Jebakan Makhluk Alam Kegelapan

Persekutuannya dengan penghuni alam kegelapan agar hidupnya bergelimang dengan harta ternyata tidak membuahkan hasil, namun, anak kesayangannya tetap saja menjadi tumbal ….
oleh: Arief Permana

 

Neomisteri – Ardi berjalan mondar-mandir di ruang tamu rumah kontrakannya yang tak seberapa besar itu. Beberapa kali terdengar helaan napasnya. Ia sering menghembuskan napasnya seolah ingin menghilangkan beban berat yang selama ini menghimpit dadanya.

Sementara, Nuri, sang istri begitu juga Eka anak satu-satunya tengah terbuai dalam mimpi setelah beberapa saat keduanya menangis meratapi kehidupannya yang tak beruntung itu. Ya, akibat resesi ekonomi yang mendunia, perusahaan yang dirintisnya dan sedang berkembang terpaksa merumahkan karyawan, bahkan harus menanggung utang yang tidak sedikit.

Angannya menerawang jauh. Ia tak ingin jika hidupnya harus berakhir di balik jeruji besi. “Bukan aku tidak mau membayar, tapi dari mana uang bisa kudapatkan dalam waktu cepat,” keluhnya berkali-kali.

Rumah dan mobil serta tabungannya selama ini telah terkuras. Tapi apa daya, semua itu belum dapat menutupi utang-utangnya.

Waktu baru menunjukkan pukul 22.00 WIB. Di tengah kegalauan itu, mendadak, muncul Narto, sopir pribadinya. Setelah sejenak berbincang, Narto pun berkata lirih; “Pak … bagaimana kalau kita ke Jawa Timur. Ada gua untuk mencari pesugihan. Syaratnya juga tidak berat, hanya sepasang pisang emas, sepasang raja, kopi, teh, pahit dan manis, air putih serta kembang tiga macam serta sirih lengkap”.

“Pasti ada tumbal,” potong Ardi.

“Kata orang-orang, tumbalnya apa yang paling kita senangi. Bapak kan senang sama mobil, berarti tumbalnya berupa mobil,” kata Narto meyakinkan.

“Kamu tahu tepat letaknya?” Kata Ardi mencoba mencari tahu.

“Tidak,” jawab Narto. “Tapi, ada beberapa tetangga yang juga sedang terlilit utang, dua hari lagi akan berangkat ke sana. Mas Toto yang tahu tepat. Dia pernah mengantarkan Bos-nya ke sana,” tambahnya lagi.

“Baik… Besok sore saya jawab,” kata Ardi.

“Kalau begitu, saya sekalian pamit pulang,” kata Narto sambil menyalami dan berjalan keluar.

Tepat tengah malam, lewat telepon genggamnya, Ardi menghubungi Narto dan menyatakan siap untuk ikut.

Pada hari yang ditentukan, Ardi, Narto, Toto dan dua lagi lainnya berangkat menuju ke salah satu hutan yang terkenal angker di bilangan Jawa Timur. Setibanya di sana, mereka menghubungi Mbah Iro, lelaki renta yang merupakan juru kunci gua keramat itu.

Mbah Iro menerangjelaskan pelbagai syarat yang harus dibawa serta bagaimana caranya mengembalikan apa yang didapat jika tujuannya sudah terpenuhi. Setelah dianggap cukup dan ubo rampe sudah dibeli oleh salah seorang juru kunci yang lebih muda, mereka pun berangkat ke tengah-tengah hutan.

Tak ada yang bicara. Semua tenggelam dalam angan masing-masing. Hampir tiga jam mereka berjalan, ketika kelelahan mulai mendera. Mbah Iro memberikan isyarat agar mereka berlaku lebnih santun karena gua yang dituju sudah mulai nampak dari kejauhan.

Setelah uluk salam dan melakukan beberapa tata cara di mulut gua, Mbah Iro memberikan isyarat agar ubo rampe segera di tata di atas sebuah batu datar yang mirip dengan altar. Seiring dengan kemelun asap kemenyan putih bercampur madat (candu-red), Mbah Iro pun melantunkan puji-pujian dalam bahasa yang tidak kami mengerti. Semua hanya diam dan harap-harap cemas.

Keanehan pun terjadi. Ujung asap yang mengepul mendadak membentuk wajah seorang lelaki. Berkumis lebat, mata menyala dan tampak garang dengan rambut digelung ke atas, dan terdengar suaranya yang menggelegar bak memenuhi gendang telinga semua yang ada di sana.

“Permintaan kalian kupenuhi. Ambil ini dan simpan baik-baik. Jika sudah merasa cukup, bakar. Imbalannya, aku hanya akan mengambil apa yang kalian senangi saja!” Katanya sambil melemparkan sesuatu.

“Brak …!” Benda yang ternyata hanya berupa dua lembar daun salam kering itu jatuh di depan Ardi, Toto, serta Gino. Ketiga orang yang memang sengaja datang untuk mencari kekayaan, sementara, Narto dan temannya hanya sekadar ikut menemani.

Singkat kata, setibanya di Jakarta, usaha kecil-kecilan yang dijalani oleh Ardi, Toto, serta Gino tumbuh dengan pesat. Boleh dikata, apa yang mereka jual selalu laku cepat dengan keuntungan yang berlipat-lipat.

Alhasil, belum sampai setahun, Ardi sudah berhasil melunasi segala utang-utangnya. Bahkan, rumah dan kendaraannya yang digadaikan bisa kembali lagi menjadi miliknya. Begitu juga tabungannya. Dalam hati Ardi berjanji, dua bulan lagi, atau tepat setahun sekembalinya dari gua keramat itu, ia akan mengembalikan dengan cara membakar dua lembar daun salam yang selama ini disimpannya.

Tiga minggu kemudian, Ardi yang tengah mengurus proyeknya di Cirebon mendapatkan telepon dari istrinya, Eka, anak semata wayangnya terpeleset dan tenggelam di kolam renang rumahnya sendiri. Sementara itu, istri Mas Toto, Mbak Yati juga meninggal akibat menghirup gas yang bocor di dapur rumahnya. Berbeda dengan Mbak Sri, istri Mas Gino, ia tertabrak motor ketika sedang menyeberangi jalan selepas belanja dari pasar.

Anehnya, peritiwa itu terjadi pada hari dan jam yang sama. Hanya tempatnya saja yang berbeda.

Beberapa hari setelah itu, ketiganya sepakat untuk bertemu di suatu tempat dan membakar daun salam pemberian sang makhluk kegelapan. Seiring dengan suara letupan ketika api membakar daun salam, muncul seraut wajah yang mengatakan; “Perjanjian kita sudah selesai. Semua sudah mendapatkan apa yang menjadi haknya”.
“Bukankah saya menyatakan menyenangi mobil, kenapa anak saya yang diambil?” Tanya Ardi penasaran.

“Ha… Ha… Ha… Semua pasti sayang pada istri dan anaknya. Makanya, itu yang saya ambil,” jawab sang makhluk yang kemudian menghilang seiring dengan tiupan angin.

Saat ketiganya termangu, dalam waktu yang bersamaan pula, ternyata,rumah ketiganya juga dilalap si jago merah. Peristiwa itu baru diketahui beberapa saat kemudian setelah salah seorang keluarga mereka menghubungi masing-masing lewat telepon genggamnya. Ketiganya hanya bisa saling tatap. Tak ada lagi kata yang terlontar kecuali penyesalan yang tiada habis-habisnya.

Kini, Ardi membuka bengkel motor dan tambal ban sambil terus menyesali apa yang pernah diperbuatnya. Sementara Mas Toto dan Gino, konon dirawat di salah satu rumah sakit jiwa. Kisah ini dituturkan langsung oleh Ardi di sela-sela kesibukannya menambal ban motor neomisteri yang bocor. “Semoga bisa jadi pelajaran Mas… Jangan sekali-kali bermain-main dengan makhluk alam kegelapan,” katanya mengingatkan.

Neomisteri pun mengangguk sambil tersenyum dan meminta izin kepadanya untuk menuliskan ceritanya itu. Ardi pun mengacungkan jempolnya.

Temaram pun mengantarkan neomisteri kembali ke rumah.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *