Hadiah dari Siluman Ular

Dengan perasaan dan pikiran yang tak menentu dan sesekali menghela napas panjang kemudian menghembuskannya kuat-kuat, ia pun menyusuri pematang sawah sambil membawa obor dan karung ….

Oleh: Galih TH.

Neomisteri – Kang Udin (32 tahun) demikian sapaan akrabnya adalah lelaki yang bertanggungjawab. Untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, selain sebagai buruh yang menggarap sawah dan ladang, jika malam tiba, ia menghabiskan sebagian besar waktunya untuk mencari belut dan kodok hijau.

Jika sedang beruntung, ia bisa mendapatkan penghasilan sekitar Rp100.000 sampai dengan Rp150.000.

Berbilang tahun, Kang Udin menjalani semua itu dengan hati gembira. Ia sadar, karena pendidikannya yang rendah, maka ia harus berjuang keras demi menghidupi istri dan kedua buah hatinya. Hanya untuk sekadar cukup.

Namun kali ini, kemarau yang bekepanjangan membuat hasil panen baik padi maupun hasil ladang, begitu juga tangkapan belut dan kodok hijau tidak sebaik yang diharapkan. Bersamaan dengan itu, belakangan, kedua buah hatinya, Udin (5 tahun) dan Neng (3 tahun) juga terserang batuk yang berkepanjangan.

Pelbagai obat dan beberapa kali ke dokter, tetap saja tak mampu membuat batuk kedua anaknya itu mereda. Keadaan itulah yang membuatnya menjadi galau.

Seperti biasa, malam itu, setelah pamit kepada istrinya dan mencium kening kedua buah hatinya yang sedang tertidur, Kang Udin berjalan keluar rumah sambil berkata; “Doakan Akang dapat rejeki besar. Biar kita bisa hidup dengan tenang”.

Sang istri yang berdiri di depan pintu pun menyahut; “Aamiin”.

Ia menatap kepergian suaminya sampai hilang di kegelapan malam sambil berdoa di dalam hati agar Allah mengabulkan pinta suaminya.

Kang Udin yang berjalan membelah kegelapan malam dengan perasaan tak menentu sambil terus memutar otak untuk mencari tempat yang tepat agar hasil buruannya dapat berlimpah. Ia merasa, cobaan kali ini amat luar biasa berat. Selain utang kepada juragan, penyakit sang anak juga tak kunjung sembuh.

Mendadak, entah kenapa, timbul keberaniannya untuk mendatangi rumpun bambu di sudut desa yang selama ini selalu dihindari oleh warga masyarakat. Alih-alih berjalan untuk melewati, mendekat pun tak ada yang berani.

Konon, di antara lebatnya rumpun bambu itu terdapat makam keramat yang tidak diketahui namanya ….

Berbekal pasrah kepada Allah dan tekad yang kuat untuk menghidupi keluarganya, Kang Udin pun melangkah dengan mantap.

Malam itu, Kang Udin mulai merasakan keanehan. Suasana alam begitu hening, alih-alih semilir angin, suara binatang malam pun tak terdengar sama sekali. “Bismillahirrahmaanirrahiim”, bisiknya sambil terus berjalan.

Kang Udin hanya merasakan ia tengah di suatu tempat yang belum pernah sama sekali diinjaknya. Tiba-tiba, ia menghentikan langkahnya. Di depannya, tampak ada seekor ular bersisik kuning sebesar ibu jari orang dewasa yang terluka di bagian ekornya sedang menggeliat-geliat seolah kesakitan yang teramat sangat.

Hati Kang Udin begitu iba. Tak lama kemudian, keraguan mulai merayapinya. “Tolong atau biarkan ular itu mati kehabisan darah”, bisik hatinya.

Akhirnya, Kang Udin pun memutuskan untuk menolong ular itu. “Aku ingin menolongmu, jadi, jangan ganggu”, kata Kang Udin dalam bahasa Sunda yang kental.

Ular itu seperti tahu, ia pasrah ketika Kang Udin mengangkat dan menyampirkannya di pundaknya sambil berjalan pulang dan memetik beberapa helai dedaunan. Setibanya di rumah, Kang Udin langsung menumbuk dedaunan yang tadi diambil kemudian menempelkan di luka ular tersebut dan membalutnya dengan sobekan kain sarung usang miliknya.

Paginya, istri dan kedua anaknya terkejut, karena melihat ada ular di meja dapur mereka. Kang Udin pun menceritakan apa yang dialaminya semalam. Keluarganya hanya tersenyum, mereka maklum sebab selama ini ayahnya tak pernah mau membunuh binatang secara sembarangan.

Tujuh hari setelah itu, malamnya, Kang Udin bermimpi didatangi oleh seorang lelaki kekar, berwibawa dan dikawal oleh beberapa orang berwajah bengis.

“Hai … manusia, engkau telah masuk ke alam kami. Tapi, terima kasih, engkau telah menolong anak bungsuku. Aku datang untuk menjemputnya. Sebagai tanda terima kasih, selama seratus hari, silakan engkau datang ke tempatku untuk mengambil hadiah itu”, kata lelaki itu.

“Kalian berempat, persiapkan ternak kita yang terbaik dan berikan kepada lelaki yang telah menolong putri kesayanganku”, lanjutnya sambil berpaling kepada para pengawalnya.

“Sekarang aku pamit dan akan membawa putriku pulang”, kata lelaki yang berwibawa itu sambil menggandeng tangan seorang wanita yang cantik.

Kang Udin pun terjaga. Pandangannya nanar. Tatkala matanya menyapu meja dapur, hatinya terkesiap, ular kuning itu telah lenyap tanpa bekas ….

Esok malam, dengan perasaan tak menentu, Kang Udin pun berjalan ke arah rumpun bambu yang ada di sudut desa. Dan benar, ia melihat ratusan bahkan ribuan belut dan katak yang besar-besar berkubang di pinggiran sungai kecil. Dengan mudahnya, Kang Udin mengambil semua yang ada di depannya hingga karungnya penuh.

Pengepul yang biasa menerima tangkapan Kang Udin terkejut. “Wah … besar-besar sekali. Baik, harganya pun beda dari biasanya”, ujarnya sambil menyebut angka kemudian menimbang hasil tangkapan Kang Udin.

Selama seratus hari, Kang Udin berhasil mengumpulkan uang yang lumayan banyak. Yang pasti, selain memperbaiki rumah peninggalan kedua orang tuanya dan membeli motor, Kang Udin juga memiliki beberapa bidang sawah dan ladang untuk berkebun.

“Ini semua merupakan janji Allah untuk memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka”, demikian bisik hati Kang Udin usai ia mendirikan salat Isya.

Cerita ini didapat lewat Saipul, sahabat yang lahir dibesarkan di Garut, Jawa Barat, dan Galih TH menuliskannya untuk neomisteri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *