Teman Tak Kasat Mata Simbah

Perlahan kepalanya menoleh ke tembok sebelah, matanya menatap tembok. “Itu anaknya.”

Yaa Allah, Astaghfirullah… Kaget aku.. Aku enggak liat apa-apa di sana. tembok kosong doang. Enggak ada apa-apa. Simbahku masih menatap tembok kosong itu.

 

Neomisteri – Nenekku, sebut saja mbah Sukma. Beliau sangat menyayangiku, tapi aku merasa biasa aja, tidak merasa disayang. Di umur beliau yang sudah 90 tahun lebih, beliau sudah tidak gesit lagi seperti sedia kala, sering mengompol. merepotkan ibuku yang setiap hari mengurusnya.

Setiap aku berangkat kuliah, beliau selalu berpesan: Bangga’no simbah ya nduk, mugi-mugi dadi uwong sing sukses (banggain simbah ya nak, semoga jadi anak yang sukses).

Nggih mbah. (iya mbah)

Simbahku ini punya 5 anak (3 laki-laki, 2 perempuan). Ibuku adalah anak terakhir, jadi ibu dan keluargaku yang tinggal dengan simbah, mengurus segala keperluannya di usia senja.

Di usianya, ia sering mengigau saat tidur, semua saudaranya yang sudah tiada, dipanggil.

Aku merasa aneh dengan hal itu, kenapa yang sudah mati dipanggilin? Enggak yang msh hidup yang bisa bantu dia kalo dia butuh bantuan apa gitu. kata ibu, biasa kalau sudah tua emang seperti itu. Hmm baiklah.

Ada suatu malam, beliau memanggil adiknya (yang sudah meninggal): Moo.. Jarmo.. Tulungi aku mo.. Kebon’e gede banget.. Ealah moo.. Koe ra krungu to moo.. Aku jaluk tulung tenan iki, kok ora ono sek nulungi.

Tiap malam, simbah selalu mengigau, entah adiknya entah kakaknya, entah ibu bapaknya dipanggil, diajak ngobrol, dimintai tolong seperti itu. kondisi itu berlangsung berbulan-bulan.

aku penasaran, bertanya padanya.

“Mbah, nek bengi kok nyeluki mbah Parmo, enten nopo (Mbah, kalo malem kok manggil mbah Parmo, ada apa)?”

“Lah aku i ning kebon, peteng, ora ono sopo-sopo, muk ono Parmo, Lah dijaluki tulung kok meneng wae,” jawab simbahku.

Hmm.. Mimpi nih pasti..

Baca: Jebakan Makhluk Alam Kegelapan

Ada kejadian aneh lagi selain itu, simbah-simbah yang notabene suka minum hangat ataupanas, kemarin-kemarin simbahku minta es krim coba… Yaa kukasih.

Sehari bisa minta 2-3 kali es krim (sampe aku nyetok di kulkas, padahal sebelumnya enggak pernah stok es krim). Aneh.. batinku.

Beberapa bulan setelah itu, masih disertai sering mengigau dan hobi minum es krim, simbahku jatuh sakit.

Simbahku dirawat di rumah sakit selama kurang lebih seminggu. (ada sakit medis, yang aku enggak bisa cerita di sini).

Sebelum dibawa ke RS, aku sudah merasa ada yang enggak beres dengan simbahku. Katanya, orang jaman dulu sering punya ‘cekelan’ (semacam senjata tak kasat mata).

Cekelan ini bisa berupa susuk, jimat, pusaka, dan lain-lain. Aku enggak memahami hal-hal begitu, cuma kadang aku ini rada sensitif dengan hal-hal bau-bau begitu… Rada peka lah ibaratnya.

Enggak cuma aku yang mikir ada something wrong, tapi juga beberapa pihak keluarga.

Pakdeku, sampe tanya ke orang yang beliau anggap ‘tau’, tapi enggak ada hasil. Katanya enggak punya apa-apa.

Ibuku tanya ke simbah sampe berkali-kali, enggak ada jawaban. Diem aja kalo ditanyain.

Aku? Coba tanya ke temen indigo (temen kuliah yang bisa melihat hal supranatural). Katanya ada, tapi bukan cekelannya.

Bukan cekelan yang sengaja dipasang, tapi sesuatu yang ngikut simbah secara tidak sengaja, saat simbah masih muda dulu, kata temanku.

Anak kecil yang mengikutinya, temanku tidak mau cerita nama atau wujudnya. hanya saja, anak kecil ini ikut simbah sudah sejak simbah muda, sudah lama.

Karena saking lamanya, anak ini enggak mau pisah sama simbahku. Simbah enggak sadar kalau anak ini tak kasat mata. Simbah enggak tau kalau anak kecil yang diajak dia pulang itu bukan anak manusia.

Temanku memperagakan ketika si anak ini ikut simbahku pulang, aku masih ingat sampai saat ini.

Si anak: “Mbak, aku melu bali yo (mbak, aku ikut pulang ya)?”

Simbah: “Yo ayo.” Yo ayo-nya simbahku ternyata membawa anak itu pulang sampe saat ini. Anaknya enggak mau balik.

Aku masih antara percaya dan tidak, aku bingung.

Baca: Misteri Nenek Tua Menyeramkan di Aula SMA

Saat di rumah sakit, simbahku selalu teriak-teriak manggil sodara-sodaranya yang sudah meninggal. Aku merasa enggak enak dengan pasien-pasien lain.

Anehnya, kalau aku ke sana, aku kadang ngaji, kubacakan Al-Waqiah dan surah Yaasin, simbahku tenang.

Sampai hari-hari selanjutnya, kalau aku enggak datang atau jatah jaga sodara yang lain, selalu didengarkan bacaan surah-surah dalam al-Quran. Beliau menjadi tenang.

Aku enggak tau ya, aku ngerasa ada yang enggak bener. Tenangnya beliau saat dibacakan al-Quran apakah itu memang beliau, atau entahlah.

Simbahku ini paling dekat denganku, ibaratnya aku cucu yang paling disayang. Saat menjaganya, beliau sadar dan memandangku.

“Pripun mbah (gimana mbah)?” tanyaku.

Beliau geleng-geleng. Simbahku saat itu sudah tidak bisa bicara dengan jelas. Hanya angguk, geleng, atau kata pendek.

Kucoba ngobrol dengan beliau.

“Mbah.. Njenengan nembe kalih sinten (mbah, kamu lagi sama siapa)? Karena gue udah denger cerita dari temen indigo gue itu. Jadi gue ingin memastikan.

“Ora ono sopo-sopo (enggak ada siapa-siapa).”

“Tenane (beneran)?”

Mbahku cuma diem, gelisah.

“Sek ngancani koe lanang po wedok mbah (yang nemenin kamu cowok apa cewek mbah)?”

“Lanang (cowo),”

Deeeg.. Merinding gue.

Saat itu gue sendirian sama simbah, ibu dan keluarga yang lain lagi di luar ruangan.

“Saiki bocahe ningdi mbah?” Simbahku enggak jawab. Diem aja tapi raut mukanya gelisah.

“Ningndi mbah bocahe (dimana mbah anaknya)?”

Simbahku masih diam.

Perlahan kepalanya menoleh ke tembok sebelah, matanya menatap tembok. “Kui bocahe (itu anaknya).”

Yaa Allah, Astagfirullah.. Kaget aku.. Aku enggak liat apa-apa di sana. tembok kosong doang. Enggak ada apa-apa.

Simbahku masih menatap tembok kosong itu.

“Mbah.. Kancane dikon bali. Ora ono sek gelem dee ning kene (mbah, temennya disuruh pulang, enggak ada yang mau dia di sini).”

Simbahku diam.

“Mbah.. Gek kono kancane kon bali (mbah, buruan temennya disuruh pulang).”

Aku sudah mulai emosi

“Olaa gelem ali (enggak mau pulang),” jawab simbah.

“Lah ngopo ora gelem? ora ono sek akon ndene, ora ono sek ngajak ndene, kabeh ora do gelem dee ning kene (lah kenapa enggak mau? Enggak ada yang minta dia di sini, enggak ada yang ngajak, semua orang enggak mau dia di sini),” kata aku marah.

“Gelem e bali karo aku,” simbahku jawab sambil tersenyum. Aneh.

“Nek arep bali, yo kon bali dewe, rausah ngajak simbah, nggone beda (kalo mau pulang, pulang sendiri, enggak usah mengajak simbah, tempatnya beda),” kata aku marah-marah, entah kenapa, aku benci anak ini.

“Mbah, kon manthuk dewe wae. simbah tetep ning kene, tak kancani. ben bocahe bali wae yo (mbah, disuruh pulang aja, simbah tak temenin, anaknya diminta pulang aja ya)?” aku merajuk, berharap keduanya paham akan permintaanku.

“Ora gelem,” jawab simbah singkat.

Aku mulai menangis. sedih, takut, kecewa.

Aku cerita ke ibu, kata ibu: “Ikhlasno nduk.”

Yaa Allah.

Aku belum mau jauh dari simbah, aku belum bisa jadi apa-apa. Beliau yang selalu memberiku semangat.

Beberapa hari di RS, akhirnya beliau pulang. Di rumah, beliau sangat doyan makan (enggak pilih-pilih makanan. Padahal biasanya susah makan).

Saat aku berangkat kuliah, beliau pesan: “Gek bali, mugo hasil opo pangarepanmu (buruan pulang, semoga berhasil apa yang diinginkan).”

Hari-hari begitu indah, simbahku sembuh (walau belum total, seenggaknya dia mau makan). Kuliahku juga lancar.
Ibuku juga senang, melihat simbahku begitu terlihat sehat.

***

Hari Jumat, aku ingat itu satu minggu sebelum puasa.

“Bu.. Kulo damelke teh anget nggih (bu, saya buatkan teh hangat ya),” kata ibuku nawarin ke simbah.

“Yo.” jawabnya singkat.

Aku yang buatin teh anget, ibuku mengajak bude buat gantiin popok simbah (karena enggak bisa gantiin seorang diri).

Aku antar teh ke kamarnya, simbahku tidur. Ibuku masuk bersama budhe.

“Mbah.. Mbah.. Ayo ganti popok.”

Simbahku diam.

“Mbakyu, embah muk meneng wae (mbak, simbah cuma diem aja),” ibuku teriak manggil bude, khawatir sekali wajahnya.

“Mbok.. Mbok..,” budheku manggil simbah

“Mbook.. Tangi o mbok..”

Diam, tak ada jawaban.

Ayahku datang, memegang kakinya. “Wis anyep (sudah dingin).”

Budeku mengecek nadi dan nafas, tiada.

Ayahku segera lari manggil dokter (tetanggaku dokter)

Dokter: “Sampun sedo (sudah meninggal).”

Innalilahi… Yaa Allah.

Perasaan baru ditawari teh, tiba-tiba sudah enggak ada.
Innalilahi waa Innailaihi roojiun.

Aku masih syok, masih keinget sampe sekarang. kakinya memang dingin, tapi tangannya masih hangat.

Aku kehilangannya. Aku tau, semua sudah ditakdirkan oleh-Nya.

Sedih, iya.

Marah, iya.

Kecewa, iya.

Aku belum bisa jadi apa-apa, seperti harapan beliau.

Sebenernya ini enggak horor banget sih, sedih banget malah iya.

Tapi di sini, ada sesuatu yang aku pelajari. Baik boleh, tapi jangan sembarangan mengajak orang untuk pulang, untuk masuk dalam kehidupan kita.

Mungkin niat simbah baik, nolong anak itu, tapi ternyata.. Si anak memberi kisah sendiri.

Aku menyalahkannya? Iya tentu.

Tapi aku tidak sepenuhnya menyalahkan, bisa jadi karena anak itu, simbah tidak kesepian waktu mudanya, menjadi punya teman cerita.

Tapi.. Tidak dipungkiri, aku membencinya. Ah sudahlah.. Ini pelajaran berharga bagiku. Ini cerita sedihku, kehilangan orang yang benar-benar berarti dalam hidupku.

Maafkan jika cerita ini berisi hal-hal yang kurang horor menurut kalian, dan malah cerita sedihku.

Saat aku wisuda, aku mampir ke makam simbah. “Mbah, aku lulus.” Al-Fatihah untuk beliau… Aamiin.

 

 

 

—————

sumber: @kularas_

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *