Penghuni Gaib Kontrakan Tua

Aku sungguh tak menyangka, rumah tua yang terletak di sudut jalan namun bersih, asri dengan dua batang pohon mangga di halaman serta kolam ikan di sisi kirinya, ternyata, sangat angker ….
oleh: Anandika Wijaya

 

 

Neomisteri – Satu rumah kontrakan walau bangunan tua namun bersih dan asri dengan harga yang tergolong murah membuat aku bak mendapatkan durian runtuh. Maklum, sebagai keluarga muda, kami harus benar-benar dapat berhemat dalam segala hal — salah satunya adalah mendapatkan rumah untuk tempat tinggal yang dekat dengan kantor, pasar dan rumah sakit.

Singkat kata, walau banyak tetangga yang memandang kami dengan tatapan penuh keheranan, akhirnya, kami pun pindah dan selama dua hari mulai menata pelbagai perabotan yang kami miliki agar rumah terasa nyaman dan layak untuk dihuni.

Baca: Pengalaman Mistik Supir Taksi

Malam ketiga, bersamaan dengan malam Minggu kami mengundang warga sekitar untuk syukuran sekaligus memperkenalkan diri. Beruntung, Ketua RT tempat kami tinggal masih tergolong muda dan sangat bersahabat — ia yang memfasilitasi acara syukuran ini hingga berjalan dengan sukses. Boleh dkata, hampir seluruh warga RT datang, dan kami dapat saling memperkenalkan diri — usai mereka kembali ke rumah masing-masing, kami pun tertidur karena kelelahan yang amat sangat.

Paginya, usai mendirikan salat Subuh, kami sepakat menggunakan ruang bekas gudang sebagai musala, sementara, pelbagai barang yang belum digunakan kami tempatkan di gudang yang letaknya bersebelahan dengan musala.

Praktis, seharian, aku dengan dibantu Adi, Yoga dan Angga, menyelesaikan penataan barang. Walau lelah, tapi kami puas, maklum, semua barang bias masuk dan tertata dengan apik sesuai selera kami berdua. Malam itu, aku, Yulia, istri dan ketiga sepupunya yang sengaja ingin menginap berbincang seru di ruang keluarga.

“Ah … rasanya kita kayak orang jaman kuno yak”, celoteh Adi yang disambut dengan anggukkan kepala dua saudaranya.

“Maksudnya?” Tanya Yulia, istriku.

“Lihat saja tata letak rumah ini”, katanya cepat sambil menerangjelaskan posisi dan kegunaan kamar. Semua maklum, Adi memang kuliah di jurusan arsitektur. Wajar jika ia sangat mafhum.

Malam itu, seperti biasa, menjelang pukul 02.00 aku selalu terbangun untuk mendirikan qiyamul lail. Di tengah-tengah salat, aku merasakan seolah ada seseorang yang tengah mengawasiku. Bulu kudukku pun sontak meremang …

Selepas itu, mengaji sambil menunggu waktu Subuh tiba. Setelah membangun istri dan ketiga sepupunya untuk salat Subuh berjamaah, aku langsung menjerang air untuk membuat minuman panas, sementara, Yuli menggoreng pisang. Kami kembali berkumpul, kali ini di ruang makan yang terletak di dekat dapur. Begitu jendela kubuka, hawa dingin dan bersih pun menyeruak masuk membuat dada kami semua menjadi lapang.

“Segarnya …”, kata Angga sambil merentangkan kedua tangannya di depan dada.

Baca: Terjebak Birahi, Pengantin Baru Dicumbu Genderuwo

Waktu terus berlalu. Tanpa terasa, tiga minggu sudah aku tinggal di rumah tua itu. Malam itu, kebetulan malam Jumat, seperti biasa, aku terbangun tepat pukul 02.00. Sekali ini tak seperti biasanya, mataku seolah lengket … dan badan pun lunglai. Lepas salam, antara tidur dan tidak, aku merasa ada seorang lelaki berpakaian hitam dengan mata menatap tajam tersenyum kepadaku.

“Alhamdulillah”, kata lelaki tua itu. “Udah mau ngaji ma sembahyang di mari”, lanjutnya lagi dengan dialek Batawi yang kental.

Aku terkesiap. Maklum, sepanjang hidup, baru sekali ini aku mengalaminya. Dengan ketakutan yang teramat sangat, aku pun bertanya; “Kakek siapa dan mengapa ada di sini?”

“Ceritanya panjang Tong (panggilan kesayangan terhadap anak lelaki-Btw). Panggil gua Kong Jemat. Gua mati dibunuh Kompeni dan dikubur di mari. Syukur, sekarang lu yang nempatin dan mau sembahyang dan mengaji di mari. Berkah dah, moga apa yang lu pengenin kabul“, kata Kong Jemat.

Antara sadar dan tidak, aku hanya bisa berkata; “Baik Kong, tapi Engkong jangan maujud atau bikin tanda-tanda kalo lagi deket istri atau sepupu saya. Nanti mereka takut”.

Kong Jemat mengangguk. Ia bahkan memberikan beberapa amalan yang ternyata sama dengan amalan yang pernah diberikan oleh guruku waktu mengaji di kampung.

Baca: Pesugihan Alas Bonggan

Sejak kejadian itu, dua bulan kemudian, pohon manga di depan dipenuhi dengan buah — padahal, selama ini belum pernah berbuah sama sekali. Hasil dari ternak lele di samping rumah pun sangat memuaskan. Boleh dikata, apa yang kami kerjakan selalu berhasil. Kami yakin, itu semua merupakan karunia dari Allah.

Kami benar-benar bersyukur pada Allah, sebab, tabungan untuk biaya kelahiran putra pertama kami sudah lebih dari cukup.

Apa komentarmu?