Sosok Misterius di Atas Cungkup Makam

Sebenernya ibu saya enggak mau. Mengingat itu masih subuh dan beliau juga takut karena harus lewat makam. Tapi Ibu enggak berani nolak. Itungannya masih anak-anak, enggak berani nolak permintaan orang yang lebih tua.

 

Neomisteri – Kejadiannya di tahun 1970-an. Waktu itu ibu saya umurnya baru sekitar 13 tahunan. Jadi Ibu saya ini punya paman yang berprofesi sebagai dalang. Dan paman ibu punya anak balita (alias sepupu Ibu).

Suatu hari, paman Ibu ada kegiatan mendalang di desa sebelah. Kalo orang ‘nanggap’ wayang, biasanya semalam suntuk, alias dari malem sampe subuh.

Nah pagi-pagi jelang subuh, sepupu ibu yang masih balita itu rewel. Terus ibunya inisiatif minta tolong ibu saya untuk mengantar si bocil ke desa sebelah nemuin bapaknya. (Sampe sekarang Ibu saya enggak ngerti kenapa yang dimintai tolong dia).

Sebenernya ibu saya enggak mau. Mengingat itu masih subuh dan beliau juga takut karena harus lewat makam. Tapi Ibu enggak berani nolak. Itungannya masih anak-anak, enggak berani nolak permintaan orang yang lebih tua.

Berangkatlah ibu menuju desa sebelah. Ibu saya berasal dari desa yang banyak sawah dan kebon, jalannya waktu itu masih dari tanah dan pada tahun 1970-an, penerangan jalan juga sangat minim.

Tibalah ibu saya melewati jalan depan makam. Antara makam dan jalan itu enggak ada pagernya. Dan lampunya juga remang-remang. Membayangkannya saja aku tak sanggup.

Dengan perasaan takut, ibu berusaha banget enggak nengok ke makam. Tapi namanya juga udah ditakdirkan lihat ‘begituan’, kepala Ibu saya tau-tau udah mengarah ke makam. Hhhhh

Betapa kagetnya ibu pas lihat di cungkup (bangunan kecil di makam biasanya penanda itu makam orang penting) ada sosok yang enggak asing sedang duduk di sana.

Sosok itu adalah salah seorang warga desa yang meninggal kemarin sore. Dia duduk bersandar dan senyum menyeringai ke ibu. Dengan badan panas dingin, Ibu saya berusaha lari tapi rasanya amat sulit.

Ibu cuma bisa pasrah mencoba jalan kaki secepat mungkin agar segera sampai desa sebelah yang jaraknya masih jauh. Sekian.

 

 

 

 

 

————–

sumber: @vivyandgold

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *