Esmu Unggul dalam Berbicara

Ia bak orator yang tiada tanding, selain menggunakan bahasa yang mudah dimengerti dan runtut, di atas podium, ia juga mampu menebarkan pesona yang benar-benar tiada tandingannya ….
Oleh: Pras Setyadi

 

Neomisteri – Pertandingan debat yang sedang digelar di kampus mulai memasuki babak akhir, Tim Fak Hukum bertemu dengan rival abadinya, tim dari FISIP. Semua mengikuti dengan berdebar dan masing-masing menjagokan fakultasnya.

“Tim Hukum pasti menang. Di sana ada Pras, jagoannya,” demikian kata Hardi ketika mereka kumpul di kantin.

Mendengar itu, semua mahasiswa Fakultas Hukum langsung saja berteriak; “Pras … Pras … Pras pasti juara!”

“Hukum …,” demikian kata Hardi lagi.

“Juara!” Demikian kata yang lain serempak.

Gumam tentang kelebihan Pras langsung saja berdengung di kantin kampus. Hampir semua mahasiswa Fakultas Hukum atau yang mengenalnya memuji kelebihan lelaki kurus yang satu ini. Betapa tidak, selama ini, Pras bak orator yang tak tertandingi. Dengan kata lain, kebesaran nama kampus dalam pertandingan debat antarmahasiswa adalah berkat Pras.

Sementara itu, di seberang sana, Tim FISIP hanya bisa diam. Mereka lebih banyak menggelar diskusi, tepatnya simulasi debat yang bakal digelar nantinya ….

Saat yang dinanti tiba, para juri sudah duduk di tempatnya masing-masing, Tim Fakultas Hukum berada di posisi pemerintah, sementara Tim FISIP pada oposisi — sementara mosi atau topik yang bakal diperdebatkan adalah; “Dewan ini akan membebankan pajak lebih besar kepada perusahaan multinasional yang menerapkan 996 di negara asal mereka (996 adalah budaya kerja yakni karyawan dituntut untuk bekerja dari pukul 09.00 sampai 21.00, 6 hari dalam seminggu seperti Alibaba, DJI, JD.com).”

Pras kembali menunjukkan kemampuannya. Walau dalam uraian terdapat beberapa argumennya yang lemah, namun entah kenapa, Tim FISIP tidak mampu melihat peluang itu. Mereka seolah terpesona dengan gaya Pras yang dianggap sangat luar biasa itu.

Selepas berdebat, sambil menunggu keputusan dewan juri yang sedang bersidang, kedua tim debat berkumpul dan saling memberikan komentar atas argumen masing-masing. Secara umum, semua beranggapan, sementara ini Pras memang lebih unggul dari yang lainnya.

Hardi yang sejak awal memperhatikan dengan saksama cara Pras berargumen bahkan retorikanya beranggapan, ia pasti memiliki sesuatu. Namun, Hardi tak pernah mampu mengurai kecurigaan yang membersit darti hati kecilnya.

Berbilang waktu, pertanyaan tentang apa yang menyebabkan Pras begitu mempesona sehingga lawan tak pernah bisa berpikir tentang kelemahan argumentasi yang dilontarkan terus berputar-putar di kepalanya.

Karena penasaran, akhirnya, pada suatu pagi, Hardi menanyakan hal itu kepada Pras. Mendapat pertanyaan yang tak disangka-sangka, sekali ini Pras seolah tak mampu menghindar. Dengan terputus-putus ia menjawab; “Sebenarnya, gua ngamalin ilmu warisan keluarga yang selama ini dipakai oleh Bapak dan Kakak tertua yang menjadi pengacara”.

“Ohh … ilmu Jawa?” Desak Hardi.

“Ya … menurut kata Bapak, ilmu ini warisan dari salah seorang Wali Sanga, Sunan Kalijaga,” jawab Hardi, “selain tidak meninggalkan salat lima waktu, kita juga harus menjalani puasa mutih selama tujuh hari tujuh malam dan puasa nglowong sehari semalam juga”.

“Tolong terangkan puasanya,” pinta Hardi penuh harap.

“Mutih adalah kita melakukan puasa dengan hanya memakan nasi putih dan meminum air putih saja. Seyogianya, makan dan minum hanya sekali dalam sehari. Tepat tengah malam saja,” jawabnya.

“Makan juga tidak boleh seenaknya. Jika puasa tujuh hari, maka, makan hari pertama tujuh kepal, hari kedua enam kepal, hari ketiga lima kepal dan terus dikurangi jumlahnya. Sementara, minumnya hanya segelas,” lanjutnya lagi. “Sedang puasa nglowong adalah tidak makan, tidak minum dan hanya tidur seperlunya. Umpama tertidur, jika terjaga, maka, kita tidak boleh tidur lagi,” imbuhnya.

Adapun mantra atau esmunya adalah:

Bismillahhirrahmanirrakim.
Barang guntur amuk tanpa tuduh gajah mekta tanpa tujah.
Urup geni guntur sirep.
Lamun arsa Allah nglebur Sang Hyang Kala.
Lailahailellah.

Ketika Hardi menanyakan apakah esmu tersebut bisa dipublikasikan, Pras pun menjawab; “Silakan, karena menurut Bapak, walau kelihatan mudah, namun, belum tentu orang dapat mengamalkannya. Esmu ini akan memilih sendiri siapa yang dianggapnya paling tepat”.

“Maksudnya?” Potong Hardi.

“Hanya yang terpilih saja. Yang tidak terpilih, walau telah mengulang puasa beberapa kali, tetap saja tidak bisa menggunakan esmu ini dengan sempurna,” jawabnya sambil tersenyum.

Hardi pun mengangguk tanda mengerti. Demikian salah satu esmu peninggalan para leluhur diharapkan dapat menambah wawasan para pembaca neomisteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *