Pesugihan Alas Bonggan

Menurut para sepuh, Alas Bonggan yang terletak di Blora, tak lain adalah sebuah kadipaten dari sebuah kerajaan besar yang berpusat di Alas Purwo yang mengemban tugas untuk menjaga Alas Ketangga ….
Oleh: Nara Kusuma

 

Neomisteri – Warta berkisah, sejak zaman dahulu, Pulau Jawa memang sudah dianggap sebagai kawasan yang paling angker karena dihuni oleh para makhluk tak kasat mata yang memiliki kesaktian amat luar biasa. Oleh sebab itu, wajar jika Syech Subakir sampai menanam tumbal di beberapa titik pulau ini agar dapat dihuni oleh manusia dan makhluk tak kasat mata sampai sekarang ini.

Tak ada yang bisa menepis, sampai sekarang, hidup dan kehidupan di antara manusia dan makhluk tak kasat mata itu berlangsung beriringan — walau, sesekali terjadi gesekan di antaranya — namun, tak jarang ada pula yang sengaja memanfaatkan hubungan itu untuk kepentingannya sendiri.

Bagi para waskita, hutan (alas-Jawa) dan gunung adalah merupakan tempat bagi para makhluk tak kasat mata untuk meneruskan hidup dan kehidupannya di dunia. Dan salah satunya Alas Bonggan yang terletak di bilangan Blora, Jawa Tengah.

Tempat yang satu ini tergolong menarik untuk disimak, sebagian menyatakan di Alas Bonggan terdapat lorong waktu, sebagian lainnya menyatakan Alas Bonggan adalah merupakan kadipaten yang ramai, megah dan makmur — betapa tidak, keadaan di sana jauh lebih modern ketimbang di dunia nyata — oleh karena itu, tak jarang, ada beberapa gelintir orang yang sengaja datang ke Alas Bonggan untuk bersekutu agar bisa mendapatkan kekayaan di dunia.

Baca: Merinding, Kisah Aneh Tewasnya Pendaki di Gunung Lawu

Cerita ini neomisteri dapatkan dari tetangga pelaku peristiwa yang karena cobaan hidup, ia berpaling dari Allah hanya semata-mata ingin menikmati manisnya madu kekayaan dunia walau hanya sesaat.

Malam itu, seminggu setelah hebohnya Bus Pahala Kencana yang terjebak di Alas Bonggan, Widodo, 40 tahun, menjadi gelisah. Ia meyakini, hutan itu pasti angker dan sangat luar biasa sehingga bukan tidak mungkin dapat menolongnya keluar dari jeratan utang yang kian menghimpit dadanya. Ia sudah malu, alih-alih saudara, para tetangga juga tak mungkin akan membantunya terus menerus.

Setelah tekadnya bulat, berbekal uang hasil penjualan sepeda miliknya, ia pun pamit kepada istri dan dua anaknya untuk mencari pekerjaan di Semarang. Mereka melepas kepergian Widodo dengan perasaan bangga dan harap-harap cemas — bangga karena tanggung jawab Widodo selaku suami dan ayah — harap-harap cemas jika ia tidak segera mendapatkan pekerjaan di rantau orang.

Singkat kata, tanpa penunjuk jalan, Widodo coba menelusuri jalan setapak tempat Bus Pahala Kencana diketemukan. Ia telah bertekad, baru akan pulang setelah apa yang diinginkan dapat tercapai. Malam pertama, tak ada kejadian yang berarti kecuali suara binatang malam dan nyamuk-nyamuk yang mengerumuninya.

Paginya, ia kembali melangkah lebih dalam lagi — malamnya, kembali tak ada kejadian apapun. Namun menginjak rembang petang ketiga, hatinya sontak tercekat, di depannya, tampak suatu kota dengan bangunan megah menjulang tinggi. Sementara mobil, motor dan orang yang berlalu-lalang mengenakan pakaian yang mewah dan serba gemerlapan.

Di tengah-tengah keheranannya, mendadak, ada sebuah mobil mewah berhenti tepat di depannya. Pintu pun terbuka dan terdengar suara lembut; “Ayo ikut … masuk”.

Di dalam mobil, Widodo makin terkejut. Suara yang menyuruhnya ikut ternyata keluar dari mulut seorang wanita paruh baya berwajah cantik yang rasanya pernah dilihat atau dikenalnya tapi entah di mana. Kembali wanita itu berkata; “Apa maumu?”

Tanpa berpikir dua kali, Widodo pun menceritakan segala kesulitannya.

“Baik, akan kupenuhi segala keinginanmu. Tapi, berikanlah kesempatan aku untuk mengasuh istri dan kedua anakmu,” kata perempuan paruh baya itu sambil memberikan sebentuk cincin berhiaskan batu berwarna biru yang berkilau, “nah … sekarang, pulanglah,” pungkasnya sambil memberi isyarat agar Widodo segera turun dari mobilnya.

Begitu menapakkan kaki ke tanah, Widodo hanya tahu ia berada di pinggir jalan yang ramai dilalui kendaraan. Ia berjalan beberapa saat dan tak lama kemudian, ia pun naik Bus ELF ke kampung halamannya yang berada di tepian pantai utara Jawa.

Sepanjang perjalanan, ia hanya tertidur sambil mendekap ranselnya yang ia tahu hanya berisi beberapa potong pakaian, botol air mineral dan beberapa batang rokok.

Setibanya di terminal, ia merasakan ranselnya bertambah berat. Dengan perasaan tak menentu, ia menarik resleting, dan matanya pun sontak nanar. Di dalam ranselnya, tampak gepokan uang ratusan ribu rupiah.

Baca: Gila Akibat Harta Karun Jepang

Dengan perasaan pongah, Widodo mendekati angkot (angkotan kota-red) dan menyebutkan nama tempat dan jumlah uang yang harus dibayar. Tak sampai 30 menit, ia pun tiba di depan gang rumahnya.

Tampak kesibukan yang tak seperti biasanya. Tatkala matanya melihat ada bendera kuning, hatinya langsung saja bergemuruh. Beberapa orang, di antaranya Hardi, sahabatnya sejak kecil langsung saja menghambur dan memeluk dirinya sambil berkata lirih; “Sabar … ya Wid. Semua ini cobaan dari Yang Kuasa”.

Widodo hanya mengangguk. Setibanya di rumah dan ketika beberapa orang menyibak, ia melihat tiga jasad terbujur yang tak lain adalah istri dan kedua anak laki-lakinya. Suara orang mengaji Surah Yassin tak juga membuatnya tersadar. Ia masih belum memahami keadaan. Angannya masih berkelindan dengan gepokan uang ratusan ribu yang ada di dalam ranselnya.

Seiring dengan terdengarnya kalimat; “Salaamun qaulam mir rabbir rahiim,” Widodo merasakan seolah ada petir menggelegar tepat di telinganya. Ia pun limbung selama beberapa saat, tak lama kemudian, air matanya pun mengucur dengan deras.

Sambil memeluk sang sahabat dengan erat, ia pun menceritakan kepergiannya selama beberapa hari yang lalu. Hardi hanya bisa berkata; “Taubatlah kepada Allah … buang apa yang kamu dapat”.

“Lupakan masa lalu, ayo melangkah ke depan dengan iman dan semangat baru,” lanjutnya lagi.

Widodo langsung terkulai dan tak sadarkan diri akibat rasa bersalah yang menderanya. Tapi apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Hardi dengan sigap membopong Widodo ke kamarnya. Setelah itu, ia pun membuang ransel ke lubang septik tank yang terletak di belakang rumah sahabatnya dan kembali ke kamar untuk menemani Widodo.

Widodo baru sadar bersamaan dengan datangnya para keluarga dan tetua kampung usai dari pemakaman — sejak itu, ia lebih banyak diam dengan pandangan kosong.

Baca juga:
Pelet Darah Perawan
Keangkeran Ilmu Batara Karang
Teluh Air Mandi Jenazah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *