Gila Akibat Harta Karun Jepang

Kegilaannya untuk mendapatkan harta karun yang konon ditinggalkan oleh bala tentara Jepang membuatnya lupa diri, selain harta yang dimilikinya ludes, istri dan ketiga anaknya juga meninggalkannya ….
Oleh: Tarmidzi

 

Neomisteri – Rentang 1980-1985, kala itu, hampir tiap orang membicarakan pencarian harta karun, atau pencairan harta amanah Bung Karno. Pembicaraan ini tak hanya di warung kopi atau tempat-tempat tertentu saja, bahkan di hotel-hotel berbintang.

Kini, hal yang serupa kembali menghangat bahkan membuat ingar seluruh negeri — terutama dengan adanya Keraton Agung Sejagat, Sunda Empire dan King of The King — semua mengklaim sebagai penerus kejayaan masa lalu.

Neomisteri mencoba mengumpulkan ingatan tentang masa itu, ketika salah seorang sahabat yang bernama Anto dengan tergopoh-gopoh datang untuk sekadar memberitahu dan menitipkan keluarganya karena ia akan berangkat untuk mewujudkan harta karun peninggalan Jepang yang konon disimpan di Pulau Sangiang, Banten, yang dijaga oleh beberapa makhluk gaib tepatnya Buto Ijo yang memiliki kesaktian luar biasa.

Sudah jadi rahasia umum, jika benda atau permata jatuh ke tanah dan tidak cepat diambil, maka, dalam waktu singkat benda tersebut akan dikuasai oleh makhluk-makhluk astral. Oleh sebab itu, tidak heran, jika harta karun peninggalan tentara Jepang di Pulau Sangiang telah dikuasai oleh makhluk-makhluk tersebut.

Singkat kata, berbekal uang seadanya dari neomisteri, Anto bersama dengan empat orang temannya berangkat ke Pulau Sangiang. Kali ini ia sangat bersemangat, maklum, selain punya penyandang dana yang cukup kuat — kali ini, Anto juga membawa salah seorang spiritualis yang dianggap andal dari Jawa Timur.

“Sekali ini pasti berhasil,” kata Anto dengan penuh semangat. “Titik kordinatnya juga sudah diketahui dengan pasti oleh Mbah Ali,” lanjutnya sambil berjalan meninggalkan neomisteri.

Neomisteri hanya bisa menarik napas dalam-dalam atas kenekatan Anto. Maklum, hampir tiap hari ia bertengkar dengan istrinya karena hampir semua harta miliknya ludes untuk berburu harta karun. Bahkan, untuk membayar kontrak rumah dan makan sehari-hari keluarganya, sang istri dengan malu dan tertekan harus berutang dulu di warung Mpok Ijah.

Walau telah diingatkan, namun, Anto tetap bersikukuh pada pendiriasnnya sambil berkata dengan penuh percaya diri; “Suatu saat, aku bakal kaya dan melunasi semua utang.”

Sebenarnya, Mpok Ijah, sang pemilik warung dan rumah kontrakan sudah enggan memberikan kebijaksanaan, tapi apa daya, ia tak tega dengan istri dan ketiga anak Anto yang hrus menangis karena kelaparan.

Menjelang Magrib, Mbak Atik, istri Anto dan ketiga anaknya mendatangi neomisteri untuk pamit karena mau pulang ke kampung halamannya. “Saya mau pulang kampung dan sudah bicara banyak sama Mpok Ijah. Bahkan ia yang meminjamkan uang untuk tiket bus dan sekadar makan serta ongkos. Setelah sampai rumah, nanti saya ganti,” demikian katanya sambil terisak.

Neomisteri hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala dan mengangguk serta memberikan uang sekadarnya kepada Mbak Atik. “Buat tambah-tambah jajan di jalan,” demikian kata neomisteri.

loading...

Hari terus berganti, pada hari ke enam, sekitar pukul 14.00 datang tiga orang lelaki membawa Anto dalam keadaan lemas, lusuh dengan mata nyalang serta mulut yang terus menceracau tak karuan.

“Bapak, benarkan orang ini tinggal di sini? Saya tahu alamatnya dari KTP,” demikian kata salah seorang lelaki yang mengaku sebagai nelayan dari Pelabuhan Paku, Anyer, Banten. “Dan kami menemukannya di sekitar Pulau Sangiang,” lanjutnya lagi.

Neomisteri, Mpok Ijah dan beberapa tetangga lain hanya saling tatap. Bingung. Akhirnya, ketiga orang tersebut minta diri untuk kembali ke Anyer setelah meninggalkan alamatnya kepada kami.

“Coba bawa ke Wak Mukri,” kata Mpok Ijah memecah keheningan. “Siapa tahu bisa baek,” lanjutnya dalam bahasa Betawi yang kental.

Semua mengangguk tanda setuju. Sementara, Anto dengan tubuh lunglai dipapah. Setibanya di rumah Wak Mukri, lelaki renta itu langsung saja berkomentar; “Rasanya susah. Selain napsunya gede, ini anak juga salah. Yang diliat emas, padahal itu batu biasa. Jadi dia udah ketipu ama napsunya sendiri.”

Semua kembali saling pandang. Mereka kagum dengan kewaskitaan lelaki renta itu. Mpok Ijah kembali nyeletuk; “Bikinin aer aja Wak, biar rada adem. Terus kita kudu pegimane?”

“Baek,“ kata Wak Mukri sambil mengambil segelas air dan berkata; “Bawa aja ke rumah sakit. Perawatannya lama. Kalo di sono kan ada yang jagain. Dokternya juga jago-jago”.

Singkat kata, dengan surat jaminan RT setempat, akhirnya, Anto dirawat di Rumah Sakit yang terletak di Bogor.

Usut punya usut, ternyata, ketika Mbah Ali, spiritualis dari Jawa Timur dan beberapa orang lainnya sedang khusyuk dalam doa di dekat pokok pohon kelor di Pulau Sangiang, Anto sengaja membuka matanya dan langsung menjauh — paginya, ketika mereka usai berdoa, Mbah Ali pun berkata; “Menurut sang penunggu gaib, harta karun itu tidak ada. Kita diminta segera kembali jika tidak ingin celaka”.

Semua setuju. Mbah Ali pun bertanya; “Mas Anto di mana?”

Mereka baru sadar, ternyata, Anto tidak berada di tengah-tengah mereka. Pencarian pun dilakukan, tapi apa daya, Antro bak hilang ditelan bumi.

Mbah Ali hanya bisa berkata; “Kita tinggal dan doakan agar ia selamat dan tidak terganggu ingatannya karena melihat tumpukan harta karun”.

“Lalu, bagaimana dengan isyarah yang diterima Mbah Ali?” Tanya salah seorang dari mereka penasaran.

“Kelor adalah merupakan harta karun yang belum tergali. Pada saatnya, daun kelor akan menjadi salah satu komoditi ekspor yang harganya cukup tinggi,” demikian paparnya panjang lebar.

“Lha kenapa Mbah Ali mau berangkat kesini?” Desak mereka.

“Karena penyandang dana dan Anto selalu mendesak karena mereka begitu yakin bahwa bala tentara Jepang memendam sebagian emas dari Tambang Cikotok di Pulau Sangiang,” jawabnya. “Walau sudah diterangkan, tapi, mereka tetap saja ngotot,” lanjutnya lagi.

“Oleh sebab itu, sepanjang jalan, saya selalu mengingatkan agar jangan terlalu bernafsu jika melihat sesuatu. Banyak menyebut kebesaran asma-Nya,” pungkasnya.

Demikian sekelumit pengalaman neomisteri semoga dapat diambil hikmahnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *