Pahlawan Nasional yang Kebal

Gerakan pasukan MAS bak hantu yang demikian ganas, tidak hanya melakukan penyerangan terhadap pos atau asrama militer penjajah, penghadangan terhadap patroli pun acap mereka lakukan ….
Oleh: Nizma Aisyah

Neomisteri – Terlahir pada 17 Agustus 1925 dari pasangan H. Abdul Kahar dan Hj. Fatimah, sejak kecil, MA Sentot (MAS) yang merupakan anak keempat memang sudah membenci penjajah Belanda.

Pada masa penjajahan Belanda, ia mengenyam pendidikan di HIS Indramayu, selanjutnya, pada masa penjajahan Jepang, ia masuk PETA untuk mengikuti pendidikan Shodanco dan selepas itu menjadi Shodanco di Daidan Majalengka dan Indramayu.

Selepas Proklamasi Kemerdekaan, MAS bergabung dengan BKR untuk melawan penjajah Belanda yang berusaha masuk kembali dengan membonceng sekutu. Kepemimpinan dan kecerdikannya dalam dunia kemiliteran pun diperlihatkan. MAS mulai memimpin pasukan di berbagai daerah, di antaranya Desa Lohbener, Larangan, Cikedung, Jambak, Penganjang, Bugel dan Bongas — saat berada di Desa Bongas, MAS bertemu dengan Pasukan Hassan (Laskar Jakarta) yang menyatakan ingin menggabungkan diri. Taktik gerilya pun mulai digunakan. Penghadangan dan penyerangan secara tiba-tiba kemudian menghilang kedalam hutan, membuat pasukan Belanda menjadi murka.

Boleh dikata, dalam setiap penyerangan atau penghadangan, pihak Belanda selalu mengalami kerugian yang tidak sedikit. Selain senjata dan amunisinya dirampas, banyak di antara mereka yang meregang nyawa atau cacat seumur hidup.

Pasukan Belanda seolah berhadapan dengan Pasukan Hantu ….

Sebagai pelampiasan sekaligus untuk menjatuhkan semangat pasukan MAS, maka, pasukan Belanda semakin bertindak semena-mena. Setiap menjumpai lelaki dewasa, mereka pasti memukulinya, sementara, jika bertemu dengan wanita mereka pasti melecehkan bahkan memperkosanya. Ironisnya, semua itu dilakukan di hadapan anak-anak yang tidak berdaya ….

Alih-alih takut, rakyat malahan semakin marah dan berani terhadap pasukan Belanda. Hal tersebut dibuktikan oleh masyarakat Desa Bugel, pada saat yang tepat, mereka menghancurkan jembatan yang ada agar tidak dimanfaatkan oleh pasukan Belanda. Hal yang sama juga dilakukan para pemimpin pergerakan di Indramayu ketika pasukan Belanda berhasil menguasai kota itu — diam-diam, mereka mengungsi dan berkumpul di Desa Gelar- mendala (Ciwatu), untuk bermusyawarah dalam mengatur siasat perjuangan sekaligus membentuk pemerintahan sipil.

Musyawarah yang juga dihadiri oleh Mayor Sangun dan Garjito (Polisi) secara mufakat menunjuk Mursyid Ibnu Syaifuddin sebagai Bupati Indramayu dan membentuk SKR (Susunan Keamanan Rakyat) di setiap desa untuk membantu pasukan gerilya.

loading...

Sementara, Mayor Sangun bertugas sebagai penghubung untuk mempersatukan pelbagai badan perjuangan; misalnya Pasukan Setan, Laskar Hizbullah dan banyak lagi yang lainnya.

Namun apa daya, mata-mata Belanda membocorkan bahwa ada rapat penting di Desa Gelarmendala. Sekali ini pihak Belanda tidak mau berlama-lama. Mereka langsung melakukan pengepungan dari beberapa jurusan, di antaranya; lewat Desa Sukaurip, Desa Pekandangan, Desa Malang, Desa Semirang, Desa Longok dan Desa Sudimampir.

Walau pihak Belanda telah mengepung Desa Gelarmendala sudah terkepung demikian rapat, akan tetapi, mereka tidak berhasil menangkap orang-orang yang menjadi target operasinya. Akibatnya, pasukan Belanda pun membumihanguskan Desa Gelarmendala — sementara, Pasukan Setan telah menjauh dan hilang bak ditelan bumi.

Ketegasan pimpinan, keberanian dan perencanaan yang masak adalah bukti dari keberha-silan Pasukan Setan dalam setiap pertempuran dan menarik simpati masyarakat.

Kenyataan di atas tampak dengan jelas, selain memberikan bantuan senjata, Polisi Belanda di bawah pimpinan Suhad juga menyatakan menggabungan diri dengan Pasukan Republik Indonesia di Desa Anjatan. Bantuan tersebut, sudah barang tentu membuat semangat Pasukan Setan menjadi bertambah. Hal tersebut dibuktikan dengan penghadangan di Desa Kopyah untuk menyelamatkan para tawanan yang akan dipindahkan ke Haurgeulis.

Keberhasilan Pasukan Setan kembali dibuktikan dalam melumpuhkan konvoi pasukan Belanda di Jembatan Bangkir pada November 1947. Tepat pukul 05.00 pasukan sudah berada di posisi masing-masing, sementara, sebelumnya, masyarakat sekitar dengan diam-diam telah diungsikan ke beberapa desa yang dianggap aman.

Tepat pukul 09.00 ada truk dengan dikawal 2 (dua) orang Polisi Pasundan dibiarkan lewat dengan tujuan agar rencana penghadangan konvoi Belanda tidak bocor.

Kembali Pasukan Setan harus menunggu dengan sabar. Saat yang dinantikan pun tiba, tepat pukul 11.00 lewat konvoi pasukan Belanda dengan didahului oleh kendaraan yang membawa senjata berat (bren-pen). Mulanya, pasukan penghadang sempat terkejut.

Namun, begitu mendengar aba-aba dari MAS; “Tembaaak!” Rentetan tembakan pun langsung terdengar. Semangat Pasukan Setan pun langsung berkobar, seiring dengan tertembaknya pengemudi kendaraan pengangkut senjata berat itu ….

Dalam pertempuran yang berlangsung selama 3 (tiga) jam itu, seluruh pasukan Belanda, kecuali 2 (dua) yang berhasil meloloskan diri, namun akhirnya tertangkap rakyat dan dibunuh — beserta kendaraannya berhasil dihancurkan.

 

 

————–
Dari berbagai sumber terpilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *