Misteri Kota Padang 12

Ternyata, sampai sekarang, suatu areal yang terdapat di Kabupaten Ketapang, masih disungkupi oleh suatu kekuatan mistik yang demikian kuat sehingga sangat sulit untuk ditembus oleh siapa pun, kecuali, jika mereka memang mendapatkan restu khusus dari sang penguasa ….
o
leh: Arya Sancaka

Neomisteri – Sudah menjadi rahasia umum, bahkan sampai sekarang masih jadi ajang perbincangan yang hangat di tengah-tengah masyarakat. Betapa tidak, banyak yang meyakini areal yang terletak di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, ternyata masih disungkupi oleh misteri yang demikian kental — namun, ada pula yang menyatakan itu hanya merupakan isapan jempol semata.

Ardiansyah (55 tahun), demikian nama salah seorang sahabat neomisteri yang sekarang mukim di Banjarmasin secara tegas menyatakan; “Kalau saya meyakini. Padang 12 adalah suatu kota yang demikian indah dan makmur serta diperintah oleh penguasa yang adil dan bijak”.

Bagaimana Abang bisa yakin?” Potong neomisteri cepat.

Lelaki yang sudah tergolong tidak muda lagi lalu menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya kuat-kuat. Setelah sejenak merenung seolah mengumpulkan segala ingatannya, Bang Dian demikian sapaan akrabnya berkata; “Dulu, sebelum seperti ini, saya seorang berandalan. Boleh dikata, tak ada hari tanpa mabuk dan duel”.

Hingga akhirnya, saya punya lapak di depan pasar yang disewa oleh pedagang sayur mayur”, lanjutnya, “usaha Pak Mukri maju sangat pesat. Selain tidak ada yang berani malak, lapak saya ada di jalan utama menuju ke pasar”, imbuhnya dengan bersemangat.

Hingga suatu hari”, katanya lirih, “tapa sebab yang jelas, Pak Mukri mendadak diare bahkan sampai mengeluarkan darah. Karena panik, dengan diantar oleh adiknya yang selama ini membantunya, Pak Mukri dibawa ke rumah sakit terdekat”, sambungnya.

Tak lama kemudian, datang seorang lelaki paruh baya yang langsung berkata sambil menunjuk ke sebuah mobil pikap; “Tolong, angkat semua sayur mayur ini ke mobil dan ini uangnya”.

Saya menerima bundelan di amplop tebal berwarna coklat”, baik nanti saya sampaikan.

Sebaiknya, sekarang engkau pulang dan tidur. Berikan amplop itu kepada yang berhak esok hari”, demikian kata lelaki paruh baya itu dengan nada berwibawa.

Saya seperti kerbau dicucuk hidung. Begitu juga teman-teman yang biasa mengajak minum tak ada satu pun yang menyapa begitu saya lewat untuk pulang ke rumah”, lanjutnya lagi.

Singkat kata, sesampainya di rumah, Ardiansyah langsung saja tidur. Padahal, hari masih menunjukkan pukul 11. 15. Seisi rumah kaget melihat perubahan Ardiansyah. Di tengah-tengah tidurnya, Ardiansyah bermimpi diajak melihat-lihat suatu kota oleh orang yang tadi memborong dagangannya Pak Mukri.

Bang Dian hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya dengan takjub. Betapa tidak, ia tak sekali pun melihat ada kemiskinan di kota itu. Tak ada pengemis, pemulung atau penjaja asongan, sementara, kendaraan roda empat yang lalu lalang keluaran tahun yang terakhir — semuanya berjalan dengan tertib dan teratur.

Kota apa ini?” Tanya Bang Dian.

Ini Padang Dua Belas”, jawab lelaki di sebelahnya singkat.

Bang Dian terkejut. Seketika, ia seolah mendengar petir dan terjaga dari tidurnya. Dengan perasaan tak menentu, ia mencari amplop coklat yang katanya berisi uang yang diletakkan di bawah bantalnya. Ya … amplop tersebut masih ada di tempatnya.

Dengan sigap ia menyobek amplop tersebut sementara matanya melirik ke arah jam dinding di kamarnya. “Ah … ternyata menjelang Subuh”, desisnya.

Hatinya kian tercekat, di amplop yang ada di tengannya, ternyata berisi beberapa buah gelang, kalung dan cincin yang kesemuanya terbuat dari emas. Ia bertambah yakin, itu semua pasti dari Kota Padang 12 yang dikunjunginya walau hanya lewat mimpi. Tak seperti biasanya, dengan perasaan tak menentu, Bang Dian pun berjalan ke kamar mandi. Ia langsung mandi dan berwudu, kemudian ia pun kembali ke kamar dan mendirikan Salat Tobat. Setelah itu, ia pun menangis sejadi-jadinya hingga membuat seisi rumah terbangun dan panik. Tak ada yang berani mendekat ….

Usai mendirikan Salat Subuh, Bang Dian langsung berjalan ke luar menuju ke rumah Pak Mukri. Setelah uluk salam, tampak Pak Mukri dengan bergegas mendatangi dan langsung memeluknya dengan erat. Pak Mukri berkata, bahwa semalam didatangi oleh seorang lelaki paruh baya yang meminta agar ia mengikhlaskan pembayaran sayur mayurnya yang dititipkan ke Bang Dian.

Pakailah untuk modal Abang. Semoga bermanfaat”, hanya itu yang terlontar dari mulut Pak Mukri.

Tak menunggu berlama-lama, Ardiansyah langsung menjual pelbagai barang yang diterimanya dan kembali pulang ke kampung halamannya, Banjarmasin.

Semuanya menyambut kedatangan Ardiansyah dengan gembira. Singkat kata, di kampung halamannya, Ardiansyah membuka kedai kelontong, kemudian menikah dan tiap malam ia selalu berada di tengah-tengah anak-anak yang belajar mengaji kepadanya. Ia hidup tenang di tengah-tengah orang-orang yang menyayanginya setelah menutup lembaran hitam yang pernah dilaluinya.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Wanita Ambu Kembang

Berhati-hatilah terhadap wanita cantik yang belum Anda kenal di tengah malam. Bisa-bisa yang Anda temui adalah dedemit.   Neomisteri - Semenjak perceraian dikabulkan, Yanto (32 tahun)...

Legenda Ajian Rawa Rontek

Untuk tingkatan, ilmu Rawa Rontek sendiri terbagi menjadi tiga. Di tingkat terendah, jin baru bersemayam di aura sehingga si pemilik akan kebal terhadap pukulan...

Artikel Terpopuler