Menguak Tabir Gaib Gua Gembul

Banyak yang meyakini, pada suatu zaman, tempat yang satu ini acap disinggahi bahkan digunakan untuk berkumpul oleh para Waliullah dalam melakukan syiar Islam di Tanah Jawa ….
Oleh: Arya S Gumilang

 

Neomisteri – Tuban memang menyimpan banyak misteri yang belum terungkap, dan salah satunya adalah Gua Gembul – yang mulanya merupakan tempat berkumpul para Waliullah penyebar Islam di tanah Jawa – dan terletak Desa Jadi, Kecamatan Semanding, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.

Kami berempat, Yuda, Angga, Budi dan Yudi sudah sepakat, sekali ini, selain ikutan menikmati suasana kampung halamannya Budi, juga untuk napak tilas perjuangan para Waliullah ketika melakukan syiar Islam di Tanah Jawa, khususnya di Jawa Timur.

Maklum, ketika itu, perjuangan para Waliullah bukan main beratnya – betapa tidak, berbeda dengan kawasan yang lain, kala itu, Tanah Jawa sudah memiliki pemimpin, tata pemerintahan, kebudayaan bahkan keyakinan yang sudah mengakar selama ratusan tahun.

Oleh sebab itu, pada saat-saat tertentu, konon, para Waliyullah berkumpul di suatu tempat untuk memohon kepada Sang Khalik juga mengatur strategi agar Islam dapat diterima dengan baik oleh segenap lapisan masyarakat.

Salah satunya adalah Gua Gembul, suatu gua yang sampai sekarang masih disungkupi oleh kekuatan mistis yang teramat sangat. Maklum, karena biasanya para Waliullah memiliki pelindung gaib, maka, mereka akan terus berjaga di tempat tersebut walau sang Waliullah telah kembali kepada-Nya.

Sehingga tak dapat dipungkiri, sampai sekarang, masih banyak orang yang datang pada hari-hari tertentu ke Gua Gembul untuk berbagai maksud dan tujuan, ada yang sengaja datang untuk ngalap berkah, mencari ketenangan sampai berburu benda-benda gaib.

Setelah menempuh perjalanan yang lumayan melelahkan, hampir 2 jam, serta melewati areal yang kubangan lumayan besar dan banyak di sana-sini akibat penambangan kapur, sehingga mengakibatkan kerusakan alam, akhirnya, kami berempat tiba juga di Gua gembul yang keramat itu.

Beruntung, kami berempat masih dapat bertemu dengan lelaki paruh baya yang mengaku bernama Prapto (53 tahun) dan berasal dari Tuliungagung. Ia telah beberapa waktu berkhalwat di tempat itu dan mengaku mendapatkan ketenangan di sana.

loading...

“Ingat, selalu minta kepada Allah. Jangan kepada yang lain … gunakan tempat ini agar kita semakin dekat dengan kebesaran-Nya,” katanya mengingatkan, “dan hati-hati dengan gangguan setan yang selalu ingin menjerumuskan umat manusia ke jalan yang sesat,” lanjutnya lagi.

Kami berempat mengangguk tanda setuju dan mohon diri untuk mencari tempat yang tepat.

Yuda yang tergolong lebih matang di antara kami, setelah hening beberapa saat dan berhasil menutup cipta, rasa dan karsanya, ia pun langsung berhasil membuka tirai gaib Gua Gembul.

Menurutnya, setelah saling berbalas uluk salam, ia diajak berjalan oleh seorang lelaki yang mengenakan pakaian mirip petani – hitam-hitam berikat kepala hitam – yang mengaku bernama Ki Jagaraga masuk ke dalam sehingga sampai di ruangan besar yang penuh dengan beragam buku-buku tua serta berbagai macam senjata.

Semuanya tersusun rapi dalam rak yang menempel pada dinding gua, mirip perpustakaan ….

“Benda-benda ini yang banyak dicari orang,” katanya sambil menunjuk berkeliling.

Yuda tertegun. Selain tak menyangka, ia meyakini, buku-buku tersebut berisi pelbagai ilmu pengetahuan baik tentang agama maupun tata kehidupan – sementara, beragam senjata yang tersusun rapi pasti memiliki tuah atau karomah yang luar biasa.

“Sayang, sampai sekarang, sang pewaris belum juga datang untuk mengambilnya,” lanjut Ki Jagaraga.

“Maksudnya?” Tanya Yuda ingin tahu.

“Manusia yang selalu memikirkan rakyat kecil, adil dan membawa kesejahteraan bagi seluruh makhluk ciptaan-Nya,” jawabnya tegas, “sudah cukup lama Anakmas berada di sini, sekarang, pulanglah dan katakan apa yang dilihat dan ingatkan juga kepada mereka agar selalu menjaga bumi dan segala isinya,” imbuhnya sambil menggamit bahu Yuda serta mengajaknya kembali melewati lorong panjang yang tadi dilaluinya.

Tak lama kemudian, Yuda pun menggerak-gerakkan badannya. Ia memberi tanda kepada yang lain untuk segera beranjak dari tempat itu. Semua berjalan dengan hati-hati dan membisu, mereka mafhum, Yuda pasti akan menceritakan pengalaman spiritualnya setelah tiba di rumah Budi.

Seiring dengan semburat mentari di ufuk Timur, kami pun tiba di rumah Budi. Usai mendirikan Salat Subuh berjamaah, sambil menikmati kopi dan sekadar kudapan, Yuda pun menceritakan pengalamannya sebagaimana neomisteri paparkan di atas.

Tidak dapat dipungkiri, sampai sekarang, Gua Gembul masih disungkupi oleh berjuta misteri, sayangnya, alam sekitarnya telah rusak akibat ulah tangan-tangan manusia yang tidak bertanggungjawab ….

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *