Perempuan Penglaris Kedai Makanan

Karena posisi dapur keliatan di kasir, tanpa sadar aku pasti liat si kokinya masak dong. Yang aku lihat, perempuan rambut panjang. Aku liat sampe agak lamaan.

 

Neomisteri – Sekitar minggu lalu aku sempet main-main sama temen-temenku ke kedai yang bisa dibilang rame banget. Bahkan sampe waiting list. Pas sampe di sana, aku cukup kaget sih. Dengan tempat seperti itu bisa sampe puluhan antrean.

“Ini tempatnya?” tanyaku.

Salah satu temanku jawab, “iya. Kenapa? Jok ngomong onok seng aneh-aneh.”

“Enggak sih. Cuman, emang serame ini yah? Emang enak menu-menunya?”

“Coba aja ntar sendiri.”

Pas sampe sana, kita masuk untuk pesan makanan. Karena posisi dapur keliatan di kasir, tanpa sadar aku pasti liat si kokinya masak dong. Yang aku lihat, perempuan rambut panjang. Aku liat sampe agak lamaan.

Sampe akhirnya temenku tepuk pundakku dan tanya mau pesan minum apa. Pas aku lihat ke arah koki lagi.
Lohh kok bapak-bapak!!! Ah mungkin aku salah liat.

Aku lihat lagi. Ada yang aneh di sebelah kanannya. Ada perempuan tadi yang aku lihat. Anehnya dia menunduk sambil memegang spatula si bapak.

Aneh.

Karena tempatnya yang cukup banyak orang dan hampir semua tempat dipake, aku dan teman-temanku menunggu di dalam mobil.

“Jadi gimana? Ada yang aneh yah?”

“Liat cewek di samping bapak yang masak ndak?”

“Cewek? Yang mana? Enggak ada cewek, semua cowok tadi,” kata temen cowokku.

Tiba-tiba temen cewekku motong obrolan, “Iya… Ada cewek kok pegang spatula bapaknya kan?”

Aku langsung mengangguk dan jawab keras, “iya bener itu. Bukan manusia kan? Tapi ngapain?”

“Pelaris? Yang enakin makanan?” sahut temen cowokku.

Sambil mikir masa iya sih… Pas kita ngobrol-ngobrol, si Caroline (teman ghaib) berbisik, “he said the truth,”

“Masa?” Tanyaku

“Should I ask her?”

“Let’s go…,” sambil lari kecil ke tempat perempuan itu.

Dasar Caroline. batinku

Aku langsung keluar mobil sambil lihat-lihat bagian belakang tempat itu. Tidak begitu terlihat dari luar dapurnya. Setidaknya cukup membuat dia terpanggil sebentar.

Kulihat mukanya lesu, pucat, ada bekas ikatan pada pergelangan tangannya. Rambutnya diurai panjang sesiku. kantung matanya sedikit memerah mungkin karena mukanya yang pucat.

Kutanya kenapa? dia diam. Kutanya lagi, kenapa kamu membantunya? “Harus,” katanya. Lalu hilang…

Di dalam Mobil, sambil ngobrol sama temen-temenku, enggak lama kok kayak lihat ada yang ngeliatin dari jauh. Tiba-tiba ada cewek rambut hitam panjang, baju putih panjang, kuku panjang, muka pucat, anggep aja kuntilanak sliweran depan mobil.

Si sosok yang ngeliatin dari jauh tiba-tiba makin dekat. Halah paling mereka yang sering disini pikirku. Makin lama, mereka makin dekat. Hawanya mulai enggak enak. Kuputusin keluar Mobil. Ternyata dia langsung berdiri tepat di depanku.

loading...

Badannya besar sebesar 2 pohon pinus depanku. Tingginya sekitar 3 meter, bulunya lebat, matanya sebesar lepek gelas (apa yah bahasa Indonesianya, bener lepek kan? 😅), taringnya panjang, kukunya hitam tapi sedikit ada merah-merahnya, kakinya lebar dan besar.

“Ngapain kamu?”

“Enggak ngapa-ngapain,”

“lah itu tadi ngapain ngobrol sama anak cewek itu!”

“Dia mau kok nemuin aku,”

“Jangan ganggu!”

“Aku Enggak ganggu. Aku cuman pengen tau,”

“Kalo sudah tau, sana pergi!”

Wahh sembarangan nih genderuwo. Makan aja belum loh, udah diusir aku. “Ndak… Aku mau ke sini main. Siapa suruh keliatan, kuajak ngobrol lah.”

“Awas macem-macem!” Langsung pergi dia.

Wahh… Wah… Wah… Jiwa penasaranku makin tinggi.

Datanglah si perempuan tadi, alias mbak kuntilanak. Kutanya siapa si anak perempuan itu? Dan kenapa dia seperti bantuin masak.

“Jangan ganggu, dia yang bantu.”

“Kenapa?”

“Dia tumbal.”

Oke. Gini. Sampe sekarang aku masih belum paham ditumbalkan itu seperti apa. Apakah dibunuh? Apakah dikasi sakit dulu? Atau gimana?

Yang jelas, yang aku lihat ini, dia nyawanya seperti enggak bisa kemana-mana. Udah diem di situ. Katanya sih dia udah lama. Bahkan mungkin si tukang masak alias babang koki enggak tau juga soal ini.

Oh iya lagi, kayaknya gara-gara aku nanya-nanya ke perempuan cilik ini, sampe akhirnya pesenan kita enggak dianter sampe ngelewatin 4 orang.

Si tukang antar ditanya, bilang: “Saya tadi udah teriak-teriak nomernya mbak, tapi enggak ada yang nyahut.”

Padahal kita jelas-jelas pas masnya tiap lewat, bilang nomer kita. Bahkan nomer sebelum kita, ngelewatin kita. Dan masnya bilang, “Oke nomer 47 di sini ya.”

Segitunya enggak suka sama saya….

 

 

 

 

————————–

sumber: @Anggrainaumay

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *