Keangkeran Rumah Baru

Tiap terbangun malam, Nina selalu merasa jika dirinya seolah sedang diawasi oleh makhluk tak kasat mata …
oleh: Ari Sudewo

Neomisteri Dika dan Nina adalah pasangan muda yang baru saja menikah. Bulan madu pun mereka reguk tanpa henti, Nina merasa bahagia, bangga dan paling beruntung, pasalnya, ketika masih duduk di bangku kuliah … suaminya tergolong lelaki yang banyak digandrungi wanita. Maklum, selain berotak encer, Dika juga merupakan atlet Voli yang disegani.

Oleh sebab itu, tak heran, begitu usai wisuda ia mendapatkan tawaran bekerja di salah satu perusahaan yang bergerak dalam bidang peralatan olahraga dan langsung menduduki posisi manajer.

Tak hanya itu, jauh-jauh hari, ternyata diam-diam Dika juga telah mempersiapkan sebuah mahligai yang cukup lumayan berupa sebidang tanah dengan bangunan minimalis di atasnya — ia sengaja mengambil dua kavling yang bersebelahan sehingga luas tanahnya pun kurang lebih sekitar 120 m2 sehingga bisa menyalurkan hobinya, berkebun, tanaman hias, dan memelihara ikan koi.

Kejadian menyeramkan bermula ketika malam pertama keduanya menginap di rumah itu, tepatnya usai pengajian dengan para tetangga dan kerabat dekat. Malam itu, ketika terjaga, Nina pun mulai merasakan keganjilan yang kadang membuat bulu kuduknya meremang. Jika hal itu diceritakan pada Dika, sang suaminya pun hanya menjawab sambil menggoda; “Ah … itu cuma alasan biar kalo tidur bisa meluk aja”.

Sambil mencubit manja perut suaminya, Nina berusaha meyakinkan sambil menerangkan apa yang selalu dilihatnya; “Coba sekali-kali bangun malam deh. Kamu pasti akan melihat kelebat bayangan terutama di depan meja rias. Rambutnya terurai dan bajunya seperti sutra atau satin berwarna putih panjang dan bau wanginya amat menyengat”.

Karena hampir tiap pagi selalu mendapatkan cerita yang sama, akhirnya, Dika pun jengkel. Setibanya di kantor, ia langusng memanggil Pak Ali, salah seorang stafnya yang menguasai ilmu agama cukup dalam ke ruangannya. Belum sampai Pak Ali duduk, Dika langsung saja menceritakan apa yang selalu dialami oleh istrinya. Sementara, Pak Ali hanya mengangguk-angguk sambil sesekali matanya terpejam.

“Bagaimana Pak Ali?” Tanya Dika memecah kesunyian.

Hampir lima menit Pak Ali tak menjawab, matanya terpejam. Dika mulai penasaran, namun, ia tak pernah berani mengusik ketenangan lelaki paruh baya yang duduk di depannya itu. Bersamaan dengan Pak Ali membuka matanya, Dika pun memberondong dengan pertanyaan; “Bagaimana Pak, ada, bisa diusir enggak?”

“Sabar Pak Dika, akan saya jawab satu persatu. Pertama rumah Bapak memang ada penghuni gaibnya, wanita muda Belanda yang diculik dan diperkosa oleh tentara Jepang … ia adalah putri dari Pengawas Perkebunan Karet, dan jasadnya dibuang begitu saja di tempat yang sekarang menjadi pekarangan rumah Bapak. Ia sangat berharap dapat dipindahkan di tempat yang layak. Oleh sebab itu, ia selalu menampakkan diri kepada ibu untuk mendapatkan perhatian”, jawab Pak Ali panjang lebar.

Dika dan Pak Ali langsung saja berunding untuk mencari hari dan tempat pemakaman yang tepat. Setelah itu, Pak Ali mempersiapkan segala sesuatunya, sedang Dika menghubungi beberapa TPU. Alhasil, setelah menerangjelaskan duduk persoalannya, akhirnya, hanya satu TPU yang bersedia.

Ajian Pembungkam

Akhirnya, tepat hari Jumat, sejak pagi Pak Ali sudah sibuk menggali tanah di pekarangan rumah Dika. Beberapa tetangga, khususnya ibu-ibu muda dan PRT tampak berkerumun. Mereka asyik berbincang sambil ingin tahu apa yang bakal didapat oleh Pak Ali. Tiba-tiba, Pak Ali pun berkata; “Tolong kain putih dan petinya dibawa kesini”.

Pak Ali langsung menggelar kain putih di sisi kanan galian dan mulai mengambil tanah yang kehitaman dan membentuknya. Ya … ternyata Pak Ali membentuknya sebagaimana sosok jenazah. Lepas itu, Pak Ali lalu memasukkan tanah lain yang bersih ke dalam peti, kemudian, ia memasukkan tanah yang sudah dibentuk seolah jenazah dengan penuh kehati-hatian.

Seletah melantunkan beberapa ayat suci Al Qur’an, Pak Ali memberi tanda kepada yang lain untuk menutup galian tadi, sedang ia dan Dika bersama beberapa orang lainnya membawa peti tadi ke TPU.

Sebelum pukul 10.30 pemakaman kembali sekaligus berbagai doa pun usai. Mereka langsung membersihkan diri dan mengambil wudu untuk bersama-sama mendirikan Salat Jumat di mesjid yang letaknya tak jauh dari TPU. Tak ada yang buka suara, semuanya terdiam dan hanyut dalam pikirannya masing-masing.

Singkat kata, malamnya, Nina bermimpi bertemu dengan sorang gadis “bule” yang cantik dengan wajah sumringah. Sayup-sayup Nina hanya mendengar sosok itu berkata; “Bedankt, je hebt me daar vredig van aard gemaakt”.

Paginya, para tetangga pun berceloteh, mulanya, jarang di antara mereka ada yang berani melewati rumah Dika jika telah lewat pukul 19.00. Tapi semua itu telah berlalu. Kini, rumah Dika dipakai sebagai ajang kumpul para bapak-bapak untuk menghabiskan waktu dengan bermain gaple, catur atau hanya sekadar menghirup kopi panas.

artikel terkait

Artikel Terbaru

ARTIKEL MENARIK LAINNYA

Dendam yang Dibawa Mati

Silang pendapat yang menyebabkan keangkeran jembatan ini masih terus berlanjut sampai sekarang, yang pasti, menjelang petang, tak ada seorang pun ada yang berani melintas...

Iring-iringan Pengantar Jenazah

Suara tahlil dan tahmid serta cahaya benderang yang beberapa malam ini memancar dari rumah dan disusul dengan iring-iringan pengantar jenazah, ternyata merupakan pertanda jika...

Artikel Terpopuler