Derita Pengabdi Pesugihan

Ketika ajal menjemput, semua yang mengenal sangat terkejut, lelaki yang dikenal santun dan dermawan itu tubuhnya membengkak dengan wajah menakutkan serta mengeluarkan bau tidak sedap yang teramat menyengat ….
Oleh: Yudha Pratama

 

Neomisteri – Mas Mas Karsim, 47 tahun, pedagang soto yang ada di sudut jalan tampak berjalan mondar-mandir di antara para tamu untuk menanyakan kepuasan atas pelayanan serta rasa dari soto, sate usus, sate telur puyuh, dan tempe mendoan yang disajikan.

Semua menjawab dengan tegas; “Luar biasa … enak.” Kata-kata itu membuat wajah Mas Mas Karsim sumringah. Ia pun tersenyum sambil mengangguk-anggukan kepalanya. “Selamat tinggal kemiskinan,” demikian bisik hatinya dengan perasaan gembira yang teramat sangat.

Padahal dua tahun yang lalu, Mas Karsim hampir saja bunuh diri. Selain usaha sotonya tidak laku, salah seorang anak kesayangannya harus meregang nyawa karena ketiadaan biaya. Walau rumah sakit di kecamatan tidak memungut bayaran barang sepeser pun, namun kala itu Mas Karsim benar-benar tak memiliki uang untuk sekadar ongkos. Alih-alih ongkos, untuk makan sehari-hari saja mereka praktis lebih banyak harus kelaparan.

Sepeninggal sang anak, di tengah-tengah keputusasaannya, tiba-tiba, hati kecilnya ingin mendatangi suatu tempat pesugihan seperti yang ia dengar ketika masih remaja. Kala itu, Joko, salah seorang teman di kampungnya berceloteh dalam bahasa Jawa yang kental; “Sebenarnya tidak perlu sekolah pinter-pinter, kalau ingin kaya ada jalannya.”

“Korupsi, maling, begal, atau jadi pemalak?” Tanya Mas Karsim dan Tono hampir bersamaan.

“Salah …,” jawab Joko sambil nyengir, “bertapa di Hutan Kalang. Kita bisa beli gendruwo atau meminta syarat agar dagangan laris,” tambahnya dengan jumawa karena merasa lebih tahu daripada kedua teman bicaranya.

Agaknya, kata-kata itu sangat membekas di hati Mas Karsim. Tanpa meminta pertimbangan sang istri, pada suatu hari, ia hanya minta izin untuk meminta pekerjaan pada temannya yang ada di bilangan Jatirogo, Tuban. Ia sudah bertekad untuk mengubah kehidupan keluarganya.

Tanpa pemandu atau bertanya pada siapa pun, Mas Karsim langsung memasuki Hutan Kalang yang angker itu tepat ketika matahari bertengger di titik kulminasi langit. Ia terus berjalan menuju ke tengah hingga bertemu dengan sebatang pohon tua yang pada bagian pokoknya telah rapuh dimakan usia. Mirip seperti ceruk yang lumayan dalam dan dapat dipakai untuk berteduh jika hujan hanya untuk satu orang saja.

Tak berapa lama kemudian, petang mulai merangkak. Tak ada cahaya kecuali gelap, pekat, kental disertai dengan riuhnya suara binatang malam dan kesiur angin yang meniup ranting dan dedaunan. Mas Karsim yang sudah bertekad lebih baik mati di Hutan Kalang jika hajatnya tidak terkabul, langsung memasang sebatang dupa yang memang sengaja dibawanya dari rumah. Tak ada yang lain kecuali dupa. Malam itu tak ada kejadian apapun, kecuali ia harus berusaha terus terjaga walau udara terasa begitu menggigit tulang. Hari kedua, ketiga, keempat, juga sama.

Namun, ketika petang memasuki malam kelima, sejak sore, Mas Karsim seolah merasakan keanehan sedang terjadi di sekitarnya. Ya … sejak sore, alih-alih suara binatang, angin pun seolah tidak bertiup. Udara terasa hampa …! Menjelang tengah malam, suasana pun berubah. Udara terasa begitu panas menyengat, Mas Karsim hampir saja tak kuat.

Di saat perasaannya berkecamuk dahsyat, bertahan atau meninggalkan tempat itu … terdengar langkah berat mendatanginya; “Apa yang engkau inginkan anak manusia?” Tanya sosok lelaki bertubuh kekar dengan dada berbulu lebat dan wajah yang memancarkan keangkeran.

“Sa… Sa… Saya ingin dagangan laku,” jawab Mas Karsim dengan perasaan tak menentu.

“Oh … Itu mudah. Syaratnya, siapa pun yang engkau cintai, untuk aku,” jawab lelaki itu dengan nada menekan.

“Baik saya terima”, kata Mas Karsim cepat.

Tak lama kemudian, di antara suara burung hantu di kejauhan, lelaki itu melemparkan suatu benda hitam berkilat ke pangkuannya sambil berkata; “Ambil… Begitu sampai di rumah, gosok semua perabot engkau lalu gunakan untuk memasak dan menyajikan daganganmu dengan itu. Tiap malam Jumat dan Selasa Kliwon, benda itu harus diberi minyak wangi dan bunga setaman. Sekarang pulanglah.”

Bersamaan dengan tangan Mas Karsim memegang benda itu, di kampung halamannya, sang istri dan dua putranya tengah menangis meraung-raung. Betapa tidak, anak ketiga yang merupakan kesayangan Mas Karsim meninggal tanpa sebab yang jelas. Semua panik. Maklum, tak ada seorang pun yang tahu di mana ia berada sekarang. Mereka hanya ingat, Mas Karsim akan membantu sahabat kecilnya berdagang.

loading...

Jadilah sore itu juga pemakaman Sutini tanpa ayah yang teramat mencintainya bersamaan dengan keluarnya Mas Karsim dari Hutan Kalang.

Mas Karsim melangkah sambil berpikir keras untuk mendapatkan sekadar modal untuk mulai usahanya. Ketika tangannya menyentuh sesuatu di dalam tas yang dibawanya, hatinya tercekat sambil mengeluh; “Kalung ini akan kujual. Tapi, tetap saja belum cukup untuk modal berjualan soto.”

“Ah … Jika digosok dengan jimat yang baru didapatnya, siapa tahu, orang akan membelinya dengan harga yang tinggi. Perlahan ia menggosok-gosokkan jimat tersebut ke kalung milik istrinya. Dan setibanya di pasar, ketika pemilik toko emas melihat kalung itu, langsung saja berkata; “Sudah, ikhlaskan, kalung itu saya bayar lima kali lipat.”

Tanpa berpikir panjang, Mas Karsim langsung menyerahkan dan menerima pembayarannya. Setelah bertanya kesana-kemari, jadilah Mas Karsim mengontrak lahan kecil yang ada di sudut jalan untuk berjualan soto.

Alhasil, sejak mulai buka, Soto Sudut Jalan menjadi ajang pembicaraan orang banyak. Selain pelayanan yang cepat, rasa pelbagai makanan yang disajikan sangat enak dan harganya pun terjangkau ….

Beberapa bulan kemudian, Mas Karsim dapat membeli mobil (walaupun bekas) dan pulang ke kampung halamannya sambil membawa uang yang cukup banyak. Ia bercerita kepada sang istri, bahwa dirinya diminta menikahi salah seorang anak pemilik usaha pengangkutan antar pulau.

“Ini semua aku jalani untuk kebahagiaan kalian,” kilah Mas Karsim di depan istri dan dua anaknya. “Mulai sekarang, kalian tidak perlu lagi repot-repot bekerja atau mencari pekerjaan. Ibu cukup di rumah, sementara kalian berdua sekolah setinggi-tingginya. Jangan lupa belajar agama,” tambahnya sambil minta izin untuk kembali.

Semua mengangguk dengan sangat terpaksa, bahkan menganggap sang ayah adalah pahlawan karena telah mengorbankan segala-galanya bagi hidup dan kehidupan keluarganya.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, tiap tahun, Mas Karsim selalu menikah dengan wanita muda bahkan pelacur sekalipun dengan tujuan agar istri dan kedua anaknya di kampung tidak menjadi mangsa pesugihannya. Sementara yang dimangsa atau yang menjadi korban adalah istri yang baru saja dinikahinya.

Untuk menutupi segala perbuatannya, Mas Karsim yang cerdik selalu saja mencari perempuan atau pelacur dari daerah-daerah yang lumayan jauh dan berbeda. Itulah sebabnya, para pelanggan tahu bahwa ia adalah seorang pengusaha yang sukses berkat ketekunannya. Segala kecurigaan atau suara-suara miring tentang warungnya tertepis dengan sendirinya. Buktinya, semua karyawan sejahtera dan terus bertambah jumlahnya seiring dengan dibukanya cabang di kota-kota lain.

Tapi tak ada seorang pun yang mampu menepis datangnya ajal. Bermula hanya sakit perut biasa, kian hari keadaan tubuh Mas Karsim semakin mengenaskan. Perut buncit sedang tubuhnya semakin kurus bak tulang berbalut kulit. Semua yang menjenguk merasa iba, menunduk lesu, khususnya sang istri dan kedua anak lelakinya yang sudah menyandang gelar sarjana, serta berpuluh anak yatim piatu yang selama ini mendapatkan bantuan dari Mas Mas Karsim.

“Lebih baik kita semua dengan ikhlas memohon kepada Allah agar Mas Karsim segera diangkat penyakitnya,” demikian kata Ustadz Nurdin sambil mengajak kedua anak Mas Karsim serta istrinya untuk mengaji di luar kamar rawat inap rumah sakit.

Sebelum memulai, Ustadz Nurdin sempat menghitung jumlah yang akan ikut mengaji. Ternyata 41 orang. Sambil tersenyum, Ustadz Nurdin pun berkata; “Kita membaca Yasin dengan khusyuk tiga kali balik. Semoga Allah memberikan ampunan kepada si sakit.”

Tepat usai, mendadak, terdengar suara letupan kecil yang diiringi dengan bau busuk yang demikian menyengat serta suara jeritan kecil dari istri Mas Karsim; “Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un ….”

Semua yang baru saja selesai mengaji beranjak masuk. Tak ada yang kuat berlama-lama di dalam. Kebanyakan mereka keluar sambil memuntahkan isi perutnya. Suasana jadi sedikit ingar. Melihat keadaan itu, Ustadz Nurdin segera berinisiatif memindahkan jenazah Mas Karsim untuk segera dimandikan dan dibawa pulang.

“Semua tenang … dan apa yang kalian semua lihat adalah pelajaran berharga dari Allah kepada kita semua. Oleh sebab itu, jadikanlah semua ini sebagai pelajaran dan bukan malah menjadi gunjingan,” katanya mengingatkan.

Tiga hari selepas pemakaman, warung soto di sudut jalan yang mulanya selalu ramai, mendadak kebakaran akibat arus pendek. Beruntung tak ada korban jiwa. Namun, semua perabotan yang ada tak bisa diselamatkan. Termasuk dua mobil mewah almarhum yang selalu terparkir di garasi yang terletak di sebelah warungnya. Semua ludes dimakan api.

Ustadz Nurdin yang memang mafhum akan hal itu hanya bisa berkata lirih; “Mintalah kepada Allah, pasti Ia akan memberi. Beginilah jadinya jika kita meminta kepada makhluk lain, pasti ada saja tumbalnya.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *