Cimahi Berdarah

Setelah mengepung pasukan Sekutu dan NICA selama empat hari empat malam, akhirnya, selain memutus semua akses transportasi, listrik dan air ledeng, pasukan Detasemen Abdul Hamid dan Kompi Daeng bersama para laskar dan pejuang langsung melakukan serangan besar-besaran ….
Oleh: Dyah DN

Neomisteri – Pertengahan Maret 1946, tim sandi Tentara Republik Indonesia melapor ke Batalyon II pimpinan Sumarsono bahwa akan ada konvoi pasukan Inggris berkekuatan 1.000 orang akan bergerak menuju Bandung. Rencana pun langsung disusun. Dengan dibantu para pemuda dan pejuang, pasukan Batalyon II akan melakukan penghadangan di sekitar Fokkersweg (sekarang Jalan Garuda-pen).

Bersamaan dengan masuknya di Fokkersweg, komando untuk menyerang pun diserukan. Serangan yang demikian mendadak membuat pasukan Inggris tidak dapat berlindung. Dalam penghadangan ini, 50 pejuang gugur sebagai kusuma bangsa, sementara, sebagian besar logistik, persenjataan bahkan pemancar radio pasukan Inggris berhasil dirampas. Untuk mencegah serangan balasan, selain mengosongkan kampung-kampung di sepanjang Jalan Cibeureum, Karangtengah, Ciranjang, Rajamandala, Cipatat, Padalarang dan Cimahi, Tentara Rakyat Indonesia dan pemuda pejuang memperkuat pos-pos penjagaan.

Banyaknya korban yang jatuh, membuat pihak Inggris meminta pemerintah RI melalui Perdana Menteri Sutan Sjahrir agar Tentara Republik Indonesia meninggalkan Bandung. Perundingan antara pihak Sekutu dengan Komandan TRI Jawa Barat, Mayjen Didi Kartasasmita dan Komandan Divisi III Kolonel A.H Nasution juga tidak bisa mengubah keputusan Sekutu. Mayjen Hawtorn pimpinan Sekutu di Bandung mengeluarkan ultimatum: “Sebelum pukul 24.00 WIB, 24 Maret 1946, semua pasukan bersenjata harus sudah keluar dari Bandung bagian selatan sejauh 11 kilometer”.

Alih-alih menyerah, ultimatum itu memicu perlawanan rakyat Bandung dalam bentuk pembumihangusan kota atau peristiwa Bandung Lautan Api ….

Patriotisme para pejuang dan pemuda Cimahi pasca dibacakannya Proklamasi oleh Soekarno menjadi semakin tak terbendung. Untuk mempertahankan kemerdekaan, walau hanya bersenjatakan bambu runcing, golok, kelewang dan beberapa pucuk senapan hasil rampasan, para pemuda bergabung dalam pelbagai pasukan dan laskar rakyat, di antaranya Kompi Daeng dipimpin oleh Daeng Muhamad Ardiwinata, Laskar Fisabilillah pimpinan KH. Utsman Dhomiri, Detasemen Abdul Hamid, Laskar Hizbullah, Banteng Cimahi, Kesatuan Uyo dan banyak lagi yang lainnya. Sementara, tugas pengamanan di kampung, jalan atau gang menjadi tanggung jawab laskar Barisan Rakyat (BARA) pimpinan Kartadipura.

Tidak ada yang dapat menepis, pada rentang 1946, tepatnya lepas ultimatum Sekutu untuk mengosongkan Bandung, Cimahi merupakan kawasan yang benar-benar panas. Hingga pada suatu hari, pasukan Sekutu dan NICA yang ada di dalam kamp-nya dikepung secara ketat selama 4 hari 4 malam oleh pasukan Detasemen Abdul Hamid, Kompi Daeng dibantu oleh para laskar dan pejuang. Setelah sebelumnya berhasil memutus akses transportasi, listrik dan air ledeng, akhirnya, mereka pun menyerang pasukan Sekutu dan NICA dengan sengit.

Serangan gencar dan pemutusan pelbagai akses vital membuat pasukan Sekutu dan NICA jadi berang. Mereka menembakkan meriam dan mortir ke seantero Cimahi — Gang Balong, Gang Sobari, Gang Rangsom, Kebon Kembang, Kalidam, Baros, Contong, Kandang Uncal, Margaluyu dan beberapa toko-toko yang berada di sepanjang Grote Postweg hangus terbakar.

Akibat kalah dalam persenjataan, akhirnya, diputuskan untuk mundur. Detasemen Abdul Hamid ke arah Cisarua, sementara Kompi Daeng menuju Cipatik sambil merusak jembatan yang ada di Nanjung, sehingga jalan penghubung Cimahi dan Cipatik pun terputus.

Pada suatu ketika, sekitar Grote Postweg (sekarang Jalan Jend. Amir Machmud-pen) sudah dikuasai para laskar dan pejuang dan menduduki beberapa pos-pos di sekitar Kebon Kopi (sekarang Mall Ramayana-pen), Kantor Kawedanaan (sekarang Gedung DPRD Cimahi-pen), dan Sekolah Rakyat (sekarang SD Mandiri 1-pen).

Pasukan pejuang dan laskar yang selalu dalam keadaan siap tempur, mendadak, muncul konvoi pasukan Inggris dari arah pertigaan Tagog — saat truk terdepan sampai di depan Toko Johor, kontak tembak pun langsung terjadi. Tepatnya, pertempuran kota jarak dekat pun pecah …

Sekali ini pasukan Inggris benar-benar kewalahan. Betapa tidak, mereka harus mempertahankan diri di daerah yang belum dikenalnya; misalnya di jalan kecil, gang, bahkan mereka juga mendapatkan perlawanan yang sengit dari para pejuang yang bersembunyi di balik piuntu rumah penduduk yang sudah kosong.

Akibat mendapat serangan yang rapat dan bergelombang dari pejuang dan laskar, akibatnya, pasukan Inggris memutuskan untuk mundur ke kamp-nya yang sekarang terletak di Jalan Gatot Subroto dengan meninggalkan 2 (dua) buah truk yang penuh dengan bercak darah. Setelah dilakukan penggeledahan, ditemukan 2 (dua) pucuk karaben serta beberapa pakaian seragam. Kemudian, truk tersebut dibawa menuju ke Citeureup.

Sementara itu, beberapa anggota BARA yang berjaga di Jalan Babakan dan tidak sempat menyelamatkan diri, tertangkap oleh Batalyon Belanda yang tergabung dalam pasukan Andjing NICA. Mereka yang tertangkap diperintahkan untuk berbaris dan dieksuksi dangan cara ditembak di tempat.

“Merdeka …!” Demikian pekik Bung Tarna dengan tangan terkepal ketika dirinya dieksuksi oleh pasukan Anjing NICA. Jenazahnya dikuburkan oleh Wangsa dan Oni dengan dibantu beberapa warga yang berhasil menyelamatkan diri.

Selain Bung Tarna, pasukan pejuang Cimahi yang gugur sebagai kusuma bangsa antara lain adalah; Bung Ewen Omo, Bung Juhendi, Bung Uju dan Bung Iin, sementara, Bung Imar ditembak di selokan yang letaknya tidak jauh dari pos di Jalan Babakan. Sayangnya, jasad Bung Dasik, Bung Sodik dan Bung Endang yang dieksekusi di sekitar Pasar Atas, tidak berhasil diketemukan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *