Lengkong Berdarah

Sejatinya, berpegang dengan kesepakatan 30 November 1945, Tentara Sekutu tidak memiliki alasan yang kuat untuk memasuki wilayah Indonesia dengan dalih atau alasan apapun ….

Oleh: Ayu Kh.

 

Neomisteri – Walau bangsa Indonesia telah memproklamirkan kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945, namun, perjuangan belum juga usai. Tentara Belanda mencoba kembali menjajah dengan membonceng Tentara Sekutu yang memenangi Perang Dunia II dengan melucuti Tentara Jepang.

Seiring dengan pekik kemerdekaan yang membahana di seluruh negeri, tidak sedikit darah dan nyawa pejuang melayang demi mewujudkan cita-cita mulia itu. Kemerdekaan Indonesia.

Sejarah mencatat dengan tinta emas, pada 30 November 1945, terjadi perundingan antara Indonesia yang diwakili oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Agoes Salim dengan didampingi oleh 2 perwira TKR, yakni Mayor Wibowo dan Mayor Oetarjo, dengan pihak Sekutu (Inggris), yakni Brigadir ICA Lauder yang didampingi oleh Letkol Vanderpost (Afrika Selatan) dan Mayor West.

Pada pertemuan tersebut dihasilkan kesepakatan antara lain; pengambialihan primary objectives Tentara Sekutu oleh TKR yang meliputi perlucutan senjata serta pemulangan 35 ribu Tentara Jepang yang masih di Indonesia begitu juga pemulangan Allied Prisoners of War and Internees (APWI) yang sebagian besar merupakan lelaki tua, wanita dan anak-anak berkebangsaan Belanda dan Inggris yang berjumlah kurang lebih 36.000 orang.

Namun apa yang terjadi, sejak perundingan 30 November 1945 sampai dengan pertengahan Januari 1946, ternyata, sikap Tentara Jepang di Lengkong tetap tidak berubah. Oleh sebab itu, pada 23 Januari 1946, Kepala Staf Resimen IV Tangerang, Mayor Daan Yahya menemui Mayor Oetarjo, perwira penghubung di Jakarta.

Tujuannya adalah meminta agar penyerahan senjata oleh Tentara Jepang di Lengkong dapat diselesaikan pada tingkat Markas Besar Tentara Jepang yang berkedudukan di Jakarta.

Tidak cukup sampai di situ, Mayor Oetarjo juga mengadakan hubungan dengan Wakil Kepala Staf Tentara Jepang, Letkol Miyamoto, yang bertanggungjawab atas operasi pemulangan Tentara Jepang dari Indonesia. Namun apa daya, Miyamoto sedang berada di Bandung, oleh karena itu, asistennya meminta agar Mayor Otarjo kembali 2-3 hari lagi.

Di tengah-tengah penantian, pada 24 Januari 1946, diterima informasi, pasukan Belanda yang berkedudukan di Bogor sudah bergerak dan berhasil menguasai Parung — selanjutnya akan bergerak ke utara untuk menduduki Lengkong.

Bila hal itu terjadi, maka, jalan menuju ke Tangerang akan terbuka dan kedudukan Resimen IV sekaligus Akademi Militer Tangerang pun bakal terancam.

Tanpa menunggu waktu, untuk mengamankan kedudukan Resimen IV Tangerang dan Akademi Militer Tangerang, maka, dilakukan dengan mendahului aksi Belanda.

Mayor Daan Yahya segera memanggil Mayor Daan Mogot dan Mayor Wibowo. Saat itu diputuskan, tanpa menunggu kepulangan Letkol Miyamoto dari Bandung, Resimen IV akan melaksanakan tugas perlucutan senjata sesuai dengan hasil perundingan 30 November 1945.

loading...

Setelah melapor kepada Komandan Resimen IV Tangerang, Letkol Singgih, pada 25 Januari 1946, sekitar pukul 14.00, di bawah pimpinan Mayor Daan Mogot dengan diikuti Mayor Wibowo, Letnan Soebianto Djojohadikoesoemo, Letnan Soetopo dan empat serdadu India yang mengenakan seragam Tentara Inggris serta dua seksi taruna (sekityar 60 orang) — dengan menggunakan tiga truk dan satu jip militer hasil rampasan dari Inggris — rombongan berangkat menuju ke Markas Tentara Jepang yang terdapat di Lengkong.

Mereka tiba sekitar pukul 16.00, Mayor Daan Mogot, Mayor Wibowo, dan taruna Alex Sajoeti (fasih bahasa Jepang) berjalan memasuki markas tentara Jepang. Sementara, pasukan taruna yang menunggu di luar, diserahkan kepada Letnan Soebianto dan Letnan Soetopo.

Ketika Mayor Daan Mogot sedang menjelaskan maksud kedatangannya, para pasukan taruna pun langsung saja mengumpulkan senjata.

Beberapa saat kemudian, tanpa diduga, tiba-tiba terdengar suara letusan senjata yang tidak diketahui dari mana datangnya.

Sudah barang tentu, merasa diri terancam bahaya, Tentara Jepang yang memang sejak semula enggan untuk dilucuti senjatanya, sontak membalas dengan tembakan yang membabi buta.

Pos-pos pertahanan yang tersembunyi, melancarkan tembakan mitraliur ke arah pasukan taruna — sebagian, mencoba merebut kembali senjata yang tadinya sudah diserahkan — dan menembakkannya ke arah pasukan taruna.

Sontak, ketenangan berubah menjadi ajang pertempuran yang tidak seimbang antara Indonesia dan Jepang.

Walau Mayor Daan Mogot telah berusaha menghentikan pertempuran, namun apa daya, pertempuran terus berkecamuk dengan hebatnya. Tentara Jepang yang sudah mengalami pahit getirnya pertempuran, kali ini harus mati-matian bertahan melawan keberanian para taruna Akademi Milter Tangerang.

Dalam peristiwa itu, 33 taruna dan 3 perwira gugur, lebih 10 taruna luka berat, sementara, 20 taruna dan Mayor Wibowo ditawan. Walau begitu, tiga orang taruna, yaitu Soedarno, Menot Sjam, dan Osman Sjarief berhasil meloloskan diri. Dan ketiganya berhasil kembali Markas Resimen IV Tangerang, pada pagi keesokan harinya.

Empat hari setelah itu, pada 29 Januari 1946, di Tangerang diselenggarakan pemakaman kembali 36 orang yang gugur dalam peristiwa Lengkong, disusul penguburan Taruna Soekardi yang luka berat kemudian meninggal di rumah sakit.

Pada saat itulah, di saku seragam Lettu Soebianto Djojohadikusumo, ditemukan sebuah catatan kecil berisi sajak berbahasa Belanda karya Henriette Roland Holst yang telah diterjemahkan oleh Rosihan Anwar ke dalam bahasa Indonesia;

Kami bukan pembangun candi,
Kami hanya pengangkut batu,
Kami angkatan yang mesti musnah,
Agar menjelma angkatan baru
di atas pusara kami lebih sempurna.

Terima kasih Pahlawan, jasamu akan kami kenang sepanjang masa.

 

 

 

——————-

Dari berbagai sumber terpilih

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *