Tulah Mengundang Makhluk Halus

Kegaduhan di rumah kos yang terletak di sudut jalan membuat orang sekampung menjadi kalang kabut, betapa tidak, selain kesurupan masal, beberapa lainnya tampak menjerit ketakutan sambil menutupi matanya dengan kedua belah telapak tangan ….
oleh: Taufik Suaeb

 

Neomisteri – Suasana tempat di mana neomisteri tinggal memang terasa dengan pemukiman-pemukiman yang lain. Betapa tidak, kekeluargaan di dalam hidup dan kehidupan di sini benar-benar sangat terasa. Oleh sebab itu, tak heran, hampir semua orang saling kenal dan berbincang dengan akrab. Tak peduli mereka penduduk asli atau pendatang — baik yang kos ataupun mengontrak.

Di sudut jalan, terdapat salah satu rumah yang diisi oleh sekitar 5 orang mahasiswa. Roni dan Herman berasal dari Palembang, Joko dari Semarang, sedang Eka dan Muri berasal dari Banjarmasin. Di antara mereka berlima, Roni paling dikenal. Maklum, selain kocak, ia tergolong yang paling usil di antara teman-teman bahkan penduduk di kampung itu.

Hampir semua pernah menjadi korban keusilannya ….

Pada suatu malam Minggu, seperti biasa kami menghabiskan waktu untuk berbincang di tanah kosong di antara rumah Bang Agus dan rumah kos. Anak-anak asik berlarian, sementara yang dewasa asik main gitar sambil bernyanyi, sementara yang sudah berumahtangga biasanya asyik denga main gaple, catur atau karambol.

Waktu terus merangkak, menjelang tengah malam, keusilan Roni pun timbul. Diam-diam dia mengambil jelangkung yang memang sudah dipersiapkan sejak lama. Sambil membawa Jelangkung, ia pun mendekati anak-anak yang tengah bermain gitar.

“Yuk nanya jelangkung, siapa tahu cewek kita selingkuh sama cowok laen”, katanya dengan penuh semangat.

“Yuk … buat ising-iseng saja. Jawabannya jangan sekali-kali dipercaya”, kata Dewo sambil meletakkan gitarnya.

“Oke …”, kata yang lain sambil membuat lingkaran dan mengelilingi Roni.

Setelah segala sesuatunya siap, Roni pun membakar hio (dupa China-red) sambil melantunkan mantra yang tampaknya sudah sangat ia hafal. Dewo yang diam-diam ternyata jatuh hati dengan Anin (adik dari Acong, sahabatnya) terpaksa harus tersipu malu dengan wajah kemerahan karena rahasia hatinya berhasil dibongkar oleh makhluk halus yang merasuk ke jelangkung.

Begitu juga dengan rahasia Asep, salesman obat-obatan. Kegalauannya akibat dari tidak tercapainya target berhasil dikuak, beruntung, ia mendapatkan solusi untuk mendatangi dokter-dokter baru yang praktik di pinggiran kota. Menjelang pukul 03.00 permainan pun selesai.

Ilustrasi asap

Namun apa yang terjadi, ternyata, sang makhluk halus yang merasuk ke Jelangkung masih enggan kembali ke asalnya. Ia bersikukuh untuk tidak mau pulang. Karena jengkel, Roni pun membanting Jelangkung di tangan bahkan menendangnya dengan keras hingga jatuh ke pokok pohon Mangga yang menurut sebagian warga angker karena dihuni oleh Kuntilanak.

Kegaduhan sontak terjadi! Di dalam kamar Roni yang tertutup terdengar benda-benda berjatuhan, sementara, Herman dan Eka keluar dari kamarnya secara bersamaan karena bokong keduanya dipukul dengan keras … sementara, dari rumah Bang Agus, terdengar ceracau Dika, putri Bang Agus yang baru berusia 10 tahun yang mengingatkan agar Roni tidak membuat mereka sebagai sarana untuk mainan.

Dika yang bertubuh gendut itu langsung keluar rumah dan berkacak pinggang. “Tong, lu belon kenal gua. Ini peringetan gua nyang pengabisan; lu jangan lagi-lagi maenan beginian, terus, tarok kopi pait, manis, teh pait manis, susu, aer putih, ma kelapa muda di sono”, katanya dengan geram sambil menunjuk ke pokok pohon Mangga.

“Jangan lupa., sediain juga bekakak ayam, nasi, kembang setaman, rokok Jinggo lama ma lisong”, lanjut Dika.

“Kalo enggak, lu enggak bakal selamet”, sambung Dika yang langsung terkulai bersamaan dengan kepalanya dipegang oleh Joko.

Roni menatap Joko seolah bertanya. Joko pun berkata; “Salah lu … kerjain apa yang diminta biar penduduk tenang. Sekarang. Sudah itu, jangan mengulang lagi kesalahan yang sama”.

Menjelang Subuh semua perlengkapan yang diminta oleh sang makhluk halus yang merasuk ke tubuh Dita sudah tertata rapi di bawah pokok pohon Mangga. Sekali ini, hampir seluruh penduduk yang biasa mendirikan Salat Subuh berjamaah di masjid terpaksa berjalan memutar. Bukan takut, mereka hanya menjaga kemungkinan yang tak diinginkan terjadi.

Usai mendirikan Salat Subuh berjamaah, Ustadz Mas’ud pun mendatangi pokok pohon Mangga dan menyiramkan air yang telah diberi doa-doa. Ketika neomisteri menanyakan doa apa yang seyogianya dipanjatkan jika melihat ada kejadian seperti iutu, Ustadz Mas’ud pun menjawab; “Bismilaahir rahmanir rahim. Allaa ta’luu ‘alayya wa’tuunii muslimiin.”

“Seyogianya baca dalam keadaan berwudu. Baca sebanyak tujuh kali dengan tahan napas, kemudian tiupkan ke air, garam atau telapak tangan. Atas izin Allah, makhlus halus itu akan pergi”, pungkasnya.

Sejak itu, keusilan Roni pun hilang lenyap. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk belajar, dan duduk dengan tekun di majelis taklim. Hanya sesekali ia berada di tengah-tengah anak muda sebayanya. Ya … Roni benar-benar berubah, karena ulahnya hampir saja membuat penduduk kampung celaka akibat amuk sang makhluk tak kasat mata.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Perjalanan Ghaib 4 Pasang Daisho

Hampir tiap malam, Muchtar, istri bahkan kuli yang pernah membangun rumahnya selalu mendapat mimpi yang sama; seorang lelaki paruh baya berbadan tegap datang sambil...

Penampakan Makhluk Seram Terekam Kamera saat Kamping

Saat itu sekitar jam 3 pagi dan di luar masih gelap. Ketika melihat keluar, dia tidak dapat melihat apapun dalam kegelapan. Meraih kameranya, dia...

Artikel Terpopuler