Kerajaan Ghaib Macan Putih di Gunung Raung

Selain menyimpan keindahan yang sulit untuk diungkap dengan kata-kata, gunung yang terletak di antara Kabupaten Banyuwangi, Bondowoso dan Jember, Jawa Timur, juga disaput oleh nuansa mistik yang demikian kental ….
Oleh: Madun Setiawan

Neomisteri – Akhir 2018. Kali ini, kami yang terdiri dari Aku, Galih, Ipul, Dimas dan Indra sepakat untuk menghabiskan liburan tutup tahun di puncak Gunung Raung, Jawa Timur.

Maklum, karena kesibukan kuliah, kami hanya sempat beberapa kali melakukan pendakian di gunung-gunung yang terdapat di Jawa Barat, Di antaranya, Gunung Salak, Gunung Gede dan Gunung Ciremai. Selain situ, Dimas dan Galih juga sudah setahun tidak pulang ke kampung halamannya di Sidoarjo dan Situbondo.

Dengan kata lain, kami mendaki sekaligus juga ingin bersilaturahim dengan keluarga dua sahabat yang senasib sepenanggungan selama kuliah di Jakarta — maklum, selain mendaki gunung, kami juga memiliki hobi yang sama dalam olah raga. Karate. Boleh dikata, kami berlima menjadi andalan kampus kami untuk mendulang medali dalam setiap pertandingan.

Dari rumah keluarga Galih di Situbondo, setelah sarapan mendengarkan pesan untuk selalu meminta keselamatan dalam perjalanan hanya kepada Allah, kami pun berangkat.

Setelah melapor dan mengisi formulir, kami pun berdoa bersama dan mulai mendaki Gunung Raung — jalur yang harus kami lalui memiliki empat pos, yakni Pondok Sumur, Pondok Mayit, Pondok Dhemit dan Pondok Angin.

Mendengar nama-nama pos yang harus dilalui, Dimas sontak mengernyitkan kening. Betapa tidak, ia baru pertama kali mendaki Gunung Raung.

Aku, Galih, Ipul, dan Indra sontak berkata untuk membesarkan hati Dimas; “Tenang, makanya, konsentrasi penuh dan jangan putus selawat”.

Sambil berjalan Dimas dan Galih pun menceritakan nuansa mistik yang acap terjadi di pos pendakian yang bakal mereka lewati. Areal pendakian Pos Pondok Sumur, sejatinya, di sini terdapat sebuah sumur yang hingga kini diyakini masih ada walau tidak bisa terlihat oleh mata telanjang. Dahulu, sumur tersebut biasa digunakan oleh seorang pertapa sakti yang berasal dari Gresik. Keangkeran areal ini bisa dirasakan oleh banyak orang, buktinya, para pendaki yang kerap berkemah acap mendengar suara derap kuda di belakang tenda mereka. Namun begitu mereka keluar, tak ada apa pun yang melintas ….

Keangkeran Gunung Raung tidak cukup sampai di situ, Pos Pondok Demit juga mampu membuat siapa pun meremang bulu romanya. Maklum, di tempat ini, pada hari-hari tertentu banyak pendaki merasakan hal-hal yang aneh, misalnya suara-suara seperti orang sedang menjajakan dagangan dan tawar menawar. Padahal lokasi Pasar Setan yang ada di sebelah timur jalur pendakian hanya merupakan lembah dangkal yang dipenuhi oleh tetumbuhan perdu dan ilalang setinggi perut — agaknya, keangkeran tersebut juga ditunjang oleh orang-orang yang lemah iman untuk bersekutu dengan dunia kegelapan agar hidupnya di dunia bergelimang dengan harta kekayaan.

Ya … tempat tersebut lebih dikenal sebagai kawasan untuk mencari pesugihan ….

Sementara, Pos Pondok Mayit, keangkerannya sesuai dengan namanya. Maklum, di tempat ini pernah diketemukan sesosok mayat orang Belanda yang menggantung karena dibunuh oleh para pejuang …, selanjutnya, aura mistik yang menyelimuti Pos Pondok Angin adalah suara kuda dan derit kereta kencana. Maklum, kawasan ini diyakini merupakan pintu gerbang untuk masuk ke kerajaan gaib yang dikenal dengan nama Kerajaan Macan Putih dengan rajanya yang sangat terkenal, Pangeran Tawangalun.

Menurut keyakinan masyarakat sekitar, sampai sekarang, kerajaan gaib yang dipimpin oleh Pangeran Tawangalun dan merupakan salah satu putra dari Kerajaan Majapahit yang mukswa (hilang) ketika menjalani tapa brata sampai sekarang masih ada.

Keyakinan itu dikuatkan, jika di kerajaan gaib Macan Putih sedang menggelar hajat, maka, banyak hewan peliharaan penduduk mati mendadak. Menurut kepercayaan mereka, hewan peliharaan itu bukan mati mendadak, melainkan, sebagai upeti kepada sang penguasa kerajaan gaib.

Galih kembali menguatkan, “Bagi yang awas, maka, di malam Jumat Kliwon, sesekali kerajaan gaib Macan Putih maujud untuk beberapa maksud dan tujuan”.

Biasanya, hal itu terjadi karena Nyai Roro Kidul, sang Penguasa Laut Selatan datang untuk mengunjungi Pangeran Tawangalun yang merupakan salah satu suaminya’, tambahnya.

Semua yang gua ceritain tadi adalah cerita yang ada di masyarakat sini. Intinya, sebagai manusia, kita harus menghormati kepercayaan masyarakat di mana kita berada …. Nah kalo kita bisa begitu, selain alam enggak rusak, kita juga tenang dan aman”, pungkasnya sambil tersenyum.

Leave a Reply