Nekat Bersekutu dengan Iblis

Hatinya benar-benar dipenuhi oleh dendam kesumat. Dia tak pernah menyangka, istrinya dilarikan oleh sahabat yang pernah ditolongnya mula pertama merintis usaha dan mengadu nasib di belantara Jakarta ….

Oleh: Era Saputra

 

Neomisteri – Jakarta bak bulan di atas kuburan, demikian kata para perantau. Betapa tidak, Jakarta hanya indah dilihat dari kejauhan, namun, kita akan merasakan kejamnya ibukota bila sudah berada di dalam pelukannya.

Hal itulah yang dialami oleh Urip, lelaki dengan tubuh atletis berkulit gelap dan berrambut keriting serta mata yang nyalang bak rajawali. Begitu masuk ke dalam pelukan belantara Jakarta, alih-alih mendapatkan pekerjaan yang memadai, bekal ijazah SMA yang dibawanya seolah tak berarti sama sekali.

Akhirnya, untuk bertahan hidup, ia nekat mengatur lalu lintas pada salah satu ruas jalan yang cukup padat di bilangan Jakarta Utara. Hasilnya pun cukup lumayan. Namun apa daya, sebulan kemudian, datang lima orang pemuda tanggung yang juga ingin menguasai tempat itu. Urip berusaha mempertahankan sambil berkata dengan dialek Surabaya; “Cari saja tempat lain. Jangan ganggu aku.”

Ternyata, kelima pemuda itu tidak mau tahu. Salah seorang dari mereka memukul Urip. Darah pun mengucur dari hidungnya. Setelah menyeka darahnya, Urip pun meladeni keinginan kelima pemuda itu. Walau tidak seimbang, namun, kelimanya tak berhasil merobohkan Urip.

Pukulan dan tendangan terus dilancarkan oleh kelima pemuda itu. Namun, Urip bukanlah lawan yang enteng. Sejak kecil, ia tekun berlatih silat di kampung halamannya. Alhasil, pada waktu yang tepat, kakinya berhasil mengenai rusuk lawannya yang langsung jatuh tak sadarkan diri. Melihat kejadian itu, keempat orang lainnya langsung menyatakan menyerah.

Setelah menolong temannya, akhirnya, kelimanya (Budi, Frans, Erick, Iran dan Panji) berjanji kepada Urip akan menjadi anak buah yang setia.

Waktu terus berlalu, hidup dan kehidupan Urip dan kelima sahabat setianya mulai agak mapan. Betapa tidak, berbekal kepercayaan, Urip pun mulai mengajak para sahabatnya untuk menjual minuman mineral bagi para sopir truk yang lewat. Perlahan namun pasti, usaha itu kian berkembang. Kini pelbagai jenis minuman bisa ia sediakan, pelanggannya tak lagi sopir, Urip mulai mengembangkan bisnis minumannya ke warung remang-remang.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, akhirnya Urip menikah dengan Putri, salah seorang wanita penghibur sekaligus bintang di salah satu warung reman-remang langganannya. “Mulai sekarang, jadilah istri dan ibu yang baik bagi anak-anak kita kelak,” demikian pesan Urip pada Putri.

Putri hanya mengangguk dan merebahkan kepalanya di dada suaminya.

Hari, minggu, bulan terus berganti. Menginjak bulan ke sembilan, pada suatu malam, Urip mendapati secarik kertas di atas pembaringannya. Sementara, Putri, sang istri tak terdengar suaranya.

Sambil merebahkan tubuhnya yang terasa luluh lantak, Urip pun membaca. Sontak ia berdiri sambil mengepalkan tangannya. Ternyata, surat itu berisi, Putri pergi bersama Erick, sementara, rumah sudah dijual dan semua pelanggan sudah melunasi tunggakannya.

Hati Urip benar-benar hancur dan terpukul ….

Ia tak pernah menyangka, Erick yang selama ini merupakan orang kepercayaannya dalam hal penagihan serta Putri, sang istri dipercaya untuk mengelola keuangan telah berkhianat.

Berbilang hari ia mengurung diri di dalam kamar sambil mengutuk dirinya sendiri yang tidak waspada.

Budi, Frans, Iran dan Panji terus berusaha menghiburnya. Tetapi tak pernah berhasil. Kini keempatnya kembali seperti semula, hidup di jalanan dan tidur di sebarang tempat. Hingga suatu hari, Urip mengumpulkan mereka dan berkata; “Abang hendak pergi. Jangan dicari. Kalau berhasil, Abang bakal mencari kalian.”

Keempatnya hanya dapat saling tatap dan diam. Urip langsung menarik mereka dan memeluknya satu persatu sambil menitikkan air mata.

loading...

