Tumbangnya Sang Jagoan

Ketergantungannya pada sabu membuatnya nekat, tapi apa daya, sekali ini ia kena batunya, ayunan pukulan bahkan sabetan pisaunya malahan telah membuatnya terpental sangat jauh walau ustadz muda itu hanya sekadar melambaikan tangannya saja ….
o
leh: Andhika Basuki

Neomisteri – Hari itu, Q’bull (23 tahun) demikian sapaan akrab lelaki berwajah mirip bintang film sinetron namun pekerjaannya mencuri, memalak pedagang atau siapa pun yang lewat di depannya ketika ia mabuk kena batunya. Ia tak pernah menyangka, Maher (25 tahun) seorang ustadz yang hanya mengajarkan anak-anak mengaji dan menggarap ladang di samping dan belakang rumahnya dan memiliki dua unit ANGKOT, mampu membuatnya jatuh bangun sehingga ia mendapatkan malu yang teramat sangat di depan orang banyak.

Ya … Q’bull si pembual itu kena batunya. Alih-alih memberi, walau sudah ditodong dengan pisau, namun, Ustadz Maher bersikukuh untuk tidak memberinya uang. Ustadz muda itu bahkan berkata; “Berhentilah memakai barang haram itu … tidak ada untungnya”.

“Jangan banayak bacot lu … kasih apa enggak atau gua matiin sekalian”, demikian kata Q’bull sambil menyabetkan pisaunya yang berkilau karena terkena cahaya mentari siang.

Semua yang ada menjerit ketakutan, namun, yang terjadi benar-benar mencengangkan. Tubuh Q’bull terpental jauh hingga masuk ke dalam parit yang lumayan kotor. Padahal, Ustadz Maher hanya sekadar melambaikan tangannya saja — semua saling tatap, mereka mafhum, ternyata, Ustadz Maher menguasai “ilmu hikmah” tingkat tinggi. Walau hanya melakukan gerakan yang terlihat tidak berarti, namun, akibatnya sungguh menakjubkan. Betapa tidak, sekali melambaikan tangan, maka, lawan sontak terpental dan jatuh bangun sejauh ledakan emosi yang terpendam di dalam dirinya.

Sebagai jagoan, sudah barang tentu Q’bull pantang menyerah begitu saja. Maklum, selama ini, tak ada seorang pun yang berani menentang segala kehendaknya. Entah berapa kali tubuh yang dipenuhi tato itu masuk ke dalam selokan, hingga akhirnya, Q’bull pun tak sadarkan diri di dalam selokan. Melihat itu, Maher dan beberapa orang yang ada di sekitar tempat itu langsung mengangkat tubuh sang jagoan yang konon tidak mempan dibacok dan ditembak itu dan menyiramnya dengan air bersih yang diambil dari sumur yang terletak di belakang warung nasi.

Tak lama kemudian, tubuh Q’bull pun menggeliat dan terdengar suara lirih dari mulutnya berulang-ulang; “Aduuuuh … sakiiit”.

Ustadz Maher segera memesan segelas air teh manis dari warung dan segera memberikannya ke Q’bull sambil berkata; “Minum dan habiskan. Kalau Abang masih penasaran, silakan datang ke rumah. Kapan saja, saya tunggu”.

Setelah mengambil gelas kosong dan mengembalikan serta membayarnya, Maher pun berjalan pulang.

Peristiwa itu dengan cepat menyebar. Hampir semua orang membicarakan peristiwa yang tadi siang terjadi di dekat pasar, tepatnya di terminal tempat ANGKOT mangkal. Udin dan Tata pengemudi ANGKOT milik Ustadz Maher langsung saja mendatangi Q’bull di tempat ia biasa menunggu sasarannya. Sesampainya di sana, hampir serempak, keduanya langsung saja berkata; “Aduuuuh Kang Q’bull, sudahlah … jangan nekat melawan Kang Ustadz Saher. Enggak bakalan menang, yang ada badan kita ringsek”.

Q’bull hanya memelototi dua sahabatnya yang sudah insaf bahkan ikut membimbing anak-anak di kampungnya mengaji di sela-sela kesibukannya menjadi sopir ANGKOT Ustadz Maher.

“Barokokok sia …”, sergahnya.

Udin dan Tata hanya tersenyum. Setelah Udin mengangguk, Tata pun menceritakan pengalamannya beberapa tahun lalu ketika akan melenyapkan Ustadz Maher yang berhasil mempersunting Dewi, bunga desa yang sudah lama jadi incarannya. Dengan berpura-pura baik, kedua sahabat ini berhasil mencampurkan racun tikus ke dalam minuman Ustadz Maher, namun apa yang terjadi, gelas tersebut langsung pecah sebelum menyentuh bibir Ustadz Maher — tak cukup sampai di situ, keduanya bahkan telah mempersiapkan anak panah berlumur racun. Kala itu, anak panah sudah terpasang dan busur pun terentang penuh, sementara Ustadz Maher sedang mencabuti rumput-rumput liar di ladangnya, tapi, alih-alih bisa melesat, tubuh Tata mendadak kaku dan terserang nyeri yang teramat sangat. Mulanya ia hanya bisa berteriak sambil mengeluarkan sumpah serapah pada Ustadz Maher — namun, rasa sakit kian tak tertahankan — tubuh Tata baru bisa bergerak ketika Udin mendatangi Ustadz Maher sambil meminta ampun serta ingin menjadi orang yang baik dan berguna bagi masyarakat.

“Baik … kalau Akang berdua mau insaf dan bertobat karena Allah, Kang Tata insya Allah akan segera sehat”, kata Ustadz Maher sambil memberikan segelas air untuk diminum dan sisanya dicampur dengan air untuk dipakai mandi.

Sejak itu, keduanya menyatakan tobat dan bersedia membantu Ustadz Maher dalam membimbing anak-anak mengaji dan menjadi sopir ANGKOT-nya. Keduanya benar-benar sadar tidak akan mungkin bisa mengalahkan Ustadz Maher yang walau masih tergolong muda, namun, ia banyak mengaji pada ajengan dan buya di pondok-pondok pesantren.

Oleh sebab itu, walau hanya menjadi petani dan tak memungut biaya pada anak-anak yang mengaji, namun, Ustadz Maher tak pernah kekurangan. Dari hasil pertaniannya, ia bahkan bisa membeli dua unit ANGKOT dan memberi berbagai hadiah kepada anak-anak yang dianggapnya cerdas.

Mendengar itu, tanpa banyak cakap, Q’bull memberikan isyarat agar keduanya mengantarkan ke rumah Ustadz Maher. Setibanya di sana, Q’bull langsung saja bersimpuh dan memegangi kaki Ustadz Maher sambil menyatakan penyesalannya. Tak banyak kata yang keluar dari mulut Ustadz Maher; “Berjanjilah kepada Allah untuk tidak mengulangi perbuatan yang dilarang oleh-Nya, dengan begitu, hidup dan kehidupan Akang Q’bull akan berguna bagi keluarga, lingkungan dan masyarakat”.

Dan benar, Q’bull pun menepati janjinya. Sejak itu, ia bahkan lebih banyak menghabiskan waktunya di tengah-tengah anak-anak yang belajar mengaji ketimbang di tempat biasa ia menanti mangsanya ….

Leave a Reply