Misteri Alunan Gamelan, Tangisan dan Pintu Gerbang Gaib

Watu Kelir, salah satu hamparan bebatuan yang berusia antara 117- 200 juta tahun dan terletak di Karangsambung, Kebumen, Jawa Tengah, ternyata, berbalut aura mistik demikian kuat yang mampu meremangkan bulu roma ….
oleh: Merva Karunia

 

Neomisteri – Kali ini, Bowie, Gomin, Opick dan Anan, sahabat neomisteri sepakat untuk melakukan perjalanan ke Klaten. Tujuannya adalah ke kampung halaman Bowie, maklum, sudah beberapa tahun ia tidak bisa mudik — setelah memeriksa dan menyetel motor masing-masing, lepas Salat Subuh, mereka pun langsung berangkat.

Mereka sengaja memilih jalur Selatan. Selain ruas jalannya dipenuhi pepohonan yang menghijau, kulinernya juga terkenal enak. Tidak cukup sampai di situ, jalan yang mereka lalui, selain tidak terlalu ramai, juga mulus.

Baca: Belut Putih Penjaga Ghaib Waduk Darma

Karena tidak memburu waktu, sekali ini, mereka bereempat benar-benar menikmati perjalanan. Boleh dikata, mereka sepakat hanya berhenti sesaat untuk mendirikan salat, minum segelas kopi panas dan menyantap makanan ringan serta menghisap beberapa batang rokok — kemudian kembali melajutkan perjalanan. Oleh sebab itu, lepas salat Zuhur tepatnya sekitar pukul 14.00 mereka sudah masuk Kota Kebumen.

Bowie mendadak berhenti di pinggir jalan kemudian berkata; “Kita mampir Karangsambung sebentar ya”.

“Tempat apa?” Tanya yang lainnya hampir bersamaan.

“Penelitian mahasiswa Geologi. Dasar samudera yang delapan puluh juta tahun lalu terangkat ke permukaan karena proses geologi”, terang Bowie.

Baca: Situ Gintung, Gudang Pusaka Para Pejuang

Tanpa banyak tanya, yang lain langsung saja setuju dan kembali mengikuti Bowie dari belakang. Tak sampai dua puluh menit, mereka pun tiba di lokasi. Di suatu bangunan yang boleh dikatakan sebagai museum kecil, kami memarkir motor dengan tertib dan turun. Setelah meregangkan badan selama beberapa saat, kami menemui penjaga dan diantar untuk melihat-lihat pelbagai jenis bebatuan lengkap dengan nama dan keterangannya.

“Wah … tukang batu yang di Rawa Bening bakal kalap kalo dateng ke sini”, kata Opick.

“Ya … pastinya begitu”, sahut Anan, “rasanya, kalau kita agak santai sekalian istirahat yang cukup di sini boleh juga neh”, lanjutnya lagi.

Semua saliang tatap. Maklum, selama ini, mereka kenal Anan adalah orang yang paling malas diajak beristirahat. Menurutnya, istirahat yang nikmat adalah setelah sampai tujuan.

Belut Putih Penjaga Ghaib Waduk Darma

“Oke … siapa takut”, jawab yang lain sambil tersenyum penuh arti.

Anan pun ikut tersenyum. Berpedoman pada papan petunjuk yang terpasang dengan rapi, maka, kami pun berjalan menuju ke Watu Kelir — menurut petugas yang kebetulan tadi kita temui, Watu Kelir terdiri dari batu rijang berwarna merah memanjang kurang lebih seratus meter dan lava basal berbentuk bantal di sebelahnya.

Baca: Kutukan Tumbal Proyek di Balik Keindahan Kastil Maruoka

Lebih lanjut petugas tersebut mengatakan; “Batuan sedimen ini terbentuk di dasar samudera purba sekitar delapan puluh juta tahun lampau. Kenyataan tersebut adalah fakta, bahwa, Karangsambung adalah dasar samudera yang terangkat oleh proses geologi”.

Karena batuan sedimen berwarna merah memanjang sekitar seratus meter pada dinding Kali Muncar mirip dengan layar pertunjukan wayang kulit (kelir-Jw), maka, masyarakat pun menyebutnya; Watu Kelir.

Pada masanya, entah berapa tahun yang lalu, pada hari tertentu, masyarakat setempat acap mendengar suara gamelan dan bahkan tangisan dari Watu Kelir. Tapi sayang, sahabat neomisteri tak berhasil menelisik lebih jauh tentang cerita itu. Maklum, selain sosok yang pernah mendengar dan bahkan menyaksikan pertunjukan wayang kulit di tempat itu telah wafat, mereka juga berpegang pada paugeran (adab), yakni hanya orang tertentu dan di waktu tertentu pula — serta ditambah dengan penyiapan ubo rampe yang cukup — barulah orang yang dituakan dan dianggap mumpuni boleh menceritakan pelbagai hal gaib yang menyungkupi Karang Sambung.

Baca: Misteri Hutan Larangan

Dari pelbagai cerita yang berhasil dihimpun oleh sahabat neomisteri, dapat disimpulkan, selain merupakan tempat pertunjukan wayang kulit, Watu Kelir juga diyakini merupakan gerbang atau pintu masuk ke alam gaib.

Alhasil, setelah dianggap cukup dan usai mendirikan salat Maghrib, kami pun kembali melanjutkan perjalanan menuju Klaten, kampung halaman sahabat Bowie.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Jebakan Makhluk Alam Kegelapan

Persekutuannya dengan penghuni alam kegelapan agar hidupnya bergelimang dengan harta ternyata tidak membuahkan hasil, namun, anak kesayangannya tetap saja menjadi tumbal .... oleh: Arief Permana   Neomisteri...

Akibat Susuk Kencana

Walau hanya tinggal tulang berbalut kulit dan lebih dari setahun tergolek lemah di pembaringannya, namun, wajahnya masih saja menguarkan aura kecantikan yang sangat menggoda...

Koin Kuno Berdarah

Artikel Terpopuler