Pasar Setan Alas Gumitir

Di tengah perjalanan mendadak Yanto teringat, sang kakak memintanya untuk membawa peralatan karena akan menebang rumpun bambu yang ada di belakang rumahnya untuk dijadikan kandang ayam ….
oleh: Aji Wibowo

Neomisteri – Sebenarnya, Gunung Gumitir yang menjadi penghubung Kabupaten Jember dan Banyuwangi sudah demikian akrab dengan dirinya. Maklum, ia yang berasal dari Banyuwangi sejak SMA belajar dan kemudian bekerja di Jember sambil melanjutkan kuliah. Oleh sebab itu, jika ia merasa kangen dengan kedua orang tua, keluarga atau sahabatnya, ia pun langsung saja berangkat dengan menggunakan motor kesayangannya. Dan tak sampai dua jam, ia sudah bisa berkumpul dengan mereka.

Seperti hari ini, Jumat, di bulan Juni 2020, lepas Salat Ashar, aku minta izin dengan beberapa teman untuk pulang ke Banyuwangi. Apalagi, aku sudah janji dengan Mas Bayu untuk membantu membuat kandang ayam di belakang rumah yang selama ini dipenuhi oleh rumpun bambu.

Kirain mo bikin undangan Bro”, celoteh Hari, sang teman dengan senyum penuh arti.

Bukan, mo bantu Mas Bayu bikin kandang ayam. Buat tambahan dapurnya mamake”, sahutku.

Oh … buat penghematan, nanti beberapa bulan kemudian bisa dipakai buat pesta pernikahan. Lumayan, bisa menghemat”, timpal Jono.

Alhasil, setelah sejenak berbincang di warung sambil menikmati Indomie rebus untuk sekadar pengisi perut, aku pun berangkat.

TTDJ yak”, kata mereka hampir bersamaan.

Aku mengangguk tanda mengerti dan menekan gas motor membelah jalan berliku yang ditumbuhi dengan subur pepohonan besar yang umurnya sudah mencapai puluhan tahun — sehingga membuat bulu kuduk siapa pun yang lewat bakal merinding. Apalagi bagi yang tidak biasa melewati jalur yang satu ini.

Jujur saja, walau dikata hampir tiap minggu melewati jalur yang satu ini, kadang, sesekali perasaan takut pun menguasai hatiku. Seperti yang terjadi hari itu, di tengah-tengah perjalanan, mendadak, aku teringat dengan pesan Mas Bayu yang memintaku membawa peralatan sekadarnya untuk menebang atau membelah bambu. Mudah-mudahan, sesampainya di sekitar rumah masih ada toko atau warung yang menjual peralatan pertanian yang masih buka.

Ketika sedang asyik berandai-andai tentang warung atau toko yang masih buka, di depan sana tampak orang lalu lalang. “Ah … ternyata, pasar di sini masih buka”, demikian bisik hatiku.

Tanpa banyak tanya, aku langsung meminggirkan motor, mematikan dan berjalan ke arah toko yang menjual pelbagai peralatan pertanian. Setelah sejenak melihat-lihat, aku langsung mengambil sebuah pisau panjang yang kelihatannya kuat dan tajam serta menanyakan harganya.

Setelah tawar menawar yang cukup ketat, akhirnya, kesepakatan harga pun terjadi. Parang itu dihargai Rp110.000. Yang membuatku agak jengkel adalah, si pemilik memintaku membayarnya dengan uang pecahan Rp100.000 dan Rp10.000. Ia ngotot tak mau dibayar dengan uang pecahan yang lain, walau jumlahnya sama.

Singkat kata, akhirnya, aku menemukan pecahan yang dimaksud walau harus mengeluarkan seluruh isi tas. Si pemilik toko langsung menyerahkan pisau panjang yag telah dibungkus dengan selembar surat kabar usang. Setelah mengucapkan terima kasih, aku kembali ke motor, menghidupkan dan kembali melaju ke rumah.

Sekitar pukul 20.00 aku tiba dan disambut dengan wajah penuh tanya oleh seisi rumah. Alih-alih menjawab uluk salamku, ayah, ibu, Mas bayu dan Andin adikku menatap dengan penuh tanya. Karena jengkel, aku pun mengulang uluk salam; “Assalamualaikum …”.

Waalaikumsalam”, jawab mereka serempak dengan lesu.

Ada apa … ada yang aneh?” Tanyaku penasaran.

Ibu langsung saja bertanya dengan suara tercekat; “Yanto …”.

Ya … saya Yanto, anak ibu”, sahutku sambil menatap wajah mereka satu per satu dan memeluk ibu.

Mendadak, semuanya menangis walau tak mengeluarkan suara. Akhirnya, terdengar suara Mas Bayu; “Kamu bawa apa?”

Aku langsung mengangsurkan bungkusan. Semua makin terkejut ketika melihat kertas koran usang pembungkus, di situ tertulis SOERAT CHABAR SINAR MATAHARI APRIL 1914 — sementara, pisau panjang yang kubeli berubah menjadi pedang suduk, tangguh mataram dengan pamor wos wutah.

Ibu langsung memelukku semakin erat; “Nang (panggilan sayang kepada anak lelaki-red), ini sesuai dengan mimpi ibu beberapa hari lalu. Ibu mimpi, ada seorang lelaki tua datang dan ingin ikut denganmu”.

Karena penasaran, kami semua langsung mendatangi rumah Pakde Raji, kakak ayah yang memang menguasai ilmu kebatinan. Tanpa banyak tanya, begitu kami dipersilakan duduk, Pakde Raji langsung berkata; “Ini semua sudah tertulis di sana, bahwa pada hari ini, Yanto ditunjuk oleh leluhur kita untuk menjaga, menyimpan dan merawat salah satu pusaka milik keluarga besar. Terima saja, dan kerjakan sebagaimana mestinya tanpa harus keluar dari syariat agama”.

Semua mengangguk tanda setuju, dan sampai sekarang pusaka itu kusimpan di almari rumah.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Mengintip Masjid Seribu Pintu Tangerang

Masjid ini juga memiliki ruang bawah tanah yang menjadi tempat Al Faqir beritikaf. Ruangan ini dinamakan Ruang Tasbih karena terdapat tasbih kayu raksasa yang...

Membuka Pintu Rizki dengan Shalawat Nariyah

Barang siapa yang membiasakan atau melanggengkan membaca sholawat ini setiap hari sebanyak 11 kali, maka Allah akan menurunkan rezeki dari langit serta mengeluarkannya dari...

Artikel Terpopuler