Tiap Tahun Selalu Meminta Tumbal Nyawa

Keangkeran tanjakan Bangangah, Pandeglang, memang bukan cerita yang asing, terutama bagi masyarakat Banten atau para petualang yang acap melintas atau berwisata ke Pantai Carita ….
o
leh: Ashari

Neomisteri – Menurut pihak Kepolisian tanjakan tertinggi yang terdapat di bilangan Pandeglang, tepatnya di Desa Kadu Hileud, Kecamatan Pulosari, yang dikenal sebagai Tanjakan Bangangah memiliki catatan kecelakaan tertinggi di Pulau Jawa.

Lebih lanjut, pihak Kepolisian menerangjelaskan hal tersebut semata-mata karena kondisi jalan yang curam dan sangat menanjak sehingga membuat banyak kendaraan gagal dalam melewati jalur yang satu ini — dan jangan heran jika sesekali ada kendaraan yang harus menurunkan seluruh penumpangnya ketika akan melewati Tanjakan Bangangah.

Walau secara ilmu pengetahuan pelbagai kecelakaan yang terjadi di tempat ini tak lain adalah akibat tanjakan dan turunan yang curam, namun, kebanyakan masyarakat beranggapan bahwa kecelakaan yang terjadi akibat dari ulah makhluk astral.

Betapa tidak, tiap tahun, tepatnya pada saat menjelang punggahan atau awal bulan suci Ramadhan dan liburan hari raya Idul Fitri dapat dipastikan pasti ada kecelakaan yang menelan korban jiwa di tempat itu.

Menurut tutur yang berkembang di tengah-tengah masyarakat, berbagai kecelakaan terjadi karena keisengan makhluk gaib penunggu “batu ngelel” yakni batu yang bentuknya mirip dengan lidah yang sedang dijulurkan yang konon terletak di tengah-tengah tanjakan maut tersebut.

Baca: Penjaga Gaib Harta Karun Candi Abang

Ketika neomisteri mencoba menelisik lebih dalam lagi, ternyata, tak ada seorang pun yang kebetulan acap beraktivitas di sekitar tanjakan dapat menerangjelaskan keberadaan batu tersebut.

Selain takut kena bala, tampaknya, cerita tentang keberadaan “batu ngelel” telah menjadi tradisi lisan di daerah tersebut — sehingga mengesampingkan kondisi jalan, tepatnya jalur alternatif dari Pandeglang menuju Labuan atau Anyer yang juga dikenal sebagai jalur Mandalawangi adalah jalur ekstrim karena seolah membelah gunung.

Jika mau jujur, sejatinya, para pengguna jalan memilih jalur yang satu ini akibat ruas jalan Mengger-Menes ke Jiput rusak akibat kerap dilintasi oleh berbagai kendaraan berat.

Neomisteri yang mencoba menelisik di sekitar lokasi tampaknya sioa-sia. Beruntung, Dewi Fortuna masih mengiringi langkah neomisteri. Di Anyer, ketika sedang memesan kopi di antara komunitas motor dari Tangerang yang juga sedang beristirahat, Jayanih (48 tahun) salah seorang dari komunitas itu langsung saja bercerita dengan dialek Betawi yang khas dan jika sudah bicara sungguh sangat sulit untuk dipotong.

“Kejadiannya sekitar dua tahun lalu. Kita sekitar lima belas motor lewat di tempat itu menjelang maghrib, paham dong, penerangannya kan jarang”, katanya.

“Semua ngeliat, Daeng ngeboncengin cewek, tapi, semuanya maklum Daeng orangnya supel, mudah bergaul dan konyol. Bisa aja dia enggak tega liat ada cewek jalan sendirian dan menawarkan tumpangan apalagi jalannya searah”, tambahnya.

“Tapi, begitu sampe di tujuan kita tanya mana cewek yang tadi diboncengin. Daeng hanya geleng-gelang kepala dan mengangkat bahu”, imbuhnya.

Karena terus-terusan didesak, akhirnya, dengan nada tinggi Daeng pun berkata; “Lu pada gila ya, mana mungkin gua ngeboncengin, kapan gua brentinya, lu semua kan di belakang gua”, tambahnya.

“Ups”, hanya itu yang keluar dari mulut kami secara bersamaan.

Ya … tak ada seorang pun di antara kami melihat Daeng yang kala itu menjadi kepala rombongan dan berjalan di depan berhenti barang sejenak untuk menaikkan cewek yang nyata-nyata mengenakan kaos putih dan celana jeans.

Baca: Menikah Dengan Putri Jin

Setelah terdiam sesaat, kami pun tersadar. Ternyata, kami diusili oleh makhluk gaib penunggu tanjakan Bangangah. Semua hanya saling tatap dengan pandangan penuh tanya ….

Akhirnya, kami sepakat untuk tidak membicarakan hal itu agar kami tidak dicekam oleh suasana ketakutan. Walau suasana terasa agak sedikit kaku, kami berhasil melewati malam di pinggiran pantai Anyer sambil menikmati ikan bakar yang masih segar.

Esoknya, ketika kembali puilang, Daeng yang biasanya periang jadi lebih banyak diam. Ia bahkan meminta Jayanih untuk menjadi kepala rombongan dan meminta kami semua untuk melewati ruas jalan Mengger-Menes-Jiput walau kondisinya agak kurang baik.

Beruntung, kami tiba di rumah masing-masing dalam keadaan selamat dan tak kurang suatu apa. Dan tetap bertekad untuk selalu melakukan touring jika ada liburan panjang ….

Apa komentarmu?