Menolong Persalinan Penunggu Pohon Tua

Malam itu tak seperti biasanya, selain gerimis yang tak kunjung henti sehingga udara dingin terasa menusuk tulang, di kejauhan, sesekali terdengar lolong panjang anjing-anjing malam ….
Oleh: Aji Sumarna

 

Neomisteri – Mbok Nah, demikian sapaan perempuan tua itu adalah sosok yang benar-benar luar biasa. Maklum, selain sebagai dukun beranak, ia juga tak segan-segan membantu para ibu selepas bersalin dengan mengerjakan pelbagai hal. Mulai dari memandikan bayi, mengurut, merawat sampai puput puser bahkan memberikan ramuan (cekok-pen) pada anak yang mulai rewel jika diberi makan.

Bukan mengharap imbalan, namun, Mbok Nah merasa senang jika dapat membantu tetangga yang sedang kerepotan.
Ia tinggal di sudut desa dengan ditemani oleh seorang anak angkatnya yang masih duduk di bangku SD. Walau kehidupan keduanya tergolong kurang, namun, tak ada keluhan yang terlontar dari mulutnya.

Hampir tiap ada kesempatan, Mbok Nah selalu mengingatkan kepada Ningsih, anak angkatnya; “Jangan suka mengeluh. Bantulah sesama makhluk selagi kita bisa menolong.”

“Biar yang di atas yang membalas,” katanya sambil menunjukkan tangan ke atas. “Gusti Allah ora sare,” tambahnya lagi dalam bahasa Jawa yang kental.

Ningsih hanya mengangguk. Ia belum mengerti apa sebenarnya yang dikatakan oleh Mbok Nah, yang ia tahu, belajar di sekolah, bermain dengan teman-teman sebaya dan sesekali membantu simboknya di ladang atau meminta uang jajan jika ada keramaian di desanya.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, Mbok Nah dilanda dengan kegelisahan yang teramat sangat ketika melihat Ningsih sudah mulai kelas 6 dan sebentar lagi akan meneruskan ke jenjang yang lebih tinggi lagi, SMP yang ada di kecamatan. “Duh Gusti … kawulo namung sak dermi,” demikian bisik hatinya tiap tengah malam, sambil berharap kelak mendapatkan rezeki untuk biaya sekolah Ningsih.

Hingga pada suatu hari. Gerimis yang turun sejak siang tak juga berhenti, udara begitu terasa dingin dan sesekali terdengar suara lolongan anjing di kejauhan. Mbok Nah berbaring sementara Ningsih sudah menarik kain panjang lusuh untuk dijadikan selimut. Antara tidur dan tidak, lamat-lamat telinga Mbok Nah menangkap suara uluk salam; “Kulanuwun ….”

“Monggo,” sahut Mbok Nah sambil bergegas menuju ke arah pintu depan. Ketika membuka pintu, tampak seorang lelaki muda sambil membawa pelepah daun pisang dan langsung meminta Mbok Nah untuk membantu persalinan putri bendara (majikan-pen)nya yang terletak di sebelah desanya.

Mbok Nah tak berpikir panjang. Ia segera mempersiapkan segala sesuatunya dan memberitahu Ningsih jika dirinya akan menolong persalinan di desa sebelah. Ningsih hanya mengangguk dan berjalan mengikuti Mbok Nah untuk menutup pintu dengan langkah gontai karena kantuk yang teramat sangat. Setelah itu, ia kembali ke pembaringan dan menarik kain usang sebagai selimut dan tertidur lelap.

Singkat kata, Mbok Nah pun sampai di rumah yang demikian besar. Para lelaki duduk dengan tertib di depan kamar, sementara, para wanita sibuk menyiapkan segala sesuatu untuk menyambut kelahiran si jabang bayi. Tanpa ragu, Mbok Nah langsung saja menjalankan tugasnya. Setelah memberikan aba-aba kepada si calon untuk mengejan, tak lama kemudian, lahirlah bayi lelaki yang sehat.

Tangis bayi pun memecah kesunyian malam yang disambut dengan helaan napas lega dari seluruh keluarga maupun para lelaki yang sejak tadi duduk dengan tertib di depan pintu kamar.

Dengan cekatan, Mbok Nah langsung membersihkan si jabang bayi dan memotong tali pusat, kemudian, menyelimutinya. Sesaat kemudian, ia pun menyerahkan si jabang bayi kepada ayahnya, sementara, ia membersihkan sang ibu yang masih tergolek lemah ….

Setelah dianggap cukup dan dianggap beres, dengan takzim Mbok Nah pun mohon diri. Sang pemilik rumah yang kelihatan sangat berwibawa itu pun menghaturkan terima kasih dengan tulus sambil memerintahkan Wiro untuk mengantarkan Mbok Nah sampai ke rumah sambil memberikan buntelan cukup besar.

Seperti biasa, Mbok Nah pun menerimanya dengan senang dan sekali lagi ia mohon diri dan meminta maaf jika perilaku dan kata-katanya ada yang kurang berkenan. Sang pemilik rumah hanya mengangguk sambil berpesan dalam bahasa Jawa ngoko yang kental; “Jangan sekali-kali engkau buka buntelan itu sebelum masuk ke rumah.”

Mbok Nah tersenyum sambil membungkuk dan berlalu diikuti oleh Wiro yang tadi menjemputnya. Tak ada percakapan, karena keduanya harus berhati-hati dalam melangkah agar tidak terjatuh. Setibanya di rumah, Mbok Nah langsung masuk dan Wiro pun pamit untuk kembali ke rumah bendaranya (majikan-pen).

Mbok Nah langsung saja meletakkan bungkusan itu di dapur. Selanjutnya, ia membersihkan dan membaringkan badannya di sebelah Ningsih, putri angkatnya.

Seperti biasa, ketika terbangun, keduanya langsung sibuk dengan pekerjaannya masing-masing. Ningsih yang melihat ada buntelan di atas meja dapur langsung membuka. Sesaat ia terdiam. Tak lama terdengar teriakannya memecah keheningan pagi; “Mbooook!”

Mbok Nah langsung berlari mendekati putrinya sambil mengingatkan; “Tidak baik anak gadis memanggil orang tuanya dengan berteriak.”

Ningsih tak menjawab, ia sibuk mengeluarkan apa yang ada di dalam buntelan. Gantian Mbok Nah yang terkejut. Betapa tidak, di dalam buntelan itu, selain beras dan rempah-rempah, juga terdapat beberapa gelang, kalung, giwang yang terbuat dari emas serta batu-batu mulia.

“Duh Gustiiii ..,” hanya itu yang terucap dari bibir Mbok Nah dengan bergetar.

Ia langsung sujud dan menengadahkan kedua telapak tangannya keatas. Mulutnya berkomat-kamit. Sontak, Ningsih pun melakukan hal yang serupa. Tak lama kemudian, ia memeluk tubuh ibu angkatnya dengan penuh kasih.

Karena merasa takut jangan-jangan si pemilik rumah salah memberikan buntelan kepadanya, Mbok Nah mengajak Ningsih untuk mengembalikan barang itu. Tak seperti biasanya, perjalanan sekali ini teramat melelahkan. Mbok Nah bahkan meminta Ningsih untuk beristirahat barang sejenak beberapa kali.

Namun, tak ada rumah ytang dituju. Yang tampak hanyalah sepasang Pohon Benda tua dengan lubang di antara keduanya mirip pintu gerbang. Mbok Nah dan Ningsih saling tatap. Tak ada yang bisa berkata-kata.

Singkat kata, malamnya, Mbok Nah bermimpi didatangi oleh lelaki tua berwibawa yang berpesan; “Itu semua hak-mu. Semoga bermanfaat dan jangan datang-datang lagi ke rumahku.”

Sejak itu, berbekal uang penjualan dari beberapa perhiasan, Mbok Nah dapat membeli sebidang tanah untuk berladang. Kehidupannya pun mulai membaik dan Ningsih berhasil menyelesaikan pendidikannya di SMK jurusan Kebidanan sebagai penerus cita-cita dari Mbok Nah, ibu angkatnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *