Teluh Air Mandi Jenazah

Warung makan yang terletak di sudut jalan dan baru saja dirintis serta mulai mempunyai banyak pelanggan, mendadak, sepi bak kuburan ….
oleh: Ayu K. Purnama

 

Neomisteri – Cerita ini adalah penturan langsung dari Ina (35 tahun) sahabat neomisteri ketika makan siang di salah satu warung soto yang terkenal di bilangan Jakarta Barat. Menurutnya, ia tidak pernah menyangka, ternyata persaingan di dalam usaha kuliner demikian ketat dan teramat menakutkan. Salah langkah, selain bangkrut, kadang ada juga yang gila bahkan sampai kehilangan nyawa.

Peristiwa ini dialami langsung oleh Iwan yang membuka Cafe Z di salah satu ruas jalan alternatif yang ramai di pinggiran Jakarta.

Ketika Wak Harun (kakak dari ibunya-pen) meninggal, keluarga itu sempat mengalami guncangan ekonomi yang luar biasa. Maklum, ketika sakit, Wak Harun harus menguras tabungan bahkan menjual beberapa jenis perhiasan miliknya. Alhasil, ketika ia meninggal, Wak Tari nekat menjadi ART di Hongkong. Sementara Iwan putra semata wayangnya yang kala itu duduk di kelas 11 salah satu SMK dititipkan pada keluarga kami.

Tujuannya satu, agar bisa menabung dan menyekolahkan Iwan sampai ke jenjang yang lebih tinggi lagi. Alasan itu membuat semua keluarga dengan berat hati melepaskan kepergian Wak Tari untuk mengadu nasib di rantau orang.

Ternyata, Iwan pun tidak menyia-nyiakan keinginan ibunya. Ia terus saja belajar, belajar dan belajar untuk mengasah kemampuannya dalam bidang tata boga, sebagaimana sang ibu. Di sekolah, ia tergolong anak yang pandai dan acap membuat teman-temannya kagum karena kebolehannya dalam hal meracik serta menghidangkan suatu masakan dari pelbagai bahan yang biasa menjadi menarik dan mempunyai rasa yang lezat luar biasa.

Oleh sebab itu, tak heran jika Iwan sering mendapatkan pujian baik dari guru maupun teman-temannya. Hal itu terus berlangsung sampai ia duduk di perguruan tinggi.

Seiring dengan perjalanan sang waktu, selain berhasil menabung sisa uang kiriman dari sang ibu ia juga sukses meraih gelar sarjana dari salah satu perguruan tinggi swasta ternama di Jakarta. Karena sejak ditinggal sang ayah ia sudah bertekad ingin berwiraswasta. Alhasil, dari tabungannya ia pun berhasil mengontrak sebidang lahan kosong yang dirasa strategis sebagai Cafe Z. Tempatnya cukup strategis, selain berada di ruas jalan alternatif ia memiliki tempat yang memadai untuk parkir kendaraan. Ditambah, sang pemilik lahan juga menaruh simpati atas tekadnya itu.

Di tengah-tengah pengerjaan pembuatan gubug-gubug untuk tamu dan rumah sedikit besar untuk menyiapkan segala jenis masakan, Iwan memberikan bimbingan kepada beberapa orang tenaga selepas SMK Perhotelan tata cara meracik dan menyajikan makanan.

Sepuluh hari kemudian, ia pun resmi membuka Cafe Z ….

Dewi Fortuna tampaknya begitu dekat dengan dirinya. Buktinya, Cafe Z itu selalu saja ramai didatangi pengunjung. Mereka datang silih berganti. Kadang, ketika malam liburan, ada pula yang datang dengan membawa keluarga atau teman-temannya. Dalam waktu singkat, tak sampai lima bulan, Cafe Z-nya sudah menjadi buah bibir di kalangan remaja atau keluarga muda. Maklum, selain tempatnya bersih dengan makanan yang beragam dan tersaji dengan apik, harganya juga sangat terjangkau ….

Melihat kenyataan itu, sang pemilik lahan yang boleh dikata acap bertandang, mengingatkan Iwan untuk siap-siap menambah karyawannya. Iwan hanya menanggapi dengan senyum sambil berkata; “Doakan Paman Ali, sarannya akan saya pertimbangkan.”

Hingga pada suatu hari, seorang anak mendadak menjerit histeris begitu keluar dari toilet. “Ayah … Ada perempuan berdarah-darah di atas itu,” teriaknya dengan napas memburu sambil menunjuk ke arah ruangan tempat memasak.

loading...

Sontak kehebohan pun terjadi. Dan berangsur, para pelanggan yang biasanya duduk-duduk untuk sekadar melepaskan penat sambil berseloroh dengan teman-temannya langsung beranjak dari kursinya dan pergi. Iwan benar-benar terpukul ….

Dan sejak itu, Cafe Z-nya pun mulai ditinggalkan oleh pelanggannya.

Dua purnama berlalu. Tak ada perubahan, pelanggan praktis hanya satu dua orang saja yang datang.

Iwan mulai dilanda keputusasaan. Di tengah-tengah kegalauan yang mendera, si pemilik lahan yang baru saja kembali dari Belanda untuk menengok anaknya yang tengah menimba ilmu di sana, datang. Seperti biasa, Iwan langsung menemui. Setelah sejenak berbincang, Paman Ali pun bertanya; “Kenapa … kok sepi?”

Iwan pun menceritakan apa yang tengah dialaminya. Sementara, Paman Ali mendengarkan sambil sesekali menghisap cerutunya dalam-dalam dan menghembuskan asapnya ke udara. Harum tembakau pun tercium. Tak lama kemudian, Paman Ali pun berkata; “Sungguh aneh, di zaman yang sudah modern seperti sekarang, ternyata, masih ada orang yang tidak siap untuk bersaing secara sehat.”

“Maksud Paman?” Desak Iwan tak sabar.

Dengan panjang lebar, Paman Ali pun menceritakan bahwa tempat ini sengaja disiram dengan air bekas mandi jenazah oleh orang yang merasa tersaingi dengan usaha yang dirintis oleh Iwan. Biasanya si pelaku akan mencari orang-orang yang matinya dalam keadaan tidak wajar. Misalnya kecelakaan, dibunuh, atau bunuh diri.

“Oleh sebab itu, tidak heran jika anak itu berteriak melihat hantu menyeramkan yang berdarah-darah. Tujuannya, selain menjadi ketakutan untuk datang, bahkan mereka kadang juga melihat Cafe Z ini dalam keadaan tutup dan tempatnya gelap gulita,” lanjutnya lagi.

“Wah kalau begitu saya tutup saja,” gumam Iwan dengan nada putus asa.

“Jangan … Lawan. Kebetulan paman kenal ustadz yang cukup paham dengan dunia gaib,” kata Paman Ali.

“Tapi … Saya sudah habis-habisan Paman. Tak ada lagi yang tersisa kecuali gaji dan sekadar pesangon untuk karyawan,” sahut Iwan dengan berlinang air mata.

“Tenang,” sahut Paman Ali. “Itu semua urusan Paman. Jika kehabisan modal, nanti paman pinjamkan. Yang perlu sekarang ikut paman ke rumah Ustadz Khairul,” lanjutnya lagi sambil menarik tangan Iwan menuju ke mobilnya.

Singkat kata, setelah sejenak berbasa-basi dan saling menanyakan kesehatan dan keluarga Paman Ali, tanpa perlu bercerita, Ustadz Khairul tampaknya sudah mafhum dengan apa yang dialami oleh Iwan. Setelah menyilakan kedua tamunya untuk meminum kopi serta hidangan yang ada, Ustadz Khairul pun masuk ke dalam.

Tepat pukul 23.15 WIB Ustadz Khairul pun keluar. Wajahnya memerah dan badannya dibanjiri keringat. Sementara, di tangannya tampak sebotol air mineral dan garam satu plastik. Setelah menyeka keringat dan duduk, Ustadz Khairul pun menyesap kopinya yang sudah mulai dingin sambil berkata; “Untung, arwah wanita itu hanya meminta dicarikan tempat yang baru. Ia masih ingin menghukum penabraknya yang melarikan diri.”

“Oh …,” hanya itu yang terlontar dari mulut Paman Ali dan Iwan bersamaan.

“Sudahlah, semuanya sudah berlalu. Sekarang, segera kembali ke kedai dan siramkan garam ke empat penjuru serta gunakan air ini untuk mencuci segala perabot yang ada di sana. Termasuk kursi dan meja,” demikian pesan Ustadz Khairul sambil menyerahkan air dan garam kepada Iwan.

“Pesan saya, jangan tinggalkan salat lima waktu, sedekah dan bantulah mereka yang sedang kesusahan,” tambah Ustadz Khairul sambil mengantarkan kemi sampai ke pintu halaman.

Saat itu juga, Iwan meminta agar semua tidak segera pulang. Mereka diminta membantu mengerjakan apa yang dipesankan oileh Ustadz Khairul.

Dan pada malam ketiga, suasana Cafe Z pun pun mulai ramai dan berangsur kembali seperti semula. Tak hanya Iwan, semua karyawan termasuk Paman Ali pun ikut senang. Cerita ini sengaja neomisteri tulis bukan untuk menakut-nakuti, melainkan, agar para pemula yang baru belajar menapaki bisnis dapat waspada.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *