Nuansa Mistik di Graf Ereveld Ancol

Keangkeran Ancol seolah tak lekang dimakan zaman, maklum, sejak zaman dahulu, areal yang satu ini acap dipakai sebagai tempat pembunuhan, pembuangan mayat bahkan makam dari sekian banyak korban kekejaman PD II ….
oleh: Merva Sumarno

Neomisteri – Tak ada yang bisa menepis, selain memiliki keindahan khususnya panorama laut ditambah dengan wahana bermain yang begitu beragam, maka, Ancol memiliki daya tarik yang tersendiri bagi keluarga yang mukim di bilangan Jabodetabek, turis lokal bahkan mancanegara. Oleh sebab itu, tak heran, jika tiap saat kawasan yang satu ini ramai didatangi banyak orang.

Namun siapa yang menyangka, daya tarik Ancol, ternyata sudah ada sejak zaman dahulu kala. Betapa tidak, di kawasan ini pernah berdiri sebuah benteng yang kini berada di antara gedung-gedung megah di ruas Jalan Pasir Putih II, Ancol, Jakarta Utara, Stasiun Ancol bahkan di zaman Bang Ali Sadikin, sebagai Gubernur DKI Jakarta, Ancol juga dikenal dengan sirkuit-nya.

Baca: Pengalaman Seram Naik Bus Setan

Yang paling menarik adalah, di kawasan yang satu ini, selain terkenal dengan “Si Manis Jembatan Ancol” nuansa mistis yang teramat kuat juga terdapat di kawasan sisi barat Ancol; yakni kuburan Belanda yang lebih dikenal dengan sebutan Ereveld — yang berarti ladang kehormatan-bhs. Belanda — yakni area pemakaman yang diperuntukkan bagi warga militer maupun sipil bangsa Belanda bahkan beberapa orang Indonesia yang tewas dalam PD II, terutama pada saat serangan dan pendudukan Jepang di Hindia Belanda.

Walau siangnya merupakan makam yang berjejer rapi dengan tanda salib di atasnya dan berwarna putih, namun, sungguh tak disangka, jika malam mendatang nuansa keangkerannya sontak dapat terasakan oleh siapa pun yang ada di dekatnya.

Baca: Pelet Darah Perawan

Menurut Tatok (34 tahun) salah seorang seniman yang sering datang ke Pasar Seni Ancol, “Bagi yang awas, dulu, kadang mereka juga sering menampakkan diri bahkan berbaur dengan pengunjung. Walau begitu, jarang ada yang merasakannya”.

Biasanya, mereka yang sempat berkenalan bahkan berbincang dengan para makhluk halus tersebut akan datang ke tempat yang sama dan menunggu. Nah … karena yang ditunggu tidak muncul-muncul, biasanya, dengan malu-malu mereka bertanya apakah kita mengenal wanita atau pria dengan ciri-ciri tertentu”, lanjutnya lagi.

Setelah menyesap kopi yang mulai dingin dan menyalakan sebatang rokok, sambil tersenyum, Tatok pun melanjutkan ceritanya; “Biasanya kita mafhum lalu memberitahu kepada si penanya, bahwa yang dicari adalah makhluk gaib. Setelah diberi penjelasan panjang lebar, barulah mereka mau mengerti”.

Nuansa Mistik di Graf Ereveld Ancol

Apakah Mas Tatok pernah diganggu?” Pancing neomisteri penasaran.

Tidak …”, jawabnya cepat, “hanya kami bahkan pernah didatangi keluarga muda berpakaian santai yang meminta sahabat saya untuk melukisnya”, imbuhnya sambil geleng-geleng kepala.

Baca: Kurir Makanan Diganggu Sosok Wanita Berwajah Rusak

Malam itu, ia sengaja datang ke Pasar Seni Ancol untuk menemui sahabatnya yang kebetulan punya kios dan acap tidur di sana. Keduanya langsung saja terlibat dalam pembicaraan yang hangat seputar seni lukis; mulai dari surealis, naturalis bahkan sampai dengan abstrak. Karena asyik, tanpa sadar, kios lain yang ada di kiri, kanan bahkan di depan mereka telah lama tutup. Dan waktu pun mulai menunjukkan pukul 00.48 WIB.

Pembicaraan sontak terputus, karena, di depan kami tampak berdiri tiga orang. Seolah keluarga muda yang sengaja datang untuk berrekreasi — yang lelaki tampan dengan mengenakan kemeja biru dan bercelana hitam, sementara, sang istri dan anak perempuan yang usianya berkisar baru lima tahun tampak menggunakan pakaian santai. Mereka ingin fotonya dilukis ….

Baca: Dibekap Sosok Hitam Besar di Kontrakan

Setelah harganya cocok, sang lelaki memberikan sejumlah dolar dan menyerahkan selembar foto serta berjanji akan datang lagi beberapa hari kemudian untuk membantu mengarahkan detilnya. Tak lama setelah itu, keluarga muda itupun pamit untuk pulang ….

Tak lama setelah itu, bersamaan menguarnya parfum beraroma bunga mawar, hujan pun turun dengan lebatnya. Sontak, kami pun membenahi barang-barang agar tidak basah. Maklum, hujan kali ini disertai dengan angin yang cukup kuat. Ketika itu, sahabat Tatok seolah tersadar. Dengan cepat ia merogoh sakunya. Dan benar, sambil tersenyum kecut ia pun berkata; “Ternyata, tadi yang datang adalah penunggu Ereveld”.

Oow”, sahut Tatok, “semoga merupakan pertanda kios bakal ramai pembeli. Biasanya, kata orang-orang tua begitu”, imbuhnya lagi.

Dan benar, tak sampai seminggu, kios sang sahabat ramai dengan pembeli bahkan ada beberapa yang memesan lukisan dalam ukuran yang cukup besar dengan nilai yang juga lumayan tinggi. Menurut Tatok, itu semua adalah jawaban dari Allah atas permintaan sahabatnya yang sudah dua bulan ini tak pernah mendapatkan uang barang sepeser pun.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Manusia Super: Kisah Nyata Manusia Karet asal Inggris

Kulitnya begitu longgar dan melar seperti hendak lepas dari tubuhnya. Sehingga dia bisa mengubah perutnya menjadi meja untuk meletakkan tiga botol bir. Selain itu,...

Mengenal Sosok Ulama Ahli Metafisika asal Madura

Neomisteri - KH Bahaudin Mudhary dikenal sebagai salah satu ulama besar yang pernah dilahirkan di Indonesia. KH Bahaudin Mudhary lahir di Sumenep, Madura pada...

Artikel Terpopuler