Ki Buyut Mangun Tapa: Kitab Mantra Asmara dan Pelet Jaran Goyang

Sosoknya dikenal sebagai pendekar tangguh yang berbudi luhur dan diyakini sebagai pencipta salah satu ilmu pelet yang menakutkan, sehingga tak heran, sampai sekarang, tiap malam Jumat Kliwon dan Selasa Legi makamnya yang dijaga oleh harimau gaib tak pernah sepi dari para peziarah ….
oleh: Arya Setyaki

 

Neomisteri – Warta berkisah, makam keramat yang ada di Desa Mangun Jaya, Blok Karang Jaya, Indramayu, Jawa Barat, adalah tempat peristirahatan terakhir dari salah seorang pendekar tangguh, budiman dan dikenal dengan sebutan Ki Buyut Mangun Tapa. Kekeramatan makam yang satu ini tak perlu diragukan lagi, banyak peziarah yang membuktikan bahwa mereka pernah melihat kehadiran atau kelebat bahkan auman harimau yang tak kasat mata.

Menurut masyarakat, semua itu adalah merupakan kejadian yang wajar. Betapa tidak, mereka meyakini ketika masih hidup Ki Buyut Mangun Tapa adalah sosok awal yang membuka lahan di Desa Mangun Jaya bahkan sampai sekarang dianggap sebagai pelindung atau pengayom kampung tempat mereka tinggal.

Baca Juga:
Legenda Sendang Siwani Wonogiri
Kekeramatan Air Sumur Gumuling Sunan Bejagung
Kerajaan Gaib di Waduk Bunder

Dari tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat begitu juga keyakinan orang-orang yang menggeluti dunia gaib, Ki Buyut Mangun Tapa adalah seorang linuwih yang menciptakan ilmu pelet legendaris yang dikenal sebagai pelet jaran goyang yang keampuhannya seolah tak lekang dimakan zaman.Oleh sebab itu, banyak pengamal pelet jaran goyang sengaja datang ke tempat ini untuk memohon izin agar ilmu yang diamalkan dapat menjadi lebih mantab dan menyatu dengan dirinya dengan cara menggelar ritual di sekitar makam.

Tak cukup hanya itu, tiap tahun, biasanya musim tandur (mulai bercocok tanam-red) masyaraat selalu mengadakan ritual Sedekah Bumi dengan harapan agar segala yang ditanam dapat membuahkan hasil yang berlimpah ruah. Lepas ritual Sedekah Bumi, masyarakat pun kembali ke rumah masing-masing dengan tertib — tak ada hiburan atau pagelaran apapun — maklum, pernah pada suatu ketika masyarakat menggelar wayang kulit yang direncanakan semalam suntuk. Tapi apa yang terjadi, areal tersebut mendadak diguyur hujan yang sangat lebat, padahal, keadaan di sekitarnya terang benderang.

Tak ada setetespun air yang jatuh dari langit ….

Sejak itu, masyarakat pun mafhum, Ki Buyut Mangun Tapa tidak berkehendak jika petilasannya digunakan untuk pelbagai hal yang berlebihan ….

Baca Juga: Sumur Keramat Penggila Judi

Kali ini,dengan ditemani oleh Bang Husain, neomisteri sengaja datang untuk menelisik lebih dalam lagi tentang Ki Buyut Mangun Tapa. Setelah mendapatkan izin dari sang juru kunci, neomisteri dan Bang Husain langsung saja menggelar ubo rampe yang telah dipersiapkan di salah satu sudut yang agak sepi. Bang Husain pun menyalakan rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam sambil sesekali menempelkan sesuatu yang demikian pekat, kental … sesaat kemudian, bau harum pun langsung menusuk hidung.

Setelah memberi isyarat agar neomisteri tidak mengganggu, Bang Husain pun memejamkan matanya ….

Ilustrasi asap

Neomisteri hanya merasakan perubahan suasana di sekitar. Hawa terasa semakin dingin bahkan kesiur angin yang tadinya menerpa rimbunan dedaunan kini tak lagi berhembus, yang terdengar hanyalah tarikan napas teratur Bang Husain.

Suasana pun terasa demikian mencekam ….

Neomisteri yang turut terhanyut dalam suasana, mendadak terkejut ketika mendengar Bang Husain berkata lirih; “Asalamualaikum … terima kasih Eyang Bodas telah bersedia menerima kedatangan kami”.

Setelah sejenak beristirahat dan menyesap kopi dari termos serta menghisap rokoknya, Bang Husain pun bercerita. Ki Buyut Mangun Tapa adalah salah seorang keturunan Bangsawan Cirebon yang menguasai ilmu kanuragan dan agama yang mumpuni dan gemar bertualang untuk melihat hidup dan kehidupan di sekitarnya sekaligus membantu mereka yang membutuhkan. Waktu senggangnya digunakan dengan baik untuk menulis kitab yang berisi tuntunan hidup di samping beberapa kitab yang lainnya. Salah satu yang sempat dicuri oleh salah seorang pendekar wanita aliran hitam yang dikenal sebagai Nini Pelet, adalah Kitab Mantra Asmara yang berisi berbagai ajaran tentang asmara dan cara memikat lawan jenis.

Baca Juga: Sumur Ketandan Keraton Kasepuhan: Mampu Melunturkan Sihir dan penyakit

Mengetahui kitabnya dicuri dan isinya disalahgunakan, maka, Ki Buyut Mangun Tapa pun mengutus Restu Singgih, salah seorang murid kesayangannya untuk merebut kembali kitab pusaka tersebut. Setelah melewati pertarungan yang sengit dan menegangkan, akhirnya, kitab pusaka itu berhasil dirampas oleh Restu Singgih.

Sayangnya, berkat pengamalannya, kesaktian Nini Pelet dengan ajian Jaran Goyang yang telah menyatu dengan dirinya tak bisa dipunahkan. Berkat kesaktian ilmu pelet Jaran Goyang, ambisi Nini Pelet yang ingin selalu tampil dan terlihat muda pun terpenuhi. Entah berapa puluh bahkan berapa ratus pemuda menjadi korban, tepatnya tumbal Nini Pelet yang selalu tampil muda dan menarik itu.

Hingga kini, jika diamati dengan saksama, maka, ada dua versi Ilmu Pelet Jaran Goyang. Ada yang mengikuti Nini Pelet, namun, ada pula yang mengikuti Ki Buyut Mangun Tapa; yakni, si pengamal akan menikahi wanita yang dipeletnya dengan penuh tanggung jawab dan membina keluarganya sampai akhir hayat.

Merunut kejadiannya, maka, tak heran jika makam Ki Buyut Mangun Tapa selalu ramai dikunjungi oleh para peziarah untuk berbagai keperluan dan maksud.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kisah Mistis Batu Kalimaya

Sejak abad Pertengahan, bangsa Eropa percaya batu Kalimaya bisa membawa keberuntungan bagi pemiliknya. Pasalnya, Kalimaya dianggap memiliki semua keistimewaan di setiap batu permata yang...

Pengalaman Horor Melintas di Jalur Alas Baluran

Lalu momen seram pun terjadi... Di tengahnya heningnya bus, tiba-tiba ada suara lirih dari dalam bus. Kira-kira baris ketiga dari depan, sedangkan ayah-ibu ada...

Artikel Terpopuler