Keangkeran Jembatan Kaliketek

Jembatan yang menghubungkan Bojonegoro dengan Tuban dan membentang di atas Bengawan Solo, selain menjadi saksi bisu peristiwa heroik, juga menguarkan aura mistik yang sangat kental ….
Oleh: Eko Cahyono

 

Neomisteri – Kaliketek, jembatan yang membentang di atas Bangawan Solo, mulanya, karena daerah di seberangnya banyak dihuni oleh kera (ketek-bhs.Jawa). Jembatan yang dibangun di rentang 1914 dimaksudkan untuk memudahkan Belanda mengambil hasil bumi, khususnya rempah-rempah dari Bojonegoro untuk dikirim ke Tuban dan selanjutnya dibawa ke Balanda.

Baca: Penjaga Parkir Basement Apartemen Diganggu Arwah Korban Bunuh Diri

Sudah barang tentu, dalam masa pembangunannya menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Mulai dari kecelakaan kerja, sengaja dibunuh atau karena kelaparan dan siksaan yang tidak berperikemanusiaan.

Dalam perjalanannya, Jembatan Kaliketek, kini terdiri atas dua jembatan — jembatan lama yang terletak di sisi timur dan awalnya digunakan Belanda untuk transportasi dengan rel kereta di tengah jalan — sementara, jembatan baru yang dibangun di sisi barat jembatan lama terdiri dari dua lajur dengan kelebaran empat meter.

Baca: Hantu Wanita Terekam CCTV di Kawasan Industri di Surabaya

Hasil selisik neomisteri sekali ini membuktikan, betapa, Jembatan Kaliketek termasuk sebagai salah satu bangunan peninggalan Belanda yang disungkupi oleh aroma mistik yang demikian kental. Betapa tidak, bulu roma sontak akan meremang jika kita melintasi jembatan yang satu ini mulai dari rembang petang sampai menjelang dini hari.

Menurut penuturan dari beberapa orang yang berhasil neomisteri temui, “Hal itu wajar, di sekitar jembatan pernah terjadi peperangan sengit antara serdadu Belanda dengan masyarakat Bojonegoro, selain itu, pada masa G30S/PKI, banyak jenazah yang tersangkut di jembatan dan dimakamkan di sekitar sana,” tegas Arif, 31 tahun, lelaki yang mukim di Desa Banjaransari.

Baca: Abang Ojek Online Dijahili Hantu Wanita saat Tengah Malam

“Bahkan, pada masa revolusi pisik, tepatnya 22 Desember 1948, Jembatan Kaliketek pernah dihancurkan oleh TGP (Tentara Genie Pelajar-red) untuk menghambat lajunya gerakan tentara Belanda,” tambahnya dengan penuh semangat.

“Oh …,” kata neomisteri.

“Itulah sebabnya, kenapa ruas jalan itu disebut sebagai Jalan Tentara Genie Pelajar. Tujuannya jelas, agar kita tak sekali-kali melupakan perjuangan para pendahulu yang telah rela mengorbankan harta dan jiwanya untuk kemerdekaan negeri ini,” tambahnya lagi.

“Lalu bagaimana dengan aura mistik yang dapat dirasakan oleh hampir semua orang yang melintasinya?” Pancing neomisteri.

Baca: Pemancing Tersesat di Perkampungan Siluman

Sekali ini Mas Ipung, 60 tahun, lelaki yang sejak muda gemar menggeluti dunia gaib dan sekaligus bersedia mengantarkan neomisteri menyahut; “Wajar, sejak semula, tempat ini memang merupakan hutan yang tergolong angker. Ditambah korban yang berjatuhan ketika pembangunan, perang kemerdekaan, dan masa G30S/PKI ditambah lagi sering diketemukan jenazah orang tak dikenal serta pemakaman yang letaknya tak jauh dari situ, maka, suasana pun menjadi semakin angker”.

Mas Ipung, kembali memaparkan; “Keangkeran Jembatan Kaliketek semakin menjadi buah bibir ketika dua tahun lalu, sekitar Mei 2018, truk pengangkut alat berat milik perusahaan sumur minyak Blok Sukawati menabrak warung getuk Mak Yah yang letaknya di sisi barat jalan”.

“Yang penting, jika melintas, cukup membunyikan klakson untuk mengingatkan bahwa kita hidup di dunia ini berdampingan dengan makhluk-makhluk ciptaan-Nya yang lain,” pungkasnya.

Baca juga:
Tersesat di Alam Siluman Babi
Akibat Susuk Kencana
Arwah Gentayangan di Apartemen
Tumbal Pesugihan
Hadiah dari Siluman Ular

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *