Penjaga Gaib Pintu Air Jagir

Penjaga Gaib Pintu Air Jagir

Sebagaimana lazimnya bangunan lama, Pintu Air Jagir, Surabaya, yang dibangun pada rentang 1917 sampai sekarang masih berfungsi dengan baik, ternyata, dijaga oleh beberapa penunggu tak kasat mata ….
oleh: Aries Prasetya

Neomisteri – Jika kita mau merunut ke belakang barang sejenak, di areal berdirinya Pintu Air Jagir, Surabaya, pada masa lalu merupakan tempat sandar pasukan Tartar dan berakhir menjadi palagan — di tempat ini, pasukan Tartar dihancurkan oleh pasukan Raden Wijaya sekembalinya mereka menyerang Kerajaan Kadiri yang kala itu diperintah oleh Jayakatwang.

Sudah barang tentu, kala itu, jenazah para prajurit terdapat di mana-mana. Boleh dikata, kala itu, lokasi tempat Pintu Air Jagir berdiri dipenuhi dengan ratusan bangkai manusia serta berbagai binatang tunggangan yang meregang nyawa. Akibatnya sudah kita duga bersama, tempat tersebut pun menjadi angker.

Baca: Situ Gintung, Gudang Pusaka Para Pejuang

Waktu terus berlalu, untuk mengantisipasi banjir yang kala itu acap terjadi di Surabaya, pada 1917, pemerintah kolonial Belanda membangun Pintu Air Jagir. Begitu pembangunan selesai dan pintu air dipergunakan yang hingga kini masih berfungsi untuk mengatur debit Kali Mas dan merupakan pecahan Sungai Brantas untuk dialirkan ke Kali Jagir yang diolah dan digunakan untuk kebutuhan warga Surabaya — bahkan menjadi tempat favorit memancing bagi warga — aura mistik pun mulai terasakan.

Dari beberapa nara sumber yang pada hari itu berhasil neomisteri temui dan kebetulan beraktivitas di sekitar lokasi hanya menjawab dengan komentar singkat; “Pintu Air Jagir dijaga buaya putih, makanya, kuat dan sampai sekarang masih berfungsi dengan baik”.

Baca: Kutukan Tumbal Proyek di Balik Keindahan Kastil Maruoka

Neomisteri berusaha menggali lebih dalam lagi, tapi apa daya, mereka hanya mengangkat bahu atau mengalihkan pembicaraan. Neomisteri mafhum, agaknya, mereka enggan karena takut kualat. Hal itu wajar, di masyarakat, membicarakan hal-hal gaib adalah sesuatu yang tabu.

Di antara mereka, hanya Cak Kris yang menambahkan secara singkat; “Yang pasti, walau tergolong wingit atau angker, tapi, tempat itu enak untuk spot memancing. Ikannya banyak dan besar-besar. Yang perlu kita kulonuwun (permisi-red) kepada yang menunggu di tempat itu”.

Penjaga Gaib Pintu Air Jagir

Karena tidak ada lagi yang berani berkomentar, akhirnya, neomisteri mencoba menyusuri sampai muara Kali Jagir tepatnya di sekitar Mangrove Wonorejo. Ketika sedang menikmati tetumbuhan mangrove serta semilir angin sambil merokok, neomisteri mencoba menghampiri beberapa orang yang kelihatannya sedang beristirahat selepas memasang perangkap kepiting.

Cak Karsan (50 tahun) demikian sapaan akrabnya langsung saja bercerita dengan dialek Jawa Timur bercampur Madura yang kental; “Menurut simbah saya, wilayah muara sampai mendekati pintu air dijaga oleh buaya gaib, Mbah Wongso”.

Baca: The Flying Dutchman, Kapal Hantu Yang Meneror Tujuh Samudra

Mbah Wongso sangat baik. Oleh sebab itu, jika ada penghuni gaib lain yang hendak memangsa manusia, Mbah Wongso selalu muncul untuk mengingatkan orang dengan memunculkan tubuhnya agar tidak bermain-main di tepian Kali Jagir. Terutama di sekitar pukul 11.00-12.00 dan 17.00-18.00”, imbuhnya dengan bersemangat.

Apakah ada makhluk gaib lain di sekitar Kali Jagir?” Potong neomisteri.

Beberapa temannya yang ikut berbincang seolah mengingatkan Cak Karsan agar tidak meneruskan ceritanya. Tapi apa daya, ia sudah terlanjur menjawab: “Ada … siluman ular. Tiap tahunnya, siluman itu selalu meminta korban jiwa. Beruntung, beberapa kali dapat digagalkan oleh Mbah Wongso”.

Baca: Keangkeran Patung dari Sisa Bagian Tubuh Manusia

Tapi itu cerita simbah saya … ya”, imbuhnya, “kenyataan sebenarnya silakan Bapak cari sendiri. Tapi rasanya, kalau orang sekitar sini tidak berani bicara secara terang-terangan tentang penunggu gaib di sekitaran Kali Jagir, Kali Mas sampai Kali Brantas. Takut kualat”, pungkasnya sambil tersenyum.

Karena tak mungkin mendapatkan sumber lain, akhirnya, neomisteri pun memutuskan untuk kembali ke penginapan di Surabaya.

Apa komentarmu?