Tak lama kemudian, Urip menyetop salah satu truk yang lewat dan naik. Di tengah perjalanan, sang sopir pun bercerita tentang juragannya yang ternyata menjadi pengabdi jalan kegelapan. Buktinya, setiap kali truk miliknya menabrak orang sampai mati, selain ia menyelesaikan urusannya kepada pihak yang berwajib agar sopir lolos dari tuntutan serta menyantuni pihak korban, kekayaannya selalu bertambah. Kadang bisa beli dua sampai tiga unit truk baru.

Cerita itu benar-benar menggelitik hati Urip yang sedang pepat.

Entah berapa kali ia gonta-ganti kendaraan. Yang pasti, ia turun di dekat plang bertuliskan Hutan Larangan.

Tanpa pikir panjang, Urip pun masuk dan menjelajahi hutan yang sama sekali belum dikenalnya itu. Ia telah bertekad, lebih baik mati dimangsa binatang buas, daripada pulang menanggung malu. Sudah tiga hari tiga malam ia menjelajah hutan larangan itu. Hari itu, bersamaan dengan rembang petang, ia menemukan sebatang beringin berbentuk aneh (sulur-sulurnya berbentuk keliling seolah kurungan ayam, pen) pada pokok beringin yang tidak lagi menyentuh tanah itu, tampak patung wanita. Tepatnya, patung wanita yang sedang menopang pohon beringin kurung!

Anehnya, sekeliling pohon itu sangat bersih. Tak ada daun dan rumput barang sebatang pun ….

Urip nekat menyeruak di antara sulur-sulur. Tak lama kemudian, semilir angin serta kelelahan dan kepepatan yang menyatu membuatnya ia tertidur dengan lelap.

Entah berapa lama ia tertidur. Saat terjaga karena udara dingin, Urip melihat ada sesosok wanita cantik berdiri di depannya sambil tersenyum manis. Tubuhnya semampai dengan kulit kuning langsat dan rambut terurai, membuat libido Urip yang beberapa waktu tidak tersalur sontak meningkat.

Urip langsung menangkap tangan si wanita yang berdiri di depannya dan menciuminya dengan rakus. Si wanita pun mengimbanginya. Ciuman dan rabaan membuat tubuh keduanya tak lagi berbalut benang barang selembar pun. Keduanya tenggelam dalam alun asmara purba. Kini, Urip mulai memacu kuda kesayangannya dengan cepat sambil sesekali membelai surainya. Setibanya di puncak, dibarengi dengan lenguhan panjang… Gunung pun memuntahkan lahar yang selama ini tersimpan pun.

Sambil saling peluk seolah masing-masing takut ditinggal pergi, keduanya tertidur dengan senyum kepuasaan.

Paginya, Urip sangat terkejut. Betapa tidak, di sekelilingnya, berhamburan uang dan beberapa jenis perhiasan.

“Oh … ternyata ini tempatnya,” demikian bisik hatinya, “baik, aku kembali ke Jakarta untuk membeli rumah, mobil dan memberi modal kepada Budi, Frans, Iran dan Panji,” tambahnya.

Singkat kata, Urip balik ke Jakarta dan menemui keempat sahabatnya. Mereka sangat terkejut melihat penampilan Urip yang sangat berbeda. Semuanya serba branded, mobilnya pun baru. “Terima ini, pakai buat modal usaha kalian. Segera tinggalkan pekerjaan seperti ini, hiduplah dengan tenang dan damai bersama dengan anak istri kalian di kampung.”

“Jangan membantah!” Hardik Urip ketika Iran akan protes.

Keempatnya hanya mengangguk dan berjalan menjauh, esoknya, keempatnya pun meninggalkan Jakarta kembali ke kampung halamannya masing-masing.

Sejak itu, Urip terus berkubang dalam dosa. Ia telah nekat bersekutu dengan iblis untuk mendapatkan kekayaan. Tiap malam Rebo Pahing, rumah besar yang ada di tepian danau buatan itu terasa semakin seram dan angker. Sementara, di dalamnya, Urip dan Sang Dewi Ular saling memadu kasih melampiaskan hasrat asmara purba.

Dua tahun kemudian,tanpa sebab yang jelas, rumah mewah itu terbakar hebat dan memanggang pemiliknya yang belakangan mengidap sakit yang tak kunjung sembuh. Para tukang kebun dan suster yang menjaga tak kuasa menolong sang majikan yang dermawan karena acap memberikan santunan kepada orang yang membutuhkan dari amukan si jago merah ….

Itukah balasan bagi para pengabdi jalan kesesatan? Hanya Allah Yang Maha Tahu jawabannya ….

Baca juga:

Perempuan Bahu Laweyan

Tumbal Pesugihan

Tersesat di Alam Siluman Babi

Hadiah dari Siluman Ular

Akibat Susuk Kencana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *