Nenek Bungkuk Penunggu Rumpun Bambu

Adam tak pernah menyangka jika nenek bungkuk yang selalu diberi dua porsi bubur tiap ia akan berangkat berdagang adalah penunggu gaib rumpun bambu di tikungan jalan yang ia lalui ….
oleh: Asep Sunjaya

 

Neomisteri – Tak ada yang istimewa dari lelaki yang setiap hari mendorong gerobak bubur ayam dan mangkal di bawah pohon Mahoni yang tumbuh sebagai peneduh di pinggiran jalan yang lumayan ramai itu. Mulanya, ia bekerja di bengkel motor. Karena sepi dan merasa tak enak memakan gaji buta, maka, ia meminta izin kepada Bos-nya untuk mengundurkan diri. Berbekal tabungan dan uang pesangon serta kerohiman dari Bos-nya, Adam yang sadar akan kepiawaian sang istri dalam memasak memutuskan untuk berjualan bubur ayam.

Baca juga: Teluh Air Mandi Jenazah

Minggu pagi, usai mendirikan Salat Subuh, Adam dengan penuh semangat mendorong gerobak bubur dari rumah kontrakannya — menyusuri jalan setapak dan setelah melewati rumpun bambu yang ada di tikungan sampailah ia ke ruas jalan yang lumayan ramai. Adam sengaja memilih tempat di antara dua batang Pohon Mahoni yang tumbuh subur sehingga membuat suasananya terasa teduh.

Sejak pukul 06.00 banyak orang yang lalu-lalang berolahraga. Harum bubur yang tercium ketika Adam membuka tutup panci membuat mereka yang lalu-lalang terhenti sejenak, kemudian datang dan duduk sambil memesan.

“Bubur dua, satenya usus dua dan hati ampelanya juga dua”, demikian kata orang yang selanjutnya menjadi pelanggan setia Bubur Ayam Kang Adam.

Lepas Asar, Adam pulang dengan tubuh lunglai karena kelelahan. Namun hatinya gembira, betapa tidak, semua dagangannya terjual habis. Begitulah yang dilakoni Adam setiap hari ….

Baca juga: Kisah Seram di Toilet Sekolah

Kegembiraan sekaligus kegelisahan kini mendera perasaan Adam. Gembira karena sang istri mengandung, sementara, tabungan dari hasil berdagang dirasa belum cukup. Tapi sebagai lelaki yang bertanggungjawab, Adam pantang berkeluh-kesah atau menunjukkan muka murung di hadapan istrinya. Tiap berangkat, ia hanya berpesan; “Hati-hati, jangan terlalu capai dan jaga kondisi. Doakan A’a biar bubur kita cepat habis”.

Kali ini berbeda dengan hari biasanya. Adam harus mendorong gerobak buburnya di tengah rinai hujan. Udara dingin dan jalan pun licin. Entah dari mana, tiba-tiba, di depannya berdiri seorang nenek bungkuk. Ia berkata sambil mengangsurkan rantang tua; “Jang tolong minta buburnya. Nenek dan cucu sudah dua hari tidak makan”.

Tanpa banyak tanya dan sempat berpikir, Adam langsung melayani dan memberikannya kepada sang nenek.

“Ini Nek …”, kata Adam sambil berbisik dalam hati, “semoga jadi penglaris”.

Baca juga: Kisah Gaib Supir Ambulans

Dan benar, hari itu, Adam boleh dikata tidak sempat beristirahat sama sekali. Bersamaan dengan azan zuhur, ia sudah pulang ke rumahnya. Ketika sang istri bertanya kenapa pulang cepat, Adam dengan riang menjawab; “Yah … banyak pelanggan lama datang. Mereka bawa teman. Jadi … ya cepat habis deh”.

Ilustrasi asap

Boleh dikata, sejak hari itu, Adam selalu memberikan serantang bubur dan lima tusuk sate serta sebungkus kerupuk untuk sang nenek yang selalu mencegatnya tepat di bawah rumpun bambu yang biasa ia lewati.

Entah berapa lama Adam melakukan hal itu. Hasil tabungan Adam pun kian banyak. Ia bahkan telah membeli rumah kontrakannya yang terdiri dari 3 pintu. Dua pintu dibangun untuk rumah tinggal, sementara, sisanya dipakai untuk memasak dan istirahat beberapa karyawannya. Ya … Adam telah sukses dan tak lagi mendorong gerobak bubur, ia telah punya tempat di pertokoan.

Baca juga: Bercumbu dengan Hantu Noni Belanda

Bisik-bisik pun mulai terdengar. “Adam biasa masang sajen di bawah pohon bambu”, demikian kata Karta, tetangga yang selama ini memang memperhatikan gerak-gerik Adam.

“Buktinya?” Kata yang lain.

“Ini … lihat”, kata Karta sambil menarik berapa lainnya menuju ke bawah pohon bambu.

Semuanya hampir terpekik. Betapa tidak, di bawah pohon bambu tampak sebuah kaleng kehitaman bekas terbakar yang dipenuhi dengan bubur ayam yang sudah membusuk. Ketika kepala mereka sedang dipenuhi dengan tanda tanya, lewat Ustadz Ujang. Setelah sejenak menanyakan keperluan kenapa mereka beramai-ramai ke pohon bambu, Karta pun menjawab dengan penuh semangat. Ia meyakini, Adam punya pesugihan ….

Mendengar itu, Ustadz Ujang pun tersenyum kemudian menyahut; “Rasanya tidak. Dulu, waktu zaman penjajahan, di sekitar tempat ini tentara Belanda menembaki orang kampung karena mereka tidak mau memberitahu di mana para pejuang bersembunyi”.

Baca juga: Derita Pengabdi Pesugihan

“Menurut kakek, mereka dibantai di sekitar tempat ini”, kata Ustadz Ujang, “tempat yang lapang sehingga tak mungkin ada yang melarikan diri. Padahal, tempat ini sejak dulu memang terkenal angker. Jadi bukan tidak mungkin penunggu gaib tempat ini sengaja menolong Kang Adam dengan caranya, karena yang kita tahu, Kang Adam adalah orang yang ulet, baik, dan alim. Sehingga bangsa makhluk halus pun sayang kepadanya”, paparnya panjang lebar.

“Jadi jelas … Kang Adam tidak punya pesugihan. Ia berhasil karena ketekunan dan doanya kepada Allah”, pungkas Ustdaz Ujang.

Mendengar itu, semuanya langsung mengangguk tanda setuju. Dan Karta sontak meminta maaf kepada semuanya di hadapan Ustadz Ujang.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Sembelih, Cara Terbaik Menjagal Hewan

Metode penyembelihan lebih aman dibandingkan pemukulan atau cara jagal lainnya. Ini telah dibuktikan oleh Profesor Wilhelm Schulze dan Dr Hazem, dari Universitas Hanover, Jerman....

Liburan Seram di Yogyakarta

Neomisteri - Tahun 2018, aku bersama sepupuku liburan ke Yogyakarta. Sepupuku yang pertama sebut saja Reza dan istrinya Shella. Dan yang kedua, Dinda dengan...

Artikel Terpopuler