Digdaya Berkat Memakan Kembang Serai

Sejak kecil, perundungan dari teman-teman di sekitar rumah dan sekolahnya membuat jiwanya berontak, kini, ia kembali untuk menunjukkan bahwa dirinya bukanlah sosok yang mudah untuk dipermainkan ….
oleh: Kertawardhana

 

Neomisteri – Kodok (37 tahun) adalah julukan dari sosok yang sejatinya menyandang nama Bambang Purnomo. Terlahir dari keluarga amat bersahaja di lereng Gunung Arjuna yang merantau bersama keluarganya ke salah satu kota besar di Jawa Timur.

Karena sejak lahir sudah mengidap penyakit kulit dengan koreng yang memenuhi sebagian besar tubuhnya, jadilah ia lebih dikenal dengan sebutan Kodok — mengetahui keadaan itu ayah dan ibunya tak kuasa berkata apa-apa, maklum, alih-alih buat berobat, untuk makan sehari-hari saja mereka sudah kerepotan.

Baca: Siluman Patung Kera

Beruntung, Kodok mempunyai otak yang tergolong encer. Alhasil, walau dengan cara dilempar, ada beberapa teman yang nekat datang untuk meminta tolong mengerjakan PR-nya.

Hingga pada suatu hari, liburan panjang menunggu tahun ajaran baru masuk ke SMA digunakan oleh Kodok untuk kembali ke kampung halamannya. Boleh dikata, tiap hari, ia sibuk membantu mencari rumput untuk makanan kambing milik tetangganya yang dipelihara oleh sang kakek. Kadang, Mbah Parto trenyuh melihat keadaan sang cucu yang tak jua kunjung sembuh dari penyakit kulitnya.

Menurut sesepuh desa, penyakit tersebut hanya bisa sembuh dengan memakan kembang serai. Tampaknya mudah, namun, semua tahu bahwa kembang dari pohon yang satu ini tergolong langka. Sehingga, hanya yang beruntung yang dapat menemukan sekaligus memanfaatkan bunga yang satu ini.

Namun, karena tak tahan melihat penderitaan Kodok yang berkepanjangan, pada suatu pagi, ketika sang cucu akan berangkat mencari rumput, Mbah Parto pun berpesan dengan bahasa Jawa yang kental; “Cari kembang serai, kalau ketemu, petik dan langsung kunyah. Telan jangan ada yang tersisa. Mudah-mudahan Gusti Allah memberikan hidayah kepadamu”.

Seperti biasa, Kodok hanya mengangguk. Kemudian ia berpamitan setelah mencium kedua tangan kakek dan neneknya.

Tak seperti biasanya, Jumat kali ini, Kodok bangun kesiangan. Alhasil, ia menuju tebing sungai di sebelah Selatan desanya dengan berlari. Tujuannya satu, cepat sampai, dan dapat segera pulang untuk bersama-sama mendirikan Salat Jumat.

Ia lupa, tebing sungai di sebelah Selatan desanya tergolong tempat yang jarang bahkan tidak pernah didatangi oleh siapa pun. Maklum, di atasnya, terdapat makam keramat Mbah Suryo yang merupakan punden desanya. Setibanya di sana, Kodok sangat gembira. Betapa tidak, ia melihat hamparan rerumputan hijau yang subur — sontak, Kodok langsung mengeluarkan sabitnya dan mulai bekerja. Selang beberapa waktu, hatinya tercekat, matanya nanar menatap bunga serai segar mengangguk-angguk tertiup angin di antara rumpun daun yang segar.

Baca: Bakmi Godog Mas Heri

Dengan cepat, Kodok langsung memetik kembang serai itu dan langsung mengunyahnya. Setelah dirasa halus, ia langsung menelan sambil meminum air yang sengaja dibawanya dari rumah. Lepas itu, ia hanya merasakan merasakan hatinya lega.

Karena setibanya di rumah sang kakek hari sudah tinggi, Kodok langsung saja mandi kemudian berangkat ke masjid yang ada di tengah-tengah desanya untuk mendirikan Salat Jumat. Ia bahkan lupa menceritakan apa yang baru saja dialaminya.

Ilustrasi asap

Tiga hari setelah kejadian itu, Kodok hanya merasakan tubuhnya semakin ringan bahkan walau harus memikul rumput dan kayu bakar sekaligus, ia tidak pernah merasa berat apalagi capek. Tidak cukup sampai di situ, koreng di sekujur tubuhnya pun mengering dan mengelupas dengan sendirinya.

Baca: Karma Ilmu Pelet

Melihat perubahan pada diri cucunya, Mbah Parto pun bertanya dalam bahasa Jawa yang kental; “Kenapa kamu berubah?”

Kodok terkesiap, sesaat kemudian, ia pun menjawab bahwa Jumat kemarin tanpa sadar mendapatkan kembang serai di tebing sungai sebelah Selatan desanya. Mendengar itu, Mbah Parto pun berlinang air mata dan mengingatkan sang cucu untuk bersama-sama melakukan sujud syukur.

Hajar Tiga Penjahat

Singkat kata, di kota, Kodok di terima di SMA favorit. Berbeda dengan sebelumnya, di sekolah, Kodok termasuk sosok yang dikenal oleh hampir seluruh siswa. Betapa tidak, selain pandai, ia juga tidak sombong dan selalu bersedia membantu siapa pun yang membutuhkan pertolongannya.

Hari itu, sekolah mendadak menjadi heboh. Pasalnya, pagi itu, Kodok berhasil menggagalkan tiga penjahat yang hendak menjambret tas, serta merampas gelang dan arloji yang dikenakan oleh Ibu Rina. Sang wakil kepala sekolah berteriak sejadi-jadinya. Tapi apa daya, tak ada yang berani berkutik karena ketiga penjahat itu membawa clurit dan pedang yang selalu diayun-ayunkan ke arah anak-anak yang sudah datang terlebih dulu ke sekolah.

Melihat itu, Kodok langsung saja menghambur ke arah para penjahat. Yang satu langsung roboh akibat terkena pukulan telak di rahangnya, sementara, dua lainnya langsung menyerang ke arah Kodok. Teriakan ngeri pun terdengar bersamaan; “Awas …!”

Kodok pun berkelit. Jurus silat yang selama ini dipelajari dari sang kakek langsung digunakan — sementara badannya berkelit, kaki kanannya dengan telak berhasil menghajar dada penjahat. Tanpa ampun, sang penjahat pun terjengkang sambil memegangi dadanya. Melihat kenyataan itu, penjahat yang tersisa segera menaiki motornya dan langsung tancap gas kemudian menghilang di tengah keramaian bersamaan dengan datangnya Polisi.

Ketika ditanya kronologi kejadiannya, Kodok pun menceritakan apa yang dilihatnya. Sementara, Ibu Rina masih diam seribu basa. Ia sangat syok dengan kejadian yang baru saja dialaminya.

Baca: Tulah Mengundang Makhluk Halus

Ketika komandan polisi menanyakan tentang rahang dan tulang dada yang retak akibat terkena pukulan dan tentangan “T”, Kodok tak bisa menjawab. Ia seolah kebingungan dan malahan bertanya pada dirinya sendiri; “Apakah kekuatan itu karena ia memakan kembang serai?”

Pertanyaan itu baru terjawab di akhir tahun ketika ia pulang ke desanya. Menurut sang kakek, siapa pun yang memakan kembang serai, selain memiliki tenaga yang berlipat ganda — kulit yang bersangkutan juga mulus dan disayang oleh banyak orang.

Hari terus berganti, ketika reuni SMA, walau tetap dipanggil Kodok, namun ia tetap saja rendah hati dan tidak sombong. Padahal, kini, ia telah menjadi pengusaha angkutan yang tergolong besar dan sukses.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Arwah Penasaran Para Narapidana

Walau merupakan salah satu bekas bangunan penjara terseram di Amerika Serikat, namun, belakangan, Eastern State Penitentiary menjadi objek wisata yang cukup diminati oleh para...

Mimpi Bertemu Artis atau Orang Terkenal

Mimpi tersebut menjadi pertanda jika kabar baik akan menghampiri kehidupan anda.   Neomisteri - "Percaya enggak percaya, semalem ane mimpi ketemu Luna Maya (artis)," kata Mat...

Bayam Berduri

Baru Cina

Artikel Terpopuler