Keangkeran Rumah Tempat Penyiksaan Mata-mata Belanda

Liburan semester kali ini benar-benar luar biasa, betapa tidak, aku yang selama ini mengabaikan takhayul benar-benar membuktikan suasana yang mencekam sekaligus melihat penampakan tubuh tanpa kepala ….
oleh: Putra Lesmana

 

Neomisteri Di antara teman-teman di kampus, Ari (20 tahun) adalah salah satu sahabat yang sangat sulit untuk dilepaskan dari hidup dan kehidupanku. Maklum, sejak menginjakkan kaki untuk pertama kalinya di Kampus Perjuangan yang terkenal dengan “Yellow Jacket”, Ari demikian setia selalu menemaniku.

Ia yang mengaku berasal dari salah satu keluarga petani di bilangan Ujung Kulon, Banten, selain ramah, juga dikenal taat beragama dan jago membaca Al Quran. Beruntung aku punya sahabat seperti Ari yang tak bosan-bosan selalu mengingatkan agar jangan sekali-kali meninggalkan salat dan menjauhi segala larangan-Nya.

Sejak itulah, aku yang mulanya gemar minuman keras, langsung malu dan segan — perlahan namun pasti bahkan mulai menghindarinya.

Baca juga: Siluman Patung Kera

Liburan semester pertama, aku mengajak Ari ke kota asalku, Wonosobo. Ayah, ibu dan seluruh keluargaku menyambut dengan gembira. Mereka senang, aku yang selama ini susah meninggalkan kebiasaan menenggak minuman keras bisa berhenti dalam waktu singkat — lebih tepatnya berubah 180 derajat. Jadilah Ari bak tamu agung. Itulah yang membuat ia berjanji akan membawaku pada liburan akhir semester di kampung halamannya yang terletak di bilangan Ujung Kulon, Banten.

“Tapi di daerah gua, tepatnya, rumah yang gua tinggalin tergolong angker. Maklum, cerita orang-orang tua, dulu, rumah itu kandang kambing dan pernah dipakai nyiksa tiga mata-mata Belanda yang ketangkap”, katanya seolah meminta pendapatku.

Aku hanya tersenyum kecut sambil berkata; “Jujur … menurut gua, itu semua takhayul. Sebab, dimensi kehidupan kita beda sama mereka”.

“Yang itu gua sepakat”, sahut Ari, “tapi …”.

“Tapi apa?” Potongku cepat.

“Di sana, bukan aku berharap, pasti beda. Kalau kata orang-orang tua, tuah tanah Ujung Kulon bikin makhluk tak kasat mata jadi mudah berinteraksi dengan manusia. Mulai dari penampakan bahkan ada yang sempat berdialog dan menceritakan apa yang menyebabkan mereka sampai begitu”, papar Ari panjang lebar.

“Seru juga”, kataku, “semoga liburan di sana jadi kenangan indah dan tak terlupakan”, tambahku lagi.

Ilustrasi hantu tangga
Ilustrasi hantu tangga

Liburan akhir semester pun tiba. Tanpa berlama-lama, aku dan Ari bersiap-siap untuk mudik ke Ujung Kulon — setelah terguncang-guncang sekitar enam jam di atas Bus Arimbi ditambah dengan sekitar 50 menit di atas motor, menjelang Ashar, kami pun sampai di rumah Ari. Bapak dan emak serta Ninin sang bungsu menyambut kami dengan riang.

Baca juga: Diganggu Hantu Menyeramkan di Basement

Kami pun langsung terlibat dalam pembicaraan yang hangat, ketika menjelang waktu Magrib, sang Bapak mengingatkan agar aku dan Ari bersiap-siap untuk mendirikan salat di surau. Seperti kebiasaannya, kami baru kembali ke rumah lepas Isya. Di tengah perjalanan pulang, tepatnya, di pohon Pulai dekat dengan kandang kambing, aku mulai merasa seolah sedang diawasi. Berulang kali aku melirik bahkan sampai menoleh, tapi, tak juga tampak sosok yang tengah mengawasiku.

Sesampainya di rumah, hidangan pun telah tersaji. Nasi panas, sayur lodeh, dengan lauk telur mata sapi, tempe, tahu, ikan asin ditambah sambal dan juga lalapan. Sang Bapak dengan ramah mempersilakan kami pun makan bersama sambil sesekali berbincang tentang suasana kuliah.

Di tengah-tengah itu, tiba-tiba Ninin berkata dalam bahasa Sunda yang kental; “Ayo … jangan ganggu Ki, ini sahabatnya Aa baru datang dari Jakarta”.

Sang ayah hanya berdehem, sementara sang ibu pun menimpali; “Jangan maujud, kasihan Nak Toto, nanti dia takut terus enggak mau main ke sini lagi”.

Ari menterjemahkan apa yang dikatakan oleh adik dan emaknya. Aku pun mengangguk, ternyata, apa yang dikatakan Ari tentang makhluk halus yang maujud dan dapat berdialog dengan manusia benar adanya. Perasaan takut pun sontak bergayut di relung hati ….

Usai makan, sang Bapak pun bercerita; dahulu, zaman perang, gerilyawan berhasil menangkap tiga mata-mata Belanda. Karena berbelit-belit, akhirnya, ketiganya dieksekusi tanpa ampun di bawah pohon Pulai. Tapi, jasad ketiganya tidak ada yang utuh. Ada yang tanpa kepala, ada yang tanpa kaki, dan ada juga yang tanpa kepala dan perut terburai.

“Oh …”, kataku tanpa sadar.

“Maklum, sebagai pengkhianat, mereka juga memiliki bekal ilmu kanuragan yang tidak main-main. Oleh sebab itu, para gerilyawan pun mengambil keputusan untuk memisahkan jasad mereka. Jadilah, sampai sekarang ketiga pengkhianat itu masih terus mencari jasadnya yang hilang. Kalau kita, maksud Bapak keluarga kami, mereka tidak berani ganggu. Hanya sekadar menampakkan diri saja, tidak lebih ….” paparnya menerangkan.

“Alhamdulillah, biasanya, para makhluk halus bahkan sampai binatang buas segan dengan keluarga kami karena Uyut adalah sesepuh di daerah sini. Selain ilmu kanuragan, beliau juga menguasai ilmu agama yang mumpuni … selain itu, beliau lah orang yang pertama mukim di desa ini”, timpal Ari.

“Itulah sebabnya, kenapa aku segan mengajak teman-teman atau siapa pun untuk bermain apalagi sampai menginap. Maklum, kadang mereka suka usil maujud”, tambah Ari menerangjelaskan kenapa ia begitu keras menolakku untuk datang dan menginap di desanya.

Aku pun mengangguk. Ketika hendak tidur, seperti biasa, aku pun membaca doa-doa agar terhindar dari segala gangguan ….

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Heboh Supir Truk Memfoto Penampakan Hantu di Terowongan

Neomisteri - Seorang sopir truk, Stephen Smyth yakin telah memfoto penampakan sosok hantu saat dia hendak melewati sebuah terowongan di Cork, Irlandia bersama rekannya,...

Manusia Super: Kisah Nyata Manusia Karet asal Inggris

Kulitnya begitu longgar dan melar seperti hendak lepas dari tubuhnya. Sehingga dia bisa mengubah perutnya menjadi meja untuk meletakkan tiga botol bir. Selain itu,...

Artikel Terpopuler