Dikejar-kejar Glundung Pringis

Keusilannya membuat hantu yang biasa mengganggu orang lewat di dekat makam keramat itu menjadi murka dan mengejarnya sampai ke rumah ….
oleh: Harimurti

 

Neomisteri – Di kampung itu, siapa yang tak kenal dengan Harto. Selain jail dan jika berlari secepat angin hingga tak mjungkin terkejar oleh siapa pun, ia juga merupakan cucu kesayangan Mbah Kromo — sosok yang dituakan dan menurut banyak masyarakat memiliki ilmu kanuragan yang sangat mumpuni. Boleh dikata, Mbah Kromo adalah salah satu pewaris ilmu serta kekayaan leluhurnya yang menurut tutur adalah sosok yang mula pertama membuka lahan di daerah itu untuk pertama kalinya.

Baca juga: Keangkeran Pabrik Karet Mijen

Boleh dikata, Harto lahir dan dibesarkan oleh keluarga yang berada dan terpandang di kampungnya. Oleh sebab itu, tak heran, walau jail, boleh dikata satu desa pasti segan dan menghormatinya — bahkan semua penduduk memaklumi keusilannya — maklum, walau usil, Harto tergolong sosok yang ringan tangan dan siapa membantu siapa pun tanpa pandang bulu.

Ia bahkan tak segan-segan menolong Mbok Iro yang kala itu keberatan menggendong kayu bakar. Padahal, kebanyakan orang malas menolong wanita yang satu ini karena kegemarannya bergunjing dan sering memberikan janji muluk.

Itulah Harto ….

Marno, sahabat neomisteri menceritakan dengan sangat rinci kelakuan sehari-hari sahabatnya ketika ia duduk di kelas enam SD. Sadar akan kemampuanya berlari cepat serta tahu tepat jika rumah joglo yang dihuni dipasangi pagar gaib yang tak mungkin tembus oleh berbagai kekuatan hitam bahkan makhluk tak kasat mata, malam itu, lepas mengaji di surau, Harto sengaja lewat di dekat pohon kelapa yang terkenal angker di sudut persawahan.

Alih-alih malam, menjelang rembang petang, atau sekitar pukul empat sore saja tak ada seorang pun yang berani melewati pohon kelapa yang didekatnya terdapat sebuah makam tua tak dikenal yang selalu mengganggu siapa pun yang lewat di dekatnya. Biasanya mereka akan melihat ada buah kelapa tergeletak dan ketika memungutnya buah tersebut sontak berubah menjadi kepala manusia dengan wajah yang teramat menakutkan. Masyarakat biasa menyebutnya dengan nama “glundung pringis”.

Baca juga: Hantu Rumah Mertua

Menurut Mbah Kromo pada suatu kesempatan upacara bersih desa yang biasa dilakukan pada bulan Sela atau Syawal; “Saya sampai di tempat ini, makam itu sudah ada. Sebagai sesama makhluk ciptaan-Nya, maka, rawat dan peliharalah dengan baik untuk menunjukkan bahwa kita semua adalah orang-orang yang menghormati para pendahulunya”.

Malam itu, dengan langkah pasti, Harto sengaja lewat di dekat pohon kelapa angker itu. Namun, ia tak menemukan apapun di sana. Esoknya, Harto kembali mengulang lewat di tempat itu. Kali ini cuping hidungnya hanya mencium bau busuk yang teramat sangat. Tapi, ia tak melihat ada benda lain di sekitar tempat itu.

Ilustrasi asap

Seolah penasaran, esoknya, Harto kembali melewati tempat itu. Kali ini, ia dihadang oleh glundung pringis yang selama ini sering mengganggu penduduk desa. Ya … beberapa langkah di depannya, tampak kelapa yang perlahan namun pasti berubah menjadi wajah yang tengah menyeringai — sejenak Harto kemekmek — setelah itu ia pun lari pulang secepat-cepatnya.

Kejar-kejaran pun terjadi. Harto pun berhasil sampai di pagar rumahnya yang dibatasi dengan tetumbuhan dan langsung menerobos masuk menuju ke pendopo ke arah sang kakek yang sedang duduk di kursi goyang sambil menikmati kopi panas. Tapi apa yang terjadi, glundung pringis itu tak berani mengejar Harto sampai ke dalam.

Baca juga: Misteri Tol Jombang Lokasi Kecelakaan Maut Vanessa Angel

Ia tidak mampu menerobos pagar gaib yang sengaja dipasang oleh Mbah Kromo — oleh sebab itu, sang glundung pringis hanya bisa menyeringai dengan wajah yang semakin menakutkan seolah mengingatkan Harto agar tidak lagi mengganggunya.

Melihat itu, Mbah Kromo pun berkata dengan tenang namun tegas dalam bahasa Jawa yang kental; “Maafkan cucuku, ia usil karena masih anak-anak. Sekarang, pulanglah, dan jangan ganggu orang-orang lagi”.

“Kasihan mereka yang punya sawah di situ”, lanjut Mbah Kromo, “silakan perlihatkan dirimu kepada orang-orang yang akan berbuat jahat di desa ini”, imbuhnya.

Terlihat asap hitam yang kian lama kian tipis karena tersapu angin malam, dan glundung pringis itupun hilang seolah ditelan bumi.

Baca juga: Hantu Ranjang

Yang paling aneh, sejak itu,. Tak pernah ada lagi cerita glundung pringis yang membuat warga desa lari lintang pukang jika melewati pohon kelapa yang ada di sudut sawah. Apakah karena mendapatkan teguran keras dari Mbah Kromo atau karena malu tak mampu mengejar Harto yang larinya secepat angin.

Biarkan waktu yang menjawabnya ….

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Dikuntit Banaspati

Bagi para pengendara kendaraan bermotor khususnya bus atau truk jalur Solo-Ngawi, sampai sekarang, Hutan Mantingan, masih dianggap sebagai salah satu ruas jalan yang tergolong...

5 Tips Suami Agar Tidak Selingkuh

Neomisteri - Perselingkuhan menjadi momok yang menakutkan bagi semua pasangan suami istri. Pasalnya tidak sedikit perceraian yang disebabkan adanya perselingkuhan yang terjadi. Sebenarnya, ada beberapa...

Siluman Patung Kera

Artikel Terpopuler