Kisah Seram di Toilet Sekolah

Saya liat-liat sekeliling toilet. Dan mata saya terhenti di ventilasi toilet, karna ada sepasang tangan yang seperti berpegangan di ventilasi. Keadaan tangannya itu seperti tangan lelaki dewasa dengan warna kulit yang gelap, kuku tangan yang panjang dan sangat kotor.

 

Neomisteri – Ini cerita pengalaman saya ketika duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Dikarenakan waktu itu sekolah saya masih kekurangan kelas,jadi anak kelas 3 dan kelas 4 dijadwalkan sekolah di siang hari.

Pastinya suasana sekolah sangat berbeda dengan sekolah di pagi hari, karna benar benar sepi. Pelajaran dimulai pada jam 2 siang dan siswa-siswi pada masuk ke kelas masing masing untuk memulai pelajarannya.

Pada hari itu kelas saya mendapatkan pelajaran matematika (pelajaran horor menurut kebanyakan orang hehe). Setelah beberapa menit belajar teman sebangku saya si Intan (samaran) mengajak saya pergi ke toilet karna kebelet pipis.

“Yul temenin ke toilet, mau pipis.”

“Ya udah ayo! Aku juga mau pipis,” saya menjawab.

Pergilah kita berdua ke toilet yang jaraknya enggak terlalu jauh dari kelas. Ketika sudah sampe di depan pintu masuk toilet, saya yang peka dengan keberadaan ‘mereka’ merasakan hawa yang mulai aneh.

Tetapi saya menepis semua perasaan itu, dengan berkata dalam hati ‘udah, cuman perasaan aja ini, karena suasana lagi sepi. Enggak ada apa-apa!’

Masuklah kita berdua ke dalam toilet. Sambil nunggu si Intan selesai, saya liat-liat lah sekeliling toilet tersebut. Dan mata saya terhenti di ventilasi toilet, karna ada sepasang tangan yang seperti berpegangan di ventilasi tersebut.

Keadaan tangannya itu seperti tangan lelaki dewasa dengan warna kulit yang gelap, kuku tangan yang panjang dan sangat kotor.

Dan saya berkata ke intan; “Tan, coba liat ke ventilasi, tangan siapa itu yaa?”

“Paling tangan bapak-bapak lagi ngecat di belakang,” jawab Intan.

“Iya kali yaa?!” saya percaya enggak percaya sih.

Setelah selesai, kami pun keluar dari toilet. Saat kami keluar toilet, tangan tersebut masih di posisi yang saya liat pertama kali tanpa berpindah.

Kita berdua sudah di depan pintu masuk toilet. Karena saya masih penasaran, saya ajak Intan; “Intan, aku penasaran, tangan siapa tadi yang di ventilasi.”

“Iya, sebenarnya aku juga penasaran sih.”

“Ya sudah, kita liat ke belakang yok.”

“Ayo, tapi kamu duluan ya.”

“Iyaa deh, aku duluan.”

Berjalanlah kita ke belakang sekolah, dengan posisi saya di depan. Kenapa saya berani ke belakang sekolah? itu karena belakang sekolah itu jalan raya, dan samping sekolah atau samping toilet itu ada rumah guru. Tapi seberang sekolah adalah pemakaman umum.

Sampailah di belakang sekolah. Dan yang kita liat hanya belakang sekolah dengan keadaan yang sangat sepi. Ketika itu juga angin berasa terhenti dan di jalan raya enggak ada satupun kendaraan yang lewat. Bahkan orang yang berjalan pun enggak ada. Yang membuat waktu itu bener-bener berasa horor.

Yang bisa kami lakukan hanya saling tatap saja, tanpa mengeluarkan sepatah kata pun. Selang beberapa detik kami saling tatap dan Intan balik badan lalu lari ke kelas ninggalin saya yang masih enggak percaya sama apa yang saya liat. Saya di situ masih bengong aja liat Intan lari.

Pas nyadar Intan sudah enggak keliatan lagi, baru saya nyusul intan lari. Dan kelas saya itu kelas panggung gitu yaa, jadi pas mau naik masuk kelas, saya jatuh. Dan yang kebentur itu kaki bagian bawah lutut, yaa bisa bayanginkan gimana sakitnya.

Tapi bener-bener rasa takut ngalahin rasa sakitnya. Habis jatuh, langsung berdiri masuk kelas. Dan di situ guru saya dan teman-teman yang lain pada kaget karena liat saya dan Intan lari masuk kelas.

Lalu guru saya nanyalah ke kita; “Kalian kenapa lari lari masuk kelas?”

“Enggak apa-apa kok bu,” saya jawab gitu biar enggak bikin heboh dan enggak ditanya-tanya. Kalo sampe ditanya dan disuruh cerita pas itu, mungkin kami berdua udah nangis hahaha.

Dan untungnya ibu guru enggak marah dan mungkin cuman mikir; ‘Biasalah anak-anak lomba lari, cepat-cepatan sampe kelas’.

Setelah pelajaran selesai dan waktunya untuk pulang, yaa teman-teman yang lain ada aja yang masih penasaran dan desak kami berdua untuk cerita. Yaa kami cerita sih, tapi enggak detail karna jadi pada takut semua, dan akhirnya pada cepat-cepatan pulang.

 

 

 

——————-

sumber: @yulayy___

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *