Tulah Azimat Celeng Belek

Siapa yang tak kenal, selain dermawan dan kaya, Mi Entis bahkan merupakan keluarga pejuang yang pada zamannya konon sangat dicari bahkan kepalanya mempunyai nilai hingga ratusan gulden ….
Oleh: Sutrisna

 

Neomisteri – Rumah berhalaman luas dan asri yang terletak di sudut jalan itu tampak lengang. Maklum, sepeninggal Mama Haji tiga tahun lalu, rumah besar itu hanya ditempati sang istri, Mimi Entis ditemani dengan dua kemenakannya yang baru saja menyelesaikan studinya di salah satu perguruan tinggi di Bandung.

Idris mengambil jurusan pertanian, sementara Anwar berhasil meraih gelar sarjana manajemen — perilaku keduanya yang tak jauh berbeda dengan Mama Haji yang mudah bergaul, santun, rendah hati dan dermawan jadilah keduanya motor penggerak perekonomian di desa yang terletak di kaki Gunung Ceremai.

Baca Juga:
Kisah Nyata Boneka Hantu Menyeramkan Annie
Petaka Tumbal Uang
Keangkeran Pabrik Karet Mijen
Susuk Warisan

Hari itu berbeda dengan biasanya. Banyak orang yang berdatangan ke rumah itu untuk menjenguk Mimi Entis yang kabarnya sudah seminggu ini sakit. Semua yang keluar dari kamar menampakkan wajah yang murung. Ya … semuanya berduka, maklum, selama ini Mimi Entis sudah dianggap sebagai orang tua. Betapa tidak, selain memberikan saran Mimi Entis juga tak segan-segan merogoh koceknya untuk membantu mereka yang membutuhkan.

“Kasihan Mimi”, demikian kata seseorang ibu dengan dialek Cirebon yang kental.

“Iya …”, sahut yang berjalan di sisinya cepat, “sepeninggal Mama, Mimi Entis jadi gampang sakit-sakitan”, tambahnya lagi.

Dokter Isa yang baru saja keluar langsung ditemui oleh Kang Idris dan Kang Anwar. “Saya sudah berusaha semaksimal mungkin, sekarang tinggal berdoa, semoga Allah segara mengangkat penyakit Mimi”, katanya sambil menjabat tangan Kang Anwar dan Kang Idris dan pamit untuk segera kembali ke tempat kraktiknya.

Ya … selain tidak bisa kemasukan makanan, kulit Mimi Entis juga berubah kering, kehitaman dan seperti bersisik. Inilah yang membuat Kang Anwar dan Kang Idris menjadi gelisah. Berbagai obat dan salep sudah dicoba, tetapi, alih-alih sembuh, keadaan Mimi Entis kian hari kian bertambah mengenaskan.

Baca Juga: Hantu Rumah Mertua

Pada suatu hari, di tengah-tengah kegalauan Kang Anwar dan Kang Idris, Mama Amir, sahabat almarhum Mama Haji menemui keduanya. Setelah sejenak berbincang menanyakan kabar Mimi Entis, Mama Amir pun berbisik; “Maaf War … Deyis, bukan mau ikut campur. Coba ikhtiar ke Mama Ajengan … siapa tahu beliau punya jakan keluar”.

Anwar dan Idris saling tatap. Akhirnya, keduanya pun menjawab secara bersamaan; “Baik Ma … sekarang juga kami akan kesana. Mohon doanya semoga berhasil”.

Mama Amir pun mengangguk sambil minta diri.

Singkat kata, setelah menceritakan keadaan Mimi Entis, Mama Ajengan pun berkata lirih; “Oh … Mama Haji ternyata punya azimat yang selama ini tidak terawat. Jangan buang waktu, ayo kita sempurnakan. Semoga Mimi Entis dapat segera sembuh”.

Ilustrasi dupa

Tanpa membuang waktu, Kang Anwar dan Kang Idris, Mama Ajengan serta dua santrinya berangkat menuju ke rumah Mimi Entis. Ketika melihat keadaan Mimi Entis, Mama Ajengan langsung menatap tajam ke arah kepala si sakit kemudian terdengar katanya lirih; “Angkat Mimi dan pindahkan ke kamar yang lain”.

Baca Juga: Misteri Tol Jombang Lokasi Kecelakaan Maut Vanessa Angel

Dengan sigap dan hati-hati, kedua santri muda ituu mengangkat tubuh Mimi Entis dan memindahkannya ke kamar Kang Anwar. Setelah itu, keduanya kembali mendekati Mama Ajengan. Tak lama kemudian terdengar kata Mama Ajengan; “Angkat kasur dan jemur”

Kedua santri muda itu mengerjakannya dengan cekatan dan takzim. Lepas itu, begitu sampai pintu kamar terdengar lagi suara Mama Ajengan sambil menunjuk kepala tempat tidur Mimi Entis yang terbuat dari kayu jati ; “Cari bungkusan hitam di sana”.

Keduanya langsung merogohkan tangannya dengan hati-hati. Tak sampai lima menit, salah seorang santri langsung mengangsurkan bungkusan hitam yang dimaksud. Ternyata, bungkusan kain hitam yang sudah tua itu merupakan angkin (sabuk pembungkus azimat yang biasa digunakan oleh para jawara-red). Mama Ajengan langsung menerima dan menggenggamnya dengan erat, tak lama kemudian terdengar suaranya lirih; “Ternyata … azimat celeng belek”.

Mendengar itu, Kang Anwar dan Kang Idris saling tatap. Kang Anwar langsung saja menceritakan apa yang pernah didengarnya dari Mama Haji kepada Mama Ajengan. Semasa hidup, Mama Haji adalah salah seorang pejuang yang dicari-cari Belanda. Dan bagi yang berhasil menangkapnya, konon dijanjikan hadiah besar bahkan kedudukan penting — maklum, Azimat Celeng Belek Mama Haji dapat membuat pasukan Belanda tertidur lelap, sehingga dengan mudah para gerilyawan menghabisinya.

Beruntung, sampai akhir hayatnya Mama Haji tak pernah berhasil tertangkap oleh Belanda dan antek-anteknya.

Mendengar itu, Mama Ajengan pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia kemudian mendatangi Mimi Entis untuk meminta izin menyempurnakan azimat celang belek milik Mama Haji. Mimi Entis mengangguk sambil berlinangan air mata. Mama Ajengan langsung keluar kamar menuju ke ruang tamu. Setelah duduk dan meminta air putih, Mama Ajengan tampak menggenggam bungkusan hitam sambil membaca Hizib Maghrobi — sementara, di dalam sana, terdengar yang menyayat dari mulut Mimi Entis.

Usai itu, Mama Ajengan menyerahkan gelas berisi air putih kepada Kang Anwar sambil berkata; “Minumkan dan sapukan airnya ke tubuh Mimi”.

“Dan buang bungkusan ini ke sungai yang mengalir deras agar tidak diketemukan oleh mereka yang berhati jahat”, pesannya kepada Kang Idris sambil menyerahkan bungkusan hitam itu.

Alhamdulillah, menginjak hari kelima, kesehatan Mimi Entis pun pulih. Ternyata, ia terkena tulah Azimat Celeng Belek yang sudah berbilang tahun tidak terawat sebagaimana mestinya.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Kisah Mistis Pedagang Burung Pelihara Perkutut

Suara ucapan salam pada tengah malam juga sering terjadi yang sontak membuat saya terbangun dari tidur saya dan mengecek keluar rumah serta setiap ruangan...

Kesangaran Hutan Rancaherang

Hutan Rancaherang yang terletak sekitar lima ratus meter dari ruas jalan raya Cibalong merupakan hutan alami yang dibiarkan terbuka dengan tetumbuhan ilalang yang panjang...

Artikel Terpopuler