Putri Kembang Sore

Bukit Bolo, Desa Bolorejo, Tulungagung, selain memiliki pemandangan yang menawan, ternyata, di sana juga terdapat makam kuno yang banyak didatangi pengunjung untuk berbagai tujuan ….
oleh: Yana Suryana

 

Neomisteri – Dimas (35 tahun), sahabat neomisteri yang satu ini tergolong petualang. Betapa tidak, ia mengabdikan dirinya di perusahaan telekomunikasi khususnya yang berkaitan dengan pembangunan dan perawatan tower — yang lebih dikenal dengan sebutan BTS, Base Transceiver Station atau stasiun pemancar.

Sudah barang tentu, ayah dari dua anak ini memiliki segudang pengalaman baik yang nyata maupun yang tergolong mistik. Salah satunya adalah Pesugihan Kembang Sore yang begitu melegenda.

Baca: Kerajaan Gaib Klampis Ireng

Siapa yang tak kenal dengan Tulungagung, Kota Marmer yang ada di bilangan Jawa Timur. Ternyata tak hanya marmer, di kota ini juga terdapat destinasi wisata yang tergolong lengkap; selain wisata alam, di Bukit Bolo juga terdapat makam kuno yang sampai sekarang masih dikeramatkan banyak orang.

Lewat sang sahabat, Ipul (35 tahun) yang kebetulan berasal dari Tulungagung, suatu ketika, Dimas diajak ke Bukit Bolo untuk sekadar menikmati keindahan alamnya. Namun, berkat kelihaian Ipul dalam mengulik fakta, Mas Parto (48 tahun) salah seorang peziarah yang ditemui di salah satu warung kopi akhirnya mau bercerita.

Jika dirunut dari legenda, Putri Kembang Sore adalah putri kesayangan dari Adipati Bedalem dari Kadipaten Bonorowo. Kecantikannya yang tiada tara membuat banyak pangeran bahkan bupati yang ingin menyuntingnya. Alih-alih menerima, Putri Kembang Sore malah menjatuhkan pilihan kepada Joko Budheg, lelaki dari kalangan orang kebanyakan dengan satu syarat; bersedia melakukan tapa brata selama 40 hari 40 malam di sebuah bukit dengan hanya beralaskan bebatuan dan berpenutup kepala “cikrak” (alat pembuang sampah-Jw) dan menghadap ke Laut Selatan.

Tanpa banyak tanya, Joko Budheg dengan tulus melaksanakan syarat tersebut.

Apa yang terjadi, ketika waktu tapa brata selesai, ternyata, Joko Budheg tak juga menemui Putri Kembang Sore. Sang putri yang diam-diam juga jatuh cinta, langsung saja berangkat menyusul kekasihnya. Setibanya di sana, Putri Kembang Sore berusaha untuk membangunkan sang kekasih dari tapa bratanya, namun apa daya, Joko Budheg tak kunjung terjaga. Karena jengkel, Putri Kembang Sore pun berkata; “Dibangunkan kok tidak juga terjaga. Seperti batu”.

Sontak, tubuh Joko Budheg pun berubah menjadi batu. Sampai saat ini, patung Joko Budheg bertapa masih dapat diketemukan di Gunung Budheg.

Dengan membawa kepedihan hati yang teramat sangat, Putri Kembang Sore pun memutuskan untuk melakukan tapa brata di suatu tempat yang kala itu jauh dari keramaian sampai ia meninggal dunia dan di makamkan di tempat itu. Kini, tempat tersebut dikenal sebagai Gunung Bolo dan terletak di Kecamatan Kauman, Kabupaten Tulungagung.

Baca: Misteri Alunan Gamelan, Tangisan dan Pintu Gerbang Gaib

Ketika Ipul coba mengulik tentang “pesugihan dan prostitusi”, Mas Parto dengan serta merta menjawab; “Sejak dulu, tiap malam Jumat Pon, masyarakat biasa melakukan ritual nyadran di makam Putri Kembang Sore dengan membawa ubo rampe berupa sekul anget (nasi gurih panggang ayam), kambing, dan sekul wangi (bunga telon, minyak wangi, kemenyan)”.

“Pulangnya, mereka tidak boleh mampir di sekitar Gunung Bolo”, lanjutnya lagi, “dan jika berhasil, mereka harus kembali sambil membawa kambing untuk disembelih dan kembali melakukan syukuran di makam”, pungkasnya.

“Ow … bagaimana dengan prostitusi?” Pancing Ipul.

“Itu juga sama, entah siapa yang memulai dan menghembuskan cerita itu hingga prostitusi sempat berkembang di sini. Maklum, Gunung Bolo termasuk salah satu destinasi wisata yang juga ramai dikunjungi wisatawan. Akibatnya, banyak yang memanfaatkan,” jawabnya.

“Yang pasti, Gunung Bolo tetap menjadi tempat yang sakral bagi masyarakat Tulungagung”, pungkasnya tegas.

Baca: Belut Putih Penjaga Ghaib Waduk Darma

Dimas dan Ipul hanya bisa tersenyum, sambil menapaki jalan menurun, keduanya sepakat; seyogianya, tempat-tempat keramat hanya dijadikan sebagai areal untuk memanjatkan segala keinginan kepada Sang Maha Pencipta. Bukan kepada yang lainnya ….

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Sosok Misterius di Atas Cungkup Makam

Sebenernya ibu saya enggak mau. Mengingat itu masih subuh dan beliau juga takut karena harus lewat makam. Tapi Ibu enggak berani nolak. Itungannya masih...

4 Aliran Sesat Penganut Seks Bebas

Setiap bulan, mereka mengadakan pertemuan besar yang puncak acara tersebut digelar pesta seks yang diikuti seluruh anggotanya. Aliran ini sendiri sudah secara resmi dibubarkan...

Artikel Terpopuler