Pelet Wanita Kampung Laut

Sontak ibu itu keheranan dengan cerita mereka berdua. “Haah.. Di ujung pasar? Ujung pasar ini hanya hut…” Belum sempat ibu tersebut menuntaskan perkataan, mualim kapal kembali menelpon Andi untuk segera ke kapal. Karena kapten menelpon mualim kapal untuk segera berangkat.

 

Neomisteri – Sebuah kisah nyata yang di alami seorang pelaut yang singgah ke desa tidak dikenal. Kisah ini berasal dari abang ipar saya sendiri, mantan nahkoda kapal tongkang dari kota ke kota, sebut saja namanya Andi (nama tokoh, kota, dan desa saya samarkan demi kebaikan bersama).

Disini saya akan bercerita dari sudut pandang orang ketiga biar cerita lebih mudah di mengerti….

Tahun 1990, hiduplah sebuah keluaga kecil yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Andi yang sebagai kepala keluarga bekerja sebagai nahkoda kapal tongkang yang membawa barang dari kota A ke kota B. Sementara sang istri ngurus rumah tangga dan anak sebagaimana ibu pada umumnya.

Andi yang biasanya santai di sore hari di teras rumah dengan secangkir kopi dan rokok karena belum dapat panggilan untuk mengawal kapal. Tiba-tiba, “kring kring… Kringg… Kringg..,” telpon berbunyi.

Leha (nama istri Andi) yang sedari tadi sibuk merapikan baju mendengar lantas mengangkat telpon. “Halo… Selamat sore. Siapa ya?”

Kapten kapal : “Selamat sore bu.. Bapak Andinya ada?”

“Oh iya ada.. Tunggu sebentar yah.”

“Pak, ini kapten kapal nelpon nyariin bapak,” ujar Leha sedikit berteriak.

Andi langsung ke dalam dan meraih telpon.

“Halo… Ada apa Kep?”

Kapten kapal: “Gini Ndi.. Malam ni kapal w*han*12 mau berangkat bawa barang. Jadi malam ini kamu ke dermaga yah.”

“Iya iya Kep.. Siap,” ucap andi semangat sambil menutup telpon.

“Ada apa pak? Malam ini disuruh nyupir kapal?” tanya Leha.

“Iya bu… Malam ini disuruh ke dermaga sama Kapten.”

“Ya udah… Ibu siapin perlengkapan bapak dulu.”

***

Setelah sholat Maghrib, Andi berangkat. Tidak lupa dia berpamitan dengan istri dan anaknya. Jarak dermaga dari tempat Andi memang cukup jauh. Setidaknya butuh waktu 2 jam menggunakan sepeda motor.

Di perjalanan, Andi seperti biasa melewati hutan pohon Akasia. Karena jalan pintas dari tempat tinggal Andi ke dermaga memang harus melewati hutan tersebut agar cepat sampai.

Singkat cerita, Andi pun sampai di dermaga lalu langsung bertemu Kapten di kantor.

“Malam Kep,” sapa Andi.

“Malam Ndi. Nanti kamu ngawal kapal barengan dengan Yudi biar bisa gantian. Itu saya udah siapkan 20 drum minyak dan kebutuhan lainnya,” kata Kapten. (Yudi juga bekerja sebagai nahkoda sama seperti Andi).

“Oke.. Oke.. Siap Kep.. Andi tinggal dulu Kep. Mau ke kapal cek perlengkapan.”

“Ya silahkan.”

Andi pun keluar dari ruangan dan langsung menuju kapal. Sesampainya di kapal, di bagian ruang kendali, ternyata Yudi sudah lebih dulu datang dan melihat-lihat. Karena memang setiap kapal itu alat untuk mengemudikannya beda-beda.

“Kamu Yudi yah?”

“Iya mas… Salam kenal.”

“Aku Andi.. Aku yang akan menemani berlayar malam ini.”

Mereka pun saling berbagi cerita serta pengalaman tentang suka duka jadi nahkoda kapal.

Jam menunjukan 22:00 dan kapal pun berangkat dari kota J*m*i menuju kota S*rab*ya. Awalnya Andi yang membawa kapal dari pelepasan di dermaga lalu berlayar. Seperti biasa, kapal yang menyeret tongkang ini memang lambat karena muatan yang dibawa, banyak.

Tanpa terasa, pagi pun datang disambut dengan sunrise di samudra. Andi yang tidak tidur semalam merasa ngantuk.
Yudi yang melihat itu lantas menawarkan untuk bergantian. Dan andi pun ke bawah menuju ruangan awak kabin. Untuk beristirahat. Begitu nyenyak hingga andi terlelap. Hingga petang.

Tanpa disangka, mesin kapal tiba-tiba mati dan membuat seisi kapal panik karena mesin mengeluarkan asap yang begitu hitam. Lantas Yudi sebisa mungkin menepikan kapal karena perjalan belum sampai ke laut lepas. Andi yang masih nyenyak tertidur, dibangunkan kru kapal yang panik.

“Pak Bangu… Itu mesin lagi anda masalah.”

Sontak Andi langsung beranjak dari ranjang dan menuju keluar. Dan benar saja. Kepulan asap menyelimuti langit.

“Kenapa bisa begini?” tanya Andi.

“Enggak tau pak, tiba-tiba mesin mati mendadak. Lalu lama kelamaan asap mulai keluar lalu pekat hitam sperti itu,” jawab kru.

“Gimana Ndi? Apakah rusaknya cukup parah?”

“Belum tau Yud.”

“Kelihatannya malam ini kita akan menginap di sini dulu. Nanti aku telpon kapten.”

Jam pun menujukan 17:00. Andi yang berkeliling kapal melihat-lihat ke tepian laut seperti melihat ada pelabuhan kecil. Lantas memanggil Yudi.

“Yud.. Kayaknya ada perkampungan di sana itu. Yuk kita ke sana sambil melihat-lihat kampung di sini.”

“Boleh tuh.. Siapa tau ada yang bisa dijadikan simpanan,” celetuk Yudi sambil tertawa.

Lalu mereka berdua pun menyuruh kru kapal untuk menurunkan perahu kecil yang biasa digunakan kru kapal untuk turun dari kapal.

Lanjut nanti ya.. Abis sholat zhuhur.. Kalo enggak ketiduran sih.”

Sebelum mereka pergi, Andi menemui mualim (Mualim adalah sebutan untuk orang yang bertanggung jawab muatan yang dibawa) untuk izin keluar dari kapal. Karena memang seorang nahkoda tidak boleh sembarangan meninggalkan kapal. Sebab pada dasarnya nahkodalah yang bertanggungjawab bagaimana lancar atau tidaknya pelayaran tersebut.

“Permisi pak…” kata Andi.

“Menjelang masinis memperbaiki mesin, saya dan Yudi mau ke desa seberang yang ada di tepi laut itu dulu. Mohon izin sebentar yah pak.”

“Yya.. Silahkan pak Andi.”

Namun hati-hati ya pak. Usahakan sebelum gelap pulang ke kapal.. Takutnya terjadi apa-apa.”

“Iya iya.. Siap pak.”

Setelah itu mereka pun turun dari kapal namun baru saja mereka ingin menaiki perahu, ada ABK yang cukup lama sudah menjadi kru di kapal tersebut menegur.

“Pak hati-hati kalo ke desa orang. Apa lagi bapak sebagai pendatang. Jangan sampai bapak enggak inget pulang,” kata sang ABK.

Andi dan Yudi hanya tertawa kecil seolah hal itu sudah biasa dilakukannya. Karena para pelaut memang indentik dengan punya banyak simpanan.

Singkat cerita, setelah mengayuh cukup lama sampailah mereka di pelabuhan kecil tersebut. Dan memang benar di sana ada perkampungan. Orang yang tinggal di sana seperti nelayan pada umumnya. Yang laki-laki banyak yang tidak mengenakan baju hanya memakai celana dan topi caping menutup kepala.

Para-para wanitanya juga masih terkesan jadul hanya memakai kain panjang sebagai penutup tubuh. Lalu sanggul kain berada di kepala.. Namun anehnya, Andi dan Yudi melihat para wanita itu seperti masih muda semua sehingga ketika mereka sampai. Mereka sibuk memandang sekitaran kampung tersebut.

Mereka pun mencoba mencari warung makan. Karena memang Andi yang tadi habis bangun tidur belum sempat makan sedikit pun walaupun persediaan banyak di kapal.

“Yud.. Cari makan lah dulu.. Laper ni. Belum juga makan dari pagi.”

“Sama nih bang Ndi. Dari gantiin abang tadi enggak sempet makan nasi. Cuma ngemil roti sambil nyupir.”

“Ya udah.. Itu kelihatannya ada warung… Mampir situ aja.”

Andi dan yudi tidak menaruh rasa curiga pada desa tersebut karena sedari tadi dia hanya melihat wanita muda. Mereka tidak menemukan wanita tua di desa ini.

“Wanita di sini awet muda yah.. Apakah mereka rajin merawat tubuh mereka? Padahalkan orang desa.”

“Iya bang… Jadi pengen bawa pulang satu.. Hihihi.”

“Husst! Kamu mah.. Kalo aku jangan sampelah. Pokoknya kasian sama anak bini.”

“Yaah tapi mau gimana lagi bang.. Pekerjaan kita kan resikonya jauh dari anak dan istri. Kalo abang mungkin bisa tahan sih. Kalo aku yang susah bang. Namanya juga lelaki.”

Yudi tertawa kecil dikuti Andi tertawa juga.

Mereka baru berkenalan semalam namun seperti sudah saling akrab karena sebagai satu kapal memang harus dituntut untuk saling akrab sebagai satu tim.

Hingga sampai di warung, mereka pun memesan nasi lalu makan. Di balik etalase, ibu penjual terus memandangi mereka. Yudi yang merasa risih menyenggol andi. Lalu si ibu mendekat dan bertanya.

“Mas-mas ini pendatang ya?”

“Iya bu.. Kapal kami sedang diperbaiki. Jadi kami mampir ke sini untuk cari makan.”

“Oh begitu.. Saya peringatkan, lebih baik mas kembali ke kapal sebelum gelap.”

“Memangnya kenapa bu?”

Lalu ibu itu hanya diam dan kembali bekerja seperti biasa. Andi dan Yudi merasa aneh dengan sikap ibu tersebut.

Jam menunjukkan 17:50, hampir magrib. Orang orang yang tadi kelihatan sepi, tiba-tiba rame seperti pasar. Mereka keluar rumah. Semuanya keluar seperti ada pasar dadakan.

Lalu Andi membayar makanan yang telah mereka makan kepada ibu tersebut. Si ibu menerima uang dan mengembalikan uang dengan sangat tergesa-gesa. Ketika Andi dan Yudi keluar dari warung, si ibu menutup warungnya. Sementara di luar, orang-orang sangat ramai yang berjulalan.

“Lah si ibu itu.. Orang lagi rame-ramenya malah tutup. Anehkan?!” kata Yudi.

“Iya Yud… Ayo kita kembali ke kapal… Udah mulai gelap nih.”

Ketika mereka berjalan menuju pelabuhan. Wanita-wanita di desa tersebut menatap mereka dengan tatapan genit. Sesekali Yudi memainkan matanya. Karena Yudi bisa dibilang cukup liar soal wanita. Berbeda dengan Andi. Andi menanggapinya biasa saja, karena Andi selalu teringat anak istri di rumah.

Baru saja mereka mau sampai ke pelabuhan, Tiba-tiba ada wanita menghampiri mereka. Sangat cantik sekali. Mecegah mereka untuk menaiki perahu.

“Mas-mas ini dari kapal yang besar itu yah?” menunjuk kapal yang di seberang.

Baru Andi ingin menjawab, langsung dipotong Yudi.

“Iyah mbak.. Memang kenapa? Mbak mau ikut? Hihi.”

Wanita itu tersenyum. Senyum yang membuat Andi dan Yudi terpukau.

“Hehe… Enggak kok mas, cuman nanya. Kenapa enggak besok pagi aja pulang ke kapal? Hari sudah mulai gelap. Kan bisa menginap di sini dulu. Nanti saya kenalkan dengan adik-adik saya,” si wanita berujar.

Yudi yang sedari tadi telah terpikat, lantas memohon kepada Andi untuk ke kapal besok pagi saja. Andi pun luluh dan menelpon mualim bahwa dia dan Yudi akan menginap di desa untuk malam ini. Karena kebetulan mesin kapal belum selesai diperbaiki.

Yudi yang sengat senang langsung berjalan mengikuti wanita tersebut. Diiringi andi di sampingnya.

Tanpa mereka sadari, di sinilah awal mula keluarga mereka nanti perlahan akan hancur.

Mereka pun berjalan ke rumah wanita tersebut. Di sepanjang jalan, orang-orang sangat ramai seperti pasar pada umumnya. Namun anehnya, penduduk tersebut sangat dingin dan tatapannya kosong.

Andi dan Yudi tidak menyadari itu, terutama Yudi. Matanya hanya tertuju pada wanita yang berjalan di hadapannya tersebut.

“Magrib-magrib gini kok rame orang malah rame di luar yah? Apa mereka enggak sholat?” tanya Andi.

“Yaah… Mungkin pasarnya seminggu sekali bang.. Jadi sayang dilewatkan,” jawab Yudi.

“Yaa.. Bisa jadi sih.”

Yudi mendahului Andi lalu beriringan dengan si wanita.

“Mbak namanya siapa yah?” tanya Yudi.

“Nama saya Lastri, mas.”

“Oooh Lastri.. Namanya cantik yah sama kayak orangnya.”

Andi dari belakang mendengar, bergumam dalam hati,
“Teruuus gombal aja teruuus.”

“Aah.. Mas bisa aja,” sambil tersenyum manis.

“Lalu, nama mas siapa?” tanya Lastri.

“Nama mas, Yudi. Dan itu temen mas namanya Andi.”

“Oooh… Gitu.”

Lama mereka berjalan dan sudah habis melewati pasar tersebut akhirnya sampai ke rumah Lastri. Entah kenapa adik-adik Lastri tersebut seolah tau kedatangan mereka. Mereka sudah menunggu di depan rumah.

“Ini adikku mas. Ayu dan Rini. Hehehe… Dek, salim nih sama masnya.”

loading...

Dan mereka pun saling bersalaman satu sama lain. Andi dan Yudi dipersilahkan masuk dan duduk di ruang tamu.
Rumahnya seperti rumah gubuk, hanya terdiri dapur,
Kamar, dan ruang tamu. Ruang tamunya hanyalah beralaskan tikar serta makanan ringan di dalam toples di tengah tengah tikar.

“Ambil air wudhu di mana yah?”

“Di belakang mas. Mari saya antar.”

Andi yang menganggap biasa-biasa saja, mengikuti dari belakang dan sampai di sumur tepat belakang rumah.

“Di sini mas sumurnya, nanti airnya masukan aja ke dalam kendi itu,” tutur Ayu.

Andi hanya diam, lalu menimba air lalu menyalinnya dalam kendi dan mulai berwudhu. Tanpa dia sadari, Ayu menunggu dan selalu memperhatikan dia. Selesai berwudhu, Andi pun sholat. Berbeda dengan Yudi, dia sedari tadi hanya rebahan sambil memakan camilan di hadapannya.

Usai sholat, Andi dan Yudi pun berbincang-bincang dengan tiga gadis tersebut sampai pada pembicaraan, Andi bertanya:

“Ibu dan bapak kamu kemana Las? Kok dari tadi enggak keliatan?”

“Bapak sudah meninggal dari Rini kecil. Sementara ibu meninggal saat terjadi perompakan yang dilakukan para pelaut untuk mencari rempah di kampung kami. Sekitar 15 tahun silam. Karena kejadian itu, hanya aku dan adik-adik yang selamat Karena kami berlari menuju hutan. Dan para perompak itu tidak berhasil menemukan kami.

Setelah 2 hari di hutan, kami memutuskan untuk kembali ke desa. Namunn desa telah hancur. Orang-orang sudah tidak ada. Para lelaki banyak yang dibunuh, sementara para wanita banyak jadi tawanan para perompak tersebut.”

Terisak air mata Lastri menceritakan kisah tersebut. Ayu dan Rini menangis mengingat kisah pilu itu. Andi dan Yudi hanya bisa kasian dengan apa yang dialami tiga gadis tersebut.

Tanpa disadari, lamanya bercerita, jam sudah mununjukkan pukul 23.00, mereka pun ingin tidur.

Andi yang sedari tadi menyadari bahwa Ayu memperhatikan dia, lantas memandang Ayu. Lalu Ayu tersipu malu. Entah apa yang merasukinya, Andi pun luluh jika melihat senyum malu-malu dari gadis itu.

Sebelum tidur, Lastri mengatakan sesuatu. “Mas, besok kalo mau pulang, pulang aja. Kami biasa sebelum pagi sudah melakukan rutinitas kami. Jadi jika mas bangun kami sudah nggak ada di rumah, ditinggal aja. Enggak apa-apa. Sampai bertemu di lain waktu.”

Ayu tersenyum lalu bersalaman dengan mereka berdua.
Diikuti Ayu dan Rini. Namun ketika Andi menyalami Ayu, seperti ada hawa dingin, namun terasa begitu tenang. Serta andi sangat merasa nyaman ketika memegang tangan Ayu. Dan akhirnya mereka pun tertidur sampai pagi.

Jam 6 pagi, Andi terbangun karena suara handphonenya tiba-tiba berbunyi. Dan ternyata mualim menelpon mengatakan bahwa mesin telah selesai diperbaiki oleh masinis. Ketika Andi dan Yudi beranjak dari tempat dia tidur, Yudi ingin membasuh muka terlebih dahulu.

Lalu dia ke belakang. Dan benar saja, para wanita itu sudah tidak ada di rumah dikarenakan mereka menjalakan rutinitas sebelum pagi.

Yudi mengambil air di dalam kendi yang Andi timba sewaktu malam. Baru saja ingin membasuh muka dengan air di dalam kendi tersebut, tiba tiba bau busuk tercium di hidungnya.

“Kok bau yah? Udah berapa bulan enggak diganti air di kendi ini?”

Andi yang sudah siap siap di luar rumah lantas berteriak dan memanggil Yudi.

“Yudi… Cepetan. Kamu ngapain di belakang.. Kru awak kapal nungguin kita.”

“Iya bang, bentar.”

Tanpa memikirkan air yang di kendi itu, Yudi pun langsung berlari keluar rumah dan menemui Andi lalu merapatkan pintu rumah tanpa di kunci. Karena pesan Lastri, kalau sudah pergi, pintu dirapatkan saja, tidak perlu dikunci.

Di perjalanan, Andi berjalan menuju pelabuhan. Warga memerhatikan mereka berdua. Seperti ada hal yang aneh. Tepat berada di depan warung tempat yang kemarin mereka makan, Ada ibu warung. Lalu ibu tersebut menegur mereka.

“Kalian.. Yang kemarin.. Kenapa belum pulang ke kapal?”

“Oh, jadi gini bu.. Pas kami mau ke perahu, ada gadis cantik menawarkan menginap di rumahnya tepat di penghujung pasar ini (sambil menunjuk rumah Lastri). Lalu saya dan teman ini menginap di rumah mereka. Karena memang waktu itu udah magrib jika harus pulang ke kapal.”

Sontak ibu itu keheranan dengan cerita mereka berdua. “Haah.. Di ujung pasar? Ujung pasar ini hanya hut…”

Belum sempat ibu tersebut menuntaskan perkataan, mualim kapal kembali menelpon Andi untuk segera ke kapal. Karena kapten menelpon mualim kapal untuk segera berangkat, mengingat waktu tempuh mereka yang jauh serta waktu yang mepet.

“Sudah ya bu.. Kami pergi dulu.”

Ketika mereka sudah cukup jauh, ibu tadi berucap. “Aku sudah mengingatkan kalian.. Jangan sampai ada lagi yang terpedaya oleh penghuni kampung ini.”

Andi dan Yudi begegas menuju perahu dan mengayuh secara serentak. Hingga sampai di kapal, para kru kapal serta ABK sudah menunggu kedatangan mereka. Sesampainya di kapal, seorang ABK nyeletuk dengan suara agak sedikit mengejek.

“Wiih… Abis mantap mantap nihh, sampe-sampe enggak malam enggak inget pulang ke kapal.” Diiringi tawa dari para ABK lain.

“Wus, ngawur kamu.. Kami ke sana cuma cari makan.”

“Aah, bang Andi alesan aja nih.. Padahal chief kapal masakannya kan enak.”

“Yya nih bang Andi. Mentang-mentang dapat kenalan yang baru di sana tadi, akunya jadi enggak kebagian,” sahut Yudi.

“Ah kamu Yud.. Malah memojokkan aku.. Kan kamu yang memohon buat nginap di rumahnya. Malah aku yang jadi sasaran.”

Mereka pun tertawa bersama tanpa adanya perbedaan anak buah maupun nahkoda. Mereka memang dekat bagaikan saudara.

Lalu Andi dan Yudi mulai naik ke atas di ruang kendali, Dan mulai perjalanan. Mesin dihidupkan dan mereka kembali berlayar. Yudi yang lebih membawa kapal karena memang Yudi jika malam tidak tahan matanya untuk begadang.

Ketika di perjalanan. Andi sedari tadi hanya melamun. Entah apa yang di pikirkannya. Yudi yang menyadari itu lantas menegurnya.

“Woii bang.. Ngapain ngelamun? Laper? Ke bawah aja bang minta bikinin mie sama chef. Sekalian aku nitip kopi.”

“Enggak lah yud. Abang cuman kepikiran sama Ayu. Kok senyumnya begitu lekat ya di pikiran.”

“Abang jatuh cinta lagi ini.. Pasti ini mah.”

“Enggak lah yud.. Jangan sampai. Kasian istri abang di rumah.. Lagian juga dia ngizinin abang masih kerja begini karena dia percaya. Sebab dia tau.. Jika menjadi pelaut, tidak ada kemungkinan tidak memiliki simpanan.”

Yudi hanya mengangguk seolah mengerti. “Ya sudah kalo gitu bang. Tolong jagain ni bentar. Aku mau ke bawah buat kopi. Abang mau sekalian?”

“Boleh tuh Yud… Kopi abang agak kental ya… Gulanya dikit aja.”

“Ayay Kepten.”

“Hustt… Udah kaya perompak aja kamu kalo ngomong gitu.”

Yudi hanya tertawa sambil turun ke bawah. Selesai membuat kopi, Yudi kembali ke atas dengan dua cangkir kopi. “Nih bang kopimu.. Sini biar aku lagi yang kendalikan kapal.”

“Makasih Yud.. Ya udah abang di luar aja sambil cari angin.”

Tiba-tiba, handphone Andi berbunyi. Dilihatnya ternyata Leha istrinya yang menelpon. Andi pun segera mengangkat telpon. “Halo. Assalamuallaikum bu.”

“Waalaikumsalam pak,” jawab Leha.

“Bapak lagi di daerah mana? Udah sampe belum?” lanjutnya.

“Belum bu… Bapak masih di deerah B*t*m ini mau keluar menuju laut lepas ke arah tujuan.”

“Ooh gitu ya pak. Bapak enggak kenapa-kenapa kan?”

“Ya enggak lah bu. Bapak sehat-sehat aja. Semalam mesin kapal mati jadi agak lambat aja sampainya. Emang ada apa bu?”

“Iya enggak ada apa-apa sih pak.. Ibu hanya khawatir sama bapak. Takut bapak terjadi apa apa.”

“Ibu doakan aja bapak selamat sampai tujuan. Bapak baik-baik saja kok.”

Andi meyakinkan Leha bahwa tidak terjadi apa-apa. Namun bagaimana pun, seorang istri punya firasat yang kuat bahwa suaminya tidak dalam keadaan baik-baik saja. Lebih tepatnya bahwa akan ada hal besar yang menanti kluarga mereka.

“Hehehe… Ibu pasti selalu doakan bapak kok.. Ya udah ya pak, ibu tutup dulu. Assalamuallaikum.”

“Waalaikumsalam.”

“Gimana ini.. Apakah aku akan menghianati istriku.. Atau mungkin dia aku madu saja.. Entah kenapa hasrat ingin memiliki Ayu begitu kuat.. Tapi di satu sisi, aku telah memiliki Leha dan Kiki (anaknya).. Apakah aku akan mengingkari janji.. Kuharap tidak,” gumam andi di dalam hati

Andi selalu terpikir soal itu. Dan tanpa ia sadari, senja pun datang. Andi beranjak dari tempatnya duduk lalu menuju ke dalam ruang kendali.

“Bang Andi, ke bawah aja dulu mandi, sholat. Nanti abis Isya, baru gantian.”

“Enggak apa-apa nih ditinggal sendirian?”

“Enggak apa-apa kok bang.”

“Ya udah kalo gitu, abang ke bawah dulu.”

Tepat setelah jam 8 malam, abis sholat isya, Andi naik lagi ke atas di ruang kendali.

“Ya udah Yud.. Gantian. Kamu istrihat lagi.”

“Aah… Akhirnyaa.” sambil meregangkan otot tangan.

Malam itu, Andi hanya sendiri. Langit pun gelap tanpa ada bintang satu pun. Awan hitam mulai menyelimuti langit. “Nampaknya mau hujan,” gumam Andi. Andi pun menutup pintu ruangan serta jendela jendela agar angin tidak masuk.

Tiba tiba Andi mendengar seperti ada yang memanggil.

“Mas Andii… Maas.” Suaranya begitu sayu. Bahkan siapa pun yang mendengar pasti akan luluh.

“Suara siapa yah? Terdengar samar, tapi begitu sayu.”

Semakin andi mendengarkan suara tersebut andi semakin terhanyut. Lama suara itu memanggil.

Tiba-tiba radio dari kapal tersebut berbunyi. Radio yang biasa di gunakan nahkoda kapal untuk saling berkomunikasi dengan kapal yang lainnya. Sontak membuat suara itu hilang dan Andi langsung mengambil mic radio tersebut.

“Kepada kapal w*han*12 untuk segera putar ke kiri sedikit karena akan terjadi benturan.”

Sontak andi langsung membanting stir kapal ke kiri agar tidak terjadi benturan terhadap kapal.

“Huuh… Hampir sajaa,” gumam Andi. Dalam keadaan berkeringat andi sangat ketakutan. Dia pun beristigfar agar tidak diganggu dengan hal-hal semacam itu lagi.

Tak lama, mualim masuk ke ruang kendali dengan membawakan Andi kopi. Mualim menyangka Andi mengantuk karena hampir aja berbenturan dengan kapal lainnya.

“Nih ngopi dulu Ndi.. Pasti kamu ngantuk.”

“Hehe… Enggak kok pak.”

Mereka pun berbincang tentang awak bagaimana bisa jadi seorang pelaut. Tidak terasa pagi pun tiba. Karena perjalanan laut dari kota J ke kota S butuh paling tidak 5 sampe 7 hari, Andi dan Yudi menjalani hari sebagai mana biasanya di kapal. Hingga sampailah di kota tujuan.

Lalu mereka beistirahat dan besok baru berangkat lagi ke dermaga awal. Sambil menunggu muatan di bongkar, Andi dan Yudi pun beristirahat. Karena perjalanan 7 hari tanpa henti tentunya pasti melelahkan.

(bersambung)

 

 

 

 

 

 

—————-

sumber: @Attar01Putra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *