Melihat Arwah Pendaki di Gunung Bunder

Jadi, di tempat kita baris itu ada gubuk. Enggak tau fungsinya buat apa. Aku liat di situ ada bayangan orang berdiri bawa tas carrier. Aku langsung positif thinking dong kalo itu panitia. Tapi yang bikin heran, dia ngapain bawa tas carrier??

 

Neomisteri – Peristiwa ini terjadi pada 20 Desember 2015 dalam acara kaderisasi HMJ. Kaderisasi berlangsung selama 3 hari 2 malam, dengan jumlah peserta 22 orang, bertempat di Gunung Bunder, Bogor.

Saat itu, peserta termasuk aku tidur di tenda. Sedangkan panitia dan tamu tidur di villa. Peserta disuruh baris malam hari sebelum tidur. Biasalah panitia sok-sokan nanyain “Dingin enggak?” Giliran jawabnya dingin, malah disuruh pushup buat ngangetin badan.

Malam pertama pun berlalu, berhubung aku cewek sendiri (fyi, di angkatanku emang aku cewek sendiri. Pokoknya jurusanku ini kayak STM, kebanyakan cowoknya). Aku juga ikut tidur di tenda dong bersama kawan-kawan karena solidaritasku ini tinggi hehe.

Temanku baik-baik kok gaes. Aku enggak diapa-apain walau cewek sendiri. Karena pas tidur, kanan-kiri aku ditutupin make tas mereka semua. Jadi jangan mikir apa-apa kalian.

Lanjut. Malam pertama gada apa-apa, berjalan baik. Soal kegiatan yang berlangsung sampai malam kedua, aku skip ya gaes, karena ceritanya enggak horor. Yang horor cuma muka penguji dan segudang pertanyaannya pas sidang doang hehe.

Malam kedua, kebetulan aku lagi enggak sholat. Jadi pas temen-temen sholat Isya, aku ditinggal… Sendirian… Di tengah lapangan…. Malam-malam. Aku berulang kali di ingetin supaya pikiranku enggak kosong. Dan alhamdulillah saat itu enggak ada apa-apa.

Tapi justru, ada apa-apanya pas temen-temen sudah gabung di lapangan lagi sama aku. Sekitar jam 9-an malem, kalo enggak salah, aku lupa saat itu lagi acara apa. Pokoknya beberapa panitia juga ada di lapangan.

Pokoknya kondisi lapangan tuh enggak terlalu sepi. Jadi, di tempat kita baris itu ada gubuk. Enggak tau fungsinya buat apa. Aku liat di situ ada bayangan orang berdiri bawa tas carrier.

loading...

Aku langsung positif thinking dong kalo itu panitia. Tapi yang bikin heran, dia ngapain bawa tas carrier?? Sekalipun dari divisi kesehatan yang bawa obat-obatan buat peserta, enggak mungkin dong tasnya segede itu. Kalau pun dari divisi lain, enggak mungkin juga.

Jadi antara villa sama lapangan tuh jaraknya cuma 200-300 meter. Kalo butuh apa-apa, deket lah buat balik ke villa. Pokoknya enggak masuk akal kalo itu panitia.

Tampilannya itu mirip orang mau naik gunung gitu pokoknya. Bukan sesantai tampilan panitia acara.

Sampai akhir acara, alhamdulillah enggak ada apa-apa. Aku enggak mikirin bayangan orang yang mau naik gunung itu. Tapi justru yang bikin merinding adalah cerita setelah kaderisasi itu.

Dua minggu setelah kaderisasi berlalu, saat itu di kampus aku lagi ngobrol-ngobrol sama senior dan nyeritain tentang kaderisasi kemarin. Berhubung aku dan teman-temen cuma peserta, jadi kita enggak tau seluk-beluk dan ada cerita apa di tempat itu.

Jadi, tukang villanya itu cerita, dulu entah tahun berapa sempet ada beberapa pendaki yang emang mau naik gunung. Di tengah perjalanan, salah satu atau dua orang dari mereka tergelincir dan jasad mereka ditemuin di aliran sungai deket villa itu.

Dan.. kemungkinan yang aku liat itu salah satu bayangan dari mereka. Aku bersyukur tau cerita ini pas pulang. Enggak kebayang kalo taunya pas di sana.

Btw, aku enggak tau pasti ya itu Gunung Bunder itu kayak gimana. Jalur pendakiannya seperti apa, dan apa bener ada aliran sungai di sekitar villa. Aku tau cuma berdasarkan cerita aja. Karena aku yang ngalamin itu, cukup bikin aku merinding dan keinget terus lah.

 

 

———–
sumber: @aurorainnn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *