Dendam Seorang Istri

Taburan bubuk dari lelaki yang tak muda lagi itu ke gelas minumannya benar-benar mampu meruntuhkan benteng imannya. Alih-alih menghindar, Yani malahan mengharapkan lebih dari sekadar berciuman saja ….
oleh: Aries Kurniawan

 

Neomisteri – Perjalanan hidup yang teramat pahit ini neomisteri dapatkan langsung dari si pelaku, Yani (35 tahun) sebut saja begitu, berasal dari pinggiran Semarang yang selepas kuliah mengadu nasib di tengah-tengah ganasnya ibu kota, Jakarta.

Sebagai anak yang dibesarkan dengan kultur Jawa yang tergolong ketat, Yani tumbuh sebagai wanita yang cantik, anggun, pandai, terampil, dan penurut. Boleh dikata, ia akan menuruti segala saran orang-orang yang diyakini mempunyai pelbagai kelebihan darinya. Oleh sebab itu, tak heran, banyak teman mengatakan; “Walau pandai, namun, Yani tergolong wanita yang lugu.”

Di Jakarta, tak perlu terlalu lama, sekitar tiga bulan, ia diterima di suatu perusahaan yang bergerak dalam bidang teknik sipil.

Yani yang diserahi tugas untuk mengaudit pelbagai pengeluaran dan pemasukan keuangan perusahaan, mengerjakan kesemuanya dengan baik. Akibatnya, dalam waktu yang teramat singkat, bersamaan dengan wafatnya sang manajer keuangan karena sakit diabetes, ia ditunjuk untuk mengisi posisi tersebut.

Dengan kata lain, setahun bekerja di perusahaan itu, ia sudah menduduki jabatan yang sebenarnya banyak diminati orang.

Keberhasilannya sudah barang tentu membuat sejawatnya merasa bangga dan senang. Namun, hanya satu di antara mereka yang diam-diam menaruh perhatian khusus kepadanya. Heri (52 tahun), demikian sapaan akrabnya adalah lelaki yang tergolong modis. Semua yang dikenakan benar-benar menunjukkan kelasnya sebagai seorang pengusaha.

Hingga pada suatu hari, setelah melakukan pertemuan yang lumayan panjang dengan empat kliennya di Bandung, Heri mengajak Yani untuk menginap di salah satu hotel. “Saya sangat capek, lebih baik istirahat dulu. Besok baru kita pulang,” demikian katanya kepada Yani.

Yani hanya bisa mengangguk. Ia juga tak berprasangka buruk.

Jadilah sore itu keduanya masuk hotel dengan posisi kamar yang bersebelahan. Ketika akan malam, Heri tampak begitu sumringah. Keduanya pun menikmati kelezatan masakan hotel berbintang lima itu. Yani tak pernah tahu dan menyadari, ketika ia menoleh dan memperhatikan pasangan muda yang menurut Heri sangat serasi, tangan lelaki paruh baya itu memasukkan semacam bubuk ke dalam minumannya.

Usai makan, Yani hanya merasakan kepalanya agak sedikit berat, pandangan agak nanar dan tubuhnya panas. Heri yang melihat itu menyunggingkan senyumannya dan langsung mengajak Yani untuk kembali ke kamar. “Ayo … kita istirahat,” katanya kepada Yani.

Yani hanya mengangguk dan keduanya menuju ke lift. Di dalam lift, berkali-kali Yani menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya. Heri yang tanggap segera merengkuh bahunya sambil berkata; “Kenapa … pusing?”

Yani pun menyandarkan kepalanya ke dada Heri. Mendapat kesempatan, Heri pun mendaratkan ciumannya di bibir Yani. Sesaat Yani terperangah, namun, entah kenapa sekali ini ia tak kuasa untuk menolak bahkan mengharapkan yang lebih dari itu. Di dalam lift, sesaat keduanya saling pagut.

Keduanya berjalan dengan saling peluk. Kehangatan yang merajai membuat Yani lupa bahwa ia masuk ke kamar Heri. Kembali keduanya berpagut dengan panas sambil saling melucuti pakaiannya. Dalam keadaan tak selembar benang pun, Heri langsung saja merebahkan tubuh Yani ke tempat tidur. Sekali ini, Yani benar-benar melayang bak tak berada di bumi ketika lidah Heri dengan ganas melumat seluruh permukaan kulit tubuhnya.

Hingga pada akhirnya, Heri berhasil merenggut mahkotanya lewat tumpahan lahar-lahar panas.

loading...

Paginya, Yani terbangun dan hanya bisa menyesali nasibnya. Pada saat itulah, Heri berjanji untuk menikahinya. Mulanya Yani menolak karena tak ingin menjadi orang ketiga. Namun, bujuk rayu Heri benar-benar mampu meruntuhkan imannya. Sejak itu, alih-alih menghindar, tiap ada kesempatan, keduanya selalu larut dalam alunan asmara purba.

Sepandai-pandainya menyimpan bangkai pasti bakal tercium juga, demikian kata pepatah.

Pada suatu hari, ketika keduanya baru saja ber-asyik maksyuk di sebuah vila di bilangan Puncak, mendadak, pintu vila digedor dengan keras dibarengi suara yang penuh emosi; “Heri … keluar!”

Heri tergagap. Ia tak menyangka, istrinya mengetahui di mana ia berada. Begitu pintu dibuka, Ayu, demikian sapaan akrab istri Heri sekaligus sang pewaris perusahaan telah berdiri di depan pintu dan langsung melemparkan sebuah amplop coklat besar; “Yani, mulai detik ini kamu dipecat dan tinggalkan Jakarta. Itu surat pemecatan dan pesangonmu.”

Yani tak mampu berkata apa-apa. Ia baru tahu, ternyata, Heri bekerja di perusahaan milik mertuanya. Pada saat itu ia baru sadar ketika melihat betapa Heri begitu ketakutan dan hanya pasrah ketika dipaksa naik ke mobilnya dan meninggalkan Yani seorang diri di vila. Setelah itu, Yani pun pun menangis sekeras-kerasnya. Ia benar-benar menyesali segala perbuatannya. Tapi apa daya, nasi telah menjadi bubur.

Beberapa hari ia menginap di vila itu sambil merenungi nasibnya. Ketika hatinya sudah tenang, ia pun kembali ke kota kelahirannya.

Belum seminggu ia di rumah, mendadak, setelah terdengar suara ledakan dahsyat pada tengah malam di genting rumahnya. Paginya, badannya menggigil dibarengi dengan keluar benjolan-benjolan kecil dipenuhi nanah di sebagian tubuhnya.

Mulanya, keluarganya menganggap Yani terkena penyakit cacar. Begitu dibawa ke rumah sakit, dokter hanya mengatakan; “Yani terkena virus dan sedang diobservasi.”

Menginjak bulan ketiga, Agus yang sejak kecil diam-diam menaruh hati kepadanya datang menjenguk. Sesaat ia tertegun dan mengerutkan dahi. Perlahan terdengar katanya; “Dosa apa sehingga engkau disakiti seperti ini?”

Yani pun menangis. Ia menceritakan apa yang dialaminya di Jakarta sampai mendengar ledakan dahsyat di atas genting rumahnya. Agus hanya tersenyum kecut, ia tak menyangka wanita yang sangat dicintainya itu harus menjalani kehidupan yang demikian pahit dan menggiriskan.

Agus langsung saja berpesan, “Segera pulang. Nanti aku bantu mengatasinya.”

Setelah menimbang-nimbang, akhirnya, Yani pun dibawa pulang.

Malamnya, Agus pun datang dengan membawa sejumlah ubo rampe berupa kembang setaman, sirih lengkap, cerutu, serta beberapa jenis jajan pasar. Ia hanya minta disiapkan air putih, kopi pahit, dan manis serta teh pahit dan manis. Setelah semuanya ditata dengan apik, ia pun menghidupkan dupa wangi dan memejamkan mata. Entah berapa lama, yang pasti, terdengar suara angin menderu begitu keras dan kembali terdengar ledakan dahsyat di atas genting.

“Alhamdulillah … Semuanya sudah berlalu. Sekarang, mandilah dengan air kembang setaman ini. Guyur dari ujung rambut sampai ujung kaki … Semoga penyakitnya menghilang,” katanya kepada Yani.

Yani pun melaksanakan apa yang diperintah Agus. Lepas itu, ia kembali ke kamarnya dan tertidur dengan nyenyak. Agus pun minta izin untuk kembali ke rumahnya.

Paginya, Agus mendapat kabat bahwa Yani dan sembuh tanpa meninggalkan bekas barang sedikit pun. Kulitnya kembali mulus dan wajahnya pun kembali menguarkan kecantikannya. Singkat cerita, Agus yang memang tulus mencintainya, ikhlas menerima keadaan Yani. Tak lama kemudian, keduanya pun menikah …

Dalam menjalani biduk rumah tangga, kini keduanya telah dikaruniai sepasang anak yang ganteng, manis dan lucu ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *