Golok Pusaka Eyang Langlang Buana

Pada zamannya, tokoh yang konon menjelma menjadi harimau hitam dan juga memiliki nama lain Ki Jagasatru atau Ki Jagaraksa adalah penegak hukum yang benar-benar adil dan bijaksana ….
o
leh: Koko Sunarko

Neomisteri – Silang pendapat tentang Eyang Langlang Buana sampai sekarang seolah tak pernah habis untuk diperbincangkan. Ada yang menyatakan Eyang Langlang Buana berbeda dengan Eyang Jagaraksa atau Jagasatru, namun, banyak pula yang meyakini bahwa dua nama yang belakangan adalah sama dengan Eyang Langlang Buana. Artinya, itu merupakan nama dari seseorang. Tidak hanya itu, bagi para sesepuh ada pula yang meyakini bahwa pada zaman pewayangan, Eyang Langlang Buana adalah sosok manusia pertama yang turun ke dunia.

Warta berkisah, pada zamannya, Prabu Siliwangi menunjuk salah seorang untuk menjadi kepercayaannya menjadi penegak hukum di lingkungan kerajaan Pajajaran — tak lama setelah itu, ditunjuk pula dua sosok sebagai pendampingnya, yakni Eyang Jagariksa dan Eyang Jagapirusa. Dengan kata lain, ketiganya bertanggungjawab atas keamanan di Kerajaan Pajajaran.

Bertalian dengan yang tersebut di atas, ada yang menyatakan bahwa Eyang Langlang Buana berasal dari Kerajaan Bugis, Makasar, yang kemudian menikah dengan seorang wanita di Pajajaran. Sebelumnya, ia mengembara ke berbagai tempat. Di antaranya ke Tanah Arab selama 77 tahun dan setelah itu barulah kembali ke Tatar Jawa, tepatnya Pajajaran. Agaknya, pengembaraan panjang ke berbagai tempat telah membuat sosok yang satu ini dikenal atau mendapatkan julukan sebagai Eyang Langlang Buana yang memiliki arti; Pengeliling Dunia.

Pada waktu-waktu tertentu, di daerah Bogor, tepatnya di salah satu tempat dalam hutan Gunung Salak yang termasuk dalam wilayah Sindangbarang, Bogor, masyarakat datang dengan membawa sesaji berupa kembang tujuh rupa, jajanan pasar, buah, kopi manis dan pahit, teh manis dan pahit, air putih, kelapa muda — suatu tradisi yang sebagai tradisi ngembangan — mendatangi petilasan yang disebut-sebut merupakan tempat peristirahatan Eyang Langlang Buana.

Jasa besar dan keluhuran budi dari Eyang Langlang Buana, rasanya memang layak untuk diabadikan. Oleh sebab itu, sebagai pengejawantahan dari tokoh yang satu ini, maka, Kepolisian Jawa Barat mengabadikannya sebagai simbol; Macan Hitam.

Tidak berhenti sampai di situ, beruntung, neomisteri beruntung bertemu dengan salah seorang garis keturunan Eyang Langlang Buana. Ia dengan tegas enggan menyebutkan jati dirinya, dan meminta untuk disembunyikan alamat jelasnya. Yang pasti, ia mukim di Bandung Selatan dan merupakan salah seorang pensiunan pegawai negeri.

Ketika neomisteri menanyakan alasannya, ia dengan jelas menyatakan; “Ini semua demi keamanan pusaka turun temurun keluarga kami”.

Dengan panjang lebar, lelaki paruh baya di depan neomisteri bercerita; “Banyak orang berniat menguasai Golok Eyang Langlang Buana. Tapi, tak seorang pun ada yang mampu mendeteksi keberadaan golok warisan keluarga kami. Sebab, hanya orang yang jujur dan bijaksana serta punya garis keturunan saja yang dapat menyimpannya. Selain itu, si pemegang Golok Eyang Langlang Buana juga harus selalu bersyukur kepada Yang Maha Hidup atas apa yang diterimanya”.

Singkatnya, si pemegang harus benar-benar orang amanah pada hidup dan kehidupan”, katanya sambil berjalan masuk ke dalam kamar dan keluar sambil memperlihatkan golok dengan ukiran kepala macan berwarna hitam yang memiliki panjang bilah lebih kurang satu meter dengan sarung berwarna hitam yang di bagian tengah dan hampir di bawahnya terdapat ikatan ijuk.

Lalu, kira-kira, siapa yang bakal memegangnya setelah ini?” Tanya neomisteri.

Itu semua kami serahkan kepada Yang Maha Kuasa dan para leluhur. Karena menurut cerita, pada suatu zaman, Golok Eyang Langlang Buana akan kembali kepada pemiliknya setelah melewati “tahun saringan”, atau yang di Jawa lebih dikenal dengan kata; Wong Jowo tinggal separo, Cino Londo kari sejodo”, jawabnya singkat.

Hari pun rembang petang, karena dianggap cukup, maka, neomisteri pun mohon diri untuk kembali ke rumah.

Leave a Reply