus melayani lelaki hidung belang.”

“Hah …,” kata Nurul dengan lidah kelu. Tapi apa daya, selain tak mengenal lika-liku Jakarta, di depan pintu rumah utama ada beberapa lelaki berambut gondrong penuh tato dan berwajah sangar yang melarang siapa pun ke luar atau masuk tanpa izin Mbak Sri.

Kepalang basah, Nuri bertekad untuk menjerumus sekalian mencari modal dan balas dendam terhadap Ardi yang telah menodainya.

Mulai malam itu, selama enam bulan, hampir tiap malam ia bisa melayani tamu lima sampai enam orang. Tabungan yang dititipkan pada tukang rokok kepercayaannya yang biasa mangkal di bilangan Monas terus saja bertambah. Namun, Nuri merasa masih belum seberapa. Belum bisa untuk modal usaha walau kecil-kecilan.

Menginjak bulan ketujuh, ia mulai resah. Mereka yang semula menyanjung, kini mulai berpaling kepada yang masih muda dan “baru”. Sudah tiga malam ini, ia selalu pulang dengan tangan hampa. Mbak Sri mulai uring-uringan. Tiap bertemu, ia selalu menyindir bahkan mengancam Nuri agar segera mengembalikan utang yang diterimanya berupa pelbagai alat-alat kosmetik, pakaian dan makan, minum dan tidur selama di tempat kos.

Kamis malam, walau waktu telah menunjukkan pukul 22.35 tak ada seorang lelaki pun yang menyapanya. Dengan gontai dan perasaan tak menentu, Nuri berjalan mengelilingi Monas. Entah berapa kali ia mengelilingi monumen yang jadi kebanggan warga Jakarta bahkan Indonesia. Hingga suatu saat, matanya menatap nanar seuntai kalung putih dengan bungkusan berwarna merah sebagai medalionnya. Dengan ragu Nuri memungut benda itu dan memasukkan ke dalam tasnya. Sontak perasaannya begitu tenang ….

Malamnya, Nuri bermimpi bertemu dengan seorang pemuda berwajah oriental. “Terima kasih sudah mau menerimaku,” katanya sambil tersenyum.

“Aku akan membantu mengubah kehidupanmu. Namun jika sudah bosan, buang atau bakar aku,” katanya lagi sambil merengkuh bahu Nuri. Entah siapa yang memulai, kini, bibir keduanya berpagut erat sementara tangan si pemuda dengan lincah melucuti seluruh baju Nuri. Keduanya tenggelam dalam alun asmara purba. Entah berapa kali Nuri memuntahkan lahar panas hingga akhirnya tertidur karena kelelahan.

Siang itu, usai mandi dan sekadar berdandan, Nuri minta izin kepada Mbak Sri untuk sekadar jalan-jalan ke mal yang ada di sekitar Senen. Ketika ia mulai menapakan kakinya di mal, tanpa disadari, ada sepasang mata yang mengawasinya dengan tajam. Lelaki muda itu tampak begitu bernafsu dengan Nuri. Saat Nuri tengah asyik melihat-lihat jam tangan, lelaki itu datang dan sambil tersenyum berkata; “Mau … kalau mau ambil. Anggap sebagai hadiah perkenalan kita.”

Nuri menoleh dan lelaki itu mengangsurkan tangannya sambil berkata; “Toni.”

Nuri pun menyebutkan namanya. Keduanya langsung terlibat pembicaraan yang hangat seolah sudah saling kenal. Mereka langsung keluar dari toko arloji dan melanjutkan ngobrol di KFC sambil melihat kepadatan lalu lintas Jakarta. Nuri yang merasa nyaman langsung saja mengangguk ketika Toni mengajaknya ke hotel tempat ia menginap. Dan pada saat itu, Toni mengaku sebagai pemilik perusahaan di Semarang yang bergerak dalam bidang ekspor ikan tuna ke Jepang.

Setibanya di kamar hotel di bilangan MH Thamrin, setelah membersihkan tubuh bersama-sama, keduanya langsung saling berpelukan dan bibir pun saling pagut. Tidak seperti biasanya, sekali ini, Nuri benar-benar agresif. Bukan dibuat-buat. Toni dibuat benar-benar puas dan tak berdaya.

Dalam perjalanan cinta sesaatnya dengan banyak wanita, baru kali ini Toni merasakan kenikmatan yang tiada tara. Oleh sebab itu, ia langsung meminta Nuri untuk menemaninya barang semalam dua malam di hotel. Nuri juga seolah tak bisa menolak. Ia langsung menelepon Mbak Sri untuk minta izin dan berjanji besok akan mentransfer sejumlah uang untuk membayar segala utang-utangnya dan akan pindah kos. Maklum, Toni meminta ia untuk sementara tinggal di hotel dan membuang segala pemberian dari Mbak Sri.

Tak perlu berlama-lama, sebulan kemudian, Nuri telah menempati sebuah rumah cukup mewah lengkap dengan isinya yang ada di kawasan Jakarta Barat. Bahkan beberapa bulan setelah itu, ketika tanpa sengaja ia bertemu dengan Yuyun teman satu kos yang sedang hamil tua dan mengadukan nasibnya, Nuri pun berkata; “Anakmu aku yang rawat. Segala biaya persalinan aku yang tanggung.”

Beruntung, Toni tidak keberatan ketika Nuri menceritakan segala maksudnya. Bahkan, Toni menambahkan sambil memeluk Nuri dengan mesra, “Nanti cari yang laki-laki. Biar sepasang. Besarkan dengan baik sebagaimana anak sendiri.”

Nuri pun hanya bisa menangis di dada bidang Toni.

Singkat kata, kini, keduanya telah dewasa. Riri sudah menjadi sarjana ekonomi, sementara, Yusuf sarjana psikologi dan keduanya di kantor cabang milik ayah angkatnya. Boleh dikata, walau keduanya sudah sejak lama tahu latar belakang sang mama, namun, hormat mereka kepada Nuri dan Toni yang akrab meraka sapa dengan papa dan mama tidak pernah berkurang barang sedikit pun.

Melihat kedua anaknya yang begitu tekun beribadah, membuat Nuri menjadi malu. Ia mulai mengulang belajar salat dan mengaji kepada ustadz yang selama ini merupakan guru agama kedua anaknya. Dan setelah membicarakan hal tersebut kepada Toni, ternyata, ia juga tak merasa keberatan.

“Kita sudah sama-sama tua, sudah waktunya mendekatkan diri ke Tuhan. Rasa cinta walau tidak saling memiliki terus kita lanjutkan dengan cara nikah siri.”

Setelah semuanya berkumpul di ruang tamu, sang ustadz pun membacakan doa dan dilanjutkan dengan membakar kalung yang selama ini dipakai oleh Nuri. Sungguh mengejutkan, bau wangi yang demikian halus langsung memenuhi ruangan, sementara, asap hitamnya menggumpal dan tak lama kemudian melesat ke luar rumah dan hilang di telan malam.

“Luar biasa kekuatan azimat Naga. Setiap orang bakal tergila-gila, selain tubuh dan mulut menguarkan bau harum, denyutannya mampu memijat hingga tuntas sperma lelaki yang menggaulinya,” demikian keterangan sang ustadz.

Semua yang ada sontak menatap Nuri, tanpa sadar, pipinya pun memerah karena malu ….

Malamnya, Nuri bermimpi didatangi pemuda berwajah oriental yang pernah mencumbunya habis-habisan. “Terima kasih Nuri selama ini telah merawatku dengan baik,” katanya sambil tersenyum dan perlahan-lahan menghilang.

Kini, Nuri menjadi wanita biasa. Walau begitu, kedua anak angkatnya dan Toni tetap saja menyayangi dan menghormatinya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